Ultah FSPMIHari ini, 15 tahun yang lalu, sejarah itu dimulai. Serikat baru telah lahir. Kita memberinya nama: Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI).

Jika kalian pernah merasakan bagaimana sakitnya saat melahirkan, pastilah kalian akan menghargai kehidupan. Jika tidak, barangkali hal itu tersebab karena kelainan.

Menghargai kehidupan adalah dengan memastikan bahwa hari ini akan lebih baik dari hari kemarin.

Menghargai kehidupan adalah dengan memperjuangkan agar hari esok menjadi lebih sempurna dari hari yang sekarang: tumbuh dan berkembang.

Kita semua paham, kurun waktu 15 tahun bukanlah rentang yang panjang dalam sejarah kehidupan umat manusia yang konon sudah dimulai dari ratusan abad sebelumnya. Tetapi satu hal yang pasti, dalam kurun waktu 15 tahun itu, banyak hal yang sudah  kita perbuat untuk manusia dan kemanusiaan. Dan meskipun seringkali melakukannya dengan tertatih, dalam tahyun-tahun yang sudah kita lalui itu, kita tak pernah jemu menjadi ‘pembebas buruh yang tertindas’.

Kemenangan demi kemenangan telah kita cicipi manisnya. Ach, rupanya jalan hidup yang kita lalui tidak melulu soal kemenangan. Kekalahan pun pernah kita cicipi pahitnya. Tetapi tidak sampai meratap, bersikap apatis lalu menjadi tukang kritik tanpa melakukan tindakan nyata untuk memperjuangkan perubahan. Berhenti berjuang adalah sikap bodoh yang sempurna. Bagaimana tidak disebut kebodohan, jika secara sadar kita menghentikan harapan?

Perjuangan adalah nafas panjang untuk mewujudkan harapan.

Saya percaya, FSPMI tetaplah akan menjadi FSPMI. Ia bukanlah sosok sakti mandraguna yang bisa merubah carut marutnya hukum di negeri ini hanya dengan merapal mantra. Ia juga tidak bisa menyulap batu kali menjadi permata. Atau merubah situasi hubungan industrial yang pelik ini hanya dengan membalikkan telapak tangan.

FSPMI hanyalah sebuah organisasi serikat pekerja. Dan sebagai organisasi, anggota adalah nyawa yang menggerakkannya. Jika anggotanya memiliki integritas serta moral yang baik, baiklah organisasi ini. Tetapi jika integritas dan komitmen perjuangannya rusak, rusaklah organisasi ini. Mari kita bercermin. Apa kekurangan tubuh rupawan diusianya yang baru menginjak 15-an .

Barangkali kalian pernah mendengar istilah, “hangat-hangat tahi ayam.” Itu adalah gambaran bagi mereka yang hanya memiliki semangat pada awalnya saja. Pun demikian dengan berserikat. Jangan sampai semangat juang yang membara itu hanya ada disaat organisasi ini berusia muda. Pada tahun-tahun mendatang, semangat itu harus terus ditingkatkan. Sehingga kelak, masih akan ada satu generasi yang menulis catatan di website ini: Selamat HUT FSPMI Ke-150.

Tentu pada saat itu kita sudah tiada. Tetapi jejak kita pastilah akan menjelma nada.

Biarlah saya katakan disini. Betapa kita tidak akan pernah merisaukan hari-hari yang sudah terlewati. Biarlah itu menjadi bagian dari sejarah. Ia menjadi guru, pelajaran berharga untuk bergerak maju. Toch kita tidak hidup dimasa lalu. Dan karena itulah kita ingin memastikan roda organisasi ini bergerak kedepan.

Dirgahayu FSPMI. Jaya dan majulah selalu. (Kascey)

Categories: Opini

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *