819193_437686249636447_741436815_oHandoko Wibowo

Ia hanya PNS kecil yang kerja di Percetakan Negara.

Waktu itu hari pertama puasa, di tahun 2008. Setelah gagal di daerah, saya pergi ke Jakarta untuk mendapatkan dokumen sebagi bahan untuk mengajukan gugatan ke pengadilan terhadap perusahaan perkebunan yang sedang berkonflik dangan Omahtani. Dokumen itu berupa foto copy AD/ART Perseroan Terbatas mereka.

Seorang PNS perempuan yang saya kira memiliki jabatan cukup tinggi di kantor itu, menanggapi permohonan saya dengan sinis. Bahkan mengajak saya berdebat. Sementara saya berdebat dengan perempuat itu, ada seorang lelaki sepuh – saya kira sekarang sudah pensiun – tadi menyaksikan perdebatan saya. Lalu dia memberi kode agar saya mengikutinya.

Nggak bakalan dilayani ama dia. Mata duitan…,” bisiknya kepada saya.

Lelaki tua itu membawa saya ke ruang arsip. Sebuah labirin raksasa. Sebuah bangunan besar dengan ratusan ribu akta pendirian Perseroan Terbatas yang tersebar dari huruf depan A s.d Z. Berkali-kali lelaki itu bolak-balik membongkar buku induk. Saya sering salah eja dari nama perusahaan lawan. Dengan tekun dia telusuri dari ribuan berkas disitu, yang sudah ada sejak jaman kolonial.

Saya menunggu dengan gelisah.

Hingga akhirnya saya mendapatkan beberapa dokumen yang saya butuhkan. Saya hanya bayar biaya ganti fotocopy saja. Sewaktu saya sodori uang lelah dia menolak. Katanya, “Ini puasa petama. Ijinkan saya berbuat baik kepada petani bapak di kampung sana!”

Copy itu sakarang jadi dokumen paling berharga di Omahtani.

Sekian bukti bahwa tangan Illahi bermain lewat PNS kecil itu. Yang bahkan seringkali kita menganggapnya tak berarti. (*)

Categories: Opini

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *