1_20
Aliansi Buruh Sumut (ABS) menggelar aksi unjuk rasa untuk menolak PP Pengupahan. | Foto: Willy

Aksi menolak PP Pengupahan dari hari ke hari semakin meluas. Di Sumatera Utara, buruh yang tergabung dalam Aliansi Buruh Sumatera Utara (ABS) juga turun ke jalan untuk menolak PP Pengupahan. Ironisnya, dalam aksi yang dilakukan pada hari Rabu, 4 Nopember 2015, 7 (tujuh) orang ABS dibacok dan dipukuli dengan balok oleh preman yang disinyalir orang bayaran perusahaaan.

Ketujuh korban masing-masing berasal dari Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) sebanyak 6 orang, dan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) sebanyak 1 orang.

Insiden pembacokan dan pemukulan terhadap masa buruh ABS terjadi sekitar pukul 11.00 WIB, tepatnya di Kawasan Industri Kim II Mabar. Saat itu, ratusan buruh hendak melakukan penjemputan massa buruh yang lain untuk bergabung dalam unjuk rasa penolakan PP Pengupahan di kantor Gubernur Sumatera Utara. Ketika massa aksi sedang melakukan penjemputan di PT. BIA, mereka dihadang puluhan orang berpakaian preman dengan dipersenjatai balok, rotan, besi dan kelewang. Tanpa basa basi, puluhan preman yang keluar dari gudang PT. BIA langsung menghajar para buruh.

Ketujuh buruh yang mengalami luka-luka segera dilarikan ke klinik Kasih Esa yang berlokasi di Jalan Payah Rumput sedangkan satu orang yang sempat kritis dilarikan ke RS Mitra Medika.

Saat Kejadian, Polisi Ada di Lokasi

ABS menyesalkan kinerja jajaran Polres Pelabuhan Belawan, yang tidak melakukan tindakan apapun terhadap preman. Padahal, saat kejadian, ada beberapa personil kepolisian yang saat itu ada di lokasi.

Salah satu korban kekerasan, seusai membuat laporan peng
Salah satu korban kekerasan, seusai membuat pengaduan di Polda Sumatera Utara. Foto: Willy

“Kami minta agar Kepolisian Polda Sumatera Utara segera mengusut tuntas dengan menangkap para pelaku pemukulan dan pembacokan para buruh. Tidak hanya itu, ABS juga mengecam kinerja jajaran Polres Pelabuhan Belawan yang terkesan sengaja membiarkan kejadian ini. Padahal pada saat kejadian ada beberapa personil kepolisian baik dari intel dan yang berpakaian dinas ada dilokasi saat kejadian tersebut berlangsung,” kata Kordinator ABS, Nicolas. Oleh karena itu, Nico meminta kepada Kapolda Sumatera Utara agar mencopot Kapolres Pelabuhan Belawan.

Hal senada juga disampaikan Ketua Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (KC FSPMI) Kota Medan, Tony Rickson Silalahi. Tony meminta agar Kapoldasu mengusut tuntas aksi premanisme yang diduga dibiayai oleh pihak perusahaan dipergudangan Paya Rumput.

”Kita juga minta agar para pengusaha yang menyewa preman untuk mukuli buruh juga ditangkap,” lanjutnya.

Malamnya, sekitar pukul 21.00 WIB, didampingi ABS, korban resmi melaporkan tindakan pembacokan terhadap 7 orang buruh peserta aksi unjuk rasa menolak PP Pengupahan. Laporan mereka tercatat dalam laporan polisi LP/1333/XI/2015/SPKT atas nama pelapor korban Yosef Sijabat dan enam rekannya juga menjadi saksi korban.

Di hadapan para wartawan, Sekretaris DPW FSPMI Sumatera Utara Willy Agus Utomo yang mendampingi ketujuh korban usai membuat pengaduan di ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sumut, mengutuk tindakan premanisme yang diduga dilakukan oleh orang suruhan perusahaan tersebut. Willy yang didampingi Ketua SBSI Nicolas, Ketua Sejati Arsula Gultom dan Ketua SBSI Deli Serdang Alex Fau serta para korban . Willy meminta agar Kapolda Sumatera Utara turun tangan menyelesaikan kasus ini. Buruh sudah tidak lagi percaya dengan kinerja Polres Pelabuhan Belawan yang lalai dalam mengamankan aksi unjuk rasa buruh sehingga menyebabkan jatuhnya korban.

“Kita kecewa sekali dengan kinerja Polres Pelabuhan Belawan, aksi ini sudah diketahui mereka, tetapi mereka tidak melakukan pengamanan. Kita minta Kapolda serius usut tuntas kasus pembacokan ini, ” ujarnya.

Willy juga meminta agar pihak kepolisian segera menangkap para pelaku serta membongkar aktor intelektualnya dengan memberi batas waktu 3 kali 24 jam. Apabila pihak kepolisian tidak bisa membongkar kasus ini, maka ABS akan menggalang kekuatan untuk melakukan rangkaian aksi di Mapolda Sumatera Utara.  (Kahar)