Foto bersama seluruh peserta, setelah pelatihan jurnalistik selesai diselenggarakan. | Foto: Iwan Budi Santoso

Foto bersama seluruh peserta, setelah pelatihan jurnalistik selesai diselenggarakan. | Foto: Iwan Budi Santoso

Tanggal 5 hingga 7 November 2014 kemarin, Tim Media FSPMI mengikuti pelatihan jurnalistik untuk aktivis buruh. Pelatihan yang diselenggarakan oleh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) ini tidak hanya diikuti peserta dari FSPMI. Tetapi juga diikuti oleh perwakilan afiliasi KSPI yang lain. Sebut saja, PGRI, FSP Pariwisata, FSP PPMI, FSP ISI, Aspek Indonesia, FSP KEP, dan FSP Farkes Reformasi.

Bertempat di Training Center FSPMI, Cisarua, selama 3 (tiga) hari peserta belajar tentang militansi peliputan (materi disampaikan oleh Baris Silitonga), dasar-dasar Jurnalistik (materi disampaikan oleh Ferry Yunizar), foto jurnalistik (materi disampaikan oleh Maxie Elia Kallangi) dan teknik menulis (materi disampaikan oleh Kahar S. Cahyono).

Selain penyampaian materi, peserta juga membuat rencana tindak lanjut. Mereka berkomitment untuk melakukan pertemuan rutin sebulan sekali, sehingga kedepan akan terbentuk Tim Media di tingkat federasi maupun konfederasi solid.

Yang menarik dari pelatihan ini adalah, hampir seluruh federasi serikat pekerja yang menjadi afiliasi KSPI menyampaikan sudah memiliki website dan akun di jejaring sosial. Bahkan ada yang sudah menerbitkan bulletin, majalah, jurnal, buku, dan sebagainya. Hanya, memang, masih ditemukan banyak kendala yang menyebabkan media milik organisasi itu kurang berkembang. Analisa sementara, kendala tersebut meliputi SDM yang kurang mumpuni di bidang media, peralatan yang seadanya, dan dana yang ala kadarnya. Dalam hal ini, sesama afiliasi KSPI akan saling membantu dan melengkapi. Sehingga kedepan kaum buruh bisa memiliki media yang efektif sebagai alat untuk menyebarkan informasi, pendidikan dan kontrol sosial.

Dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal KSPI Muhamad Rusdi menyampaikan bahwa peran media sangat penting. Apalagi saat ini ada indikasi, media mainstream tidak berpihak kepada perjuangan kaum buruh. Perjuangan tentang upah, misalnya, media mainstream justru lebih sering memberitakan hal-hal yang tidak menjadi substansi dari tuntutan. Oleh karena itu, serikat buruh perlu membekali anggotanya tentang pemahaman media dan jurnalistik, sehingga mereka bisa memanfaatkan media yang ada untuk menyampaikan gagasan dan aspirasinya. (*)

 

Categories: Pendidikan