Bandung,FSPMI-Ada hikmah yang begitu besar, dulu sebelum bergabung dengan FSPMI, jangankan mengerti tentang masalah Ketenagakerjaan, tentang serikat pekerja/serikat buruh saja kami tidak pernah tahu.

Apa itu serikat pekerja? jawaban dalam benak pikiran kami pada waktu itu, serikat pekerja hanyalah tukang demo dan memacetkan jalan raya saja, bahkan saya pernah nyiyir akan hal itu, tak terpikirkan, kalau mereka itu sedang memperjuangakan hak-hak kami.

Sebagai pekerja/buruh, tidak terasa, setelah di hitung-hitung masa kerja saya sudah mencapai 9 tahun bekerja di salah satu perusahaan besar dan bonavit di salah satu Kawasan Industri Kabupaten Bandung Barat. Sejak pertama kali masuk ke perusahaan tersebut, status kerja saya waktu itu adalah Pekerja Harian Lepas (PHL), dengan mendapatkan upah jauh lebih kecil di bawah ketentuan Upah Minimun Kabupaten/Kota. padahal, saya di pekerjakan di bagian inti produksi atau jantungnya perusahaan, dengan total jam kerja sama dengan karyawan yang bukan PHL, namun pada waktu itu saya terima saja, sebab saya belum tahu tentang masalah ketenagakerjaan, tau nya hanya kerja dan di beri upah, “itu saja.

Singkat cerita, selama tiga tahun berturut-turut, pada awal bulan di tahun ke 4 saya bekerja di situ, saya di panggil oleh HRD, kemudian saya di sodorkan secarik kertas, dalam kertas tersebut nampak terlihat tulisan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), lalu HRD itu bilang “selamat kamu sekrang sudah di kontrak, silahkan tanda tangan dan besok harus bawa lamaran lagi” waktu itu saya tidak tahu apa-apa dan nurut saja, dalam pikiran saya, yang penting tidak di pecat dari perusahaan pada waktu itu, selama 2 tahun perpanjangan kontrak, saya begitu menikmati saat itu, bahkan hampir tidak kepikiran atau menyadari bahwa di duga perusahaan telah melakukan banyak pelanggaran pada waktu itu, tapi saya cuek saja yang penting kerja dan mendapat upah/gaji, ketika masa kontrak 2 tahun tersebut sudah habis dan hampir selama 6 bulan lewat, lantas di situ saya berfikir, apakah saya sudah menjadi karyawan tetap? karena banyak rekan kerja saya juga yang berucap seperti itu, pilihan saya pada waktu itu “ah bawa santai saja mungkin ia sudah jadi karyawan tetap”.

Bulan terus bergati, sampai pada akhirnya, tepat pada Bulan November Tahun 2015, alih-alih di prediksi akan di angkat menjadi karyawan tetap atau ada perubahan status dari Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), menjadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT)/karyawan tetap, eh malah lebih parah lagi, saya dan rekan-rekan kerja yang lain malah di alihkan ke status Outsourcing.

Saking bodohnya pada saat itu, kami memilih terima saja, karena waktu itu jika tidak menerima, maka di anggap mengundurkan diri dari perusahaan, sehingga akhirnya kita menerima saja tanpa ada perdebatan masalah hukum ketenagakerjaan, karna kami prediksi HRD adalah orang yang mengerti atau paham hukum, bahkan kami klaim waktu itu, kalau beliau lebih tahu dan paham tentang aturan hukum ketenagakerjaan.

Seiring waktu yang terus berjalan, memasuki akhir Tahun 2015, seperti biasa ritual tahunan perpanjangan kontrak bersama dengan status Outsorcing setahun ke depan kami tanda tangan kembali, hati dan pikiran semakin tidak karuan, sebab ada informasi di perusahaan kami akan ada pemutihan karyawan. Jelas, kami prediksi yang akan pertama kali di tendang (ter-PHK) pasti karyawan Outsorcing terlebih dahulu, karna katanya kalau karyawan Outsorcing jika di keluarkan dari perusahaan pasti tidak akan mendapatkan pesangon.

Hal itu terbukti pada akhir Tahun 2016 yang lalu, kurang lebih sebanyak 50 orang rekan kerja kami di tendang (ter-PHK) tanpa mendapatkan apapun, hanya menerima sisa upah/gaji saja, pikiran dan hati semakin kacau, seperti akan menjemput ajal di esok hari, bulan terus berganti dan rekan kerja pun satu persatu kembali di pecat (ter-PHK) oleh perusahaan, tanpa mendapatkan apa-apa, pada saat itu hati dan pikiran semakin gelisah, kemudian saya berfikir bagaimana caranya supaya tidak di pecat sama perusahaan, sebab jika saya di pecat (ter-PHK), maka anak istri mau di beri nafkah dari mana, karna terus terang pada waktu itu pikiran masih sempit, saking bingung nya mau kerja apa kalau misalkan tetbukti saya di pecat dari perusahaan tersebut, soalnya pada akhir Tahun 2016, saya sudah tidak menandatangi kontrak kerja bersama dengan perusahaan, meskipun dengan status Ousorcing yang ada di dalam perusahaan pada waktu itu, ya sudah pasrah saja tinggal menunggu waktu untuk di eksekusi oleh perusahaan.

Tepatnya pada bulan ke 6 Tahun 2017, ada kurang lebih 3 orang rekan kerja, yang satu karyawan tetap dan yang dua lagi sama seperti saya karyawan Outsorcing, mereka datang menghampiri, lalu mereka berkata dengan bernada ajakan, “lur mumpung masih ada waktu bagaimana kalo kita bentuk serikat aja, dia bilang begitu, ada saudara saya yang masuk ke serikat itu dia di perjuangkan habis-habisan, kalau ente bersedia yuk kita tanya kerumahnya” waktu itu saya masih awam tentang serikat pekerja, bahkan tidak tahu sama sekali, apa itu serikat pekerja.

Tanpa berpikir panjang, karna saya penasaran, saya pun mengiakannya, singkat cerita kami ber-empat mendatangi saudara kawan saya tersebut, di sana terjadi perbincangan hingga tanya jawab permasalahan yang sedang kami hadapi, dari situlah mulai sedikit timbul rasa semngat ingin tahu, kemudian beliau pun mengarahkan kami untuk bertemu dengan seseorang yang biasa menurut saya waktu itu, cenderung cuek dan tidak terlalu menanggapi kami, saya masih ingat kata-kata beliau waktu pertama kali ingin masuk FSPMI “ajak dulu kawan-kawan mu rekrut sebanyak banyaknya, baru panggil saya lagi” sedikit cuek kira-kira seperti itu. awal mula semngat itu muncul, walaupun sedikit ragu tapi kami ingin merubah nasib kami sendiri di perusahaan tempat kami bekerja, sejak itulah kami mulai bergeriliya, bergerak dari departemen ke departemen untuk mencoba menyadarkan mereka, tapi kebanyakan dari mereka pernah kapok karna waktu itu pernah ada serikat pekrja yang tidak jelas masuk perusahaan dan akhirnya di berhanguskan oleh perusahaan, tapi hal itu tak menyurutkan semngat kami untuk terus mengajak teman kami agar mau menjadi anggota serikat pekerja.

Al hasil ada kurang lebih 59 orang yang ingin berjuang bersama, kemudian kami terus lakukan konsolidasi secara masif, seperti tak kenal lelah, walaupun sering dapat marah sama yang di rumah,tapi semangat kami tak pernah goyah.

Disini awal mula terbentuk nya PUK SPL-FSPMI PT. Namasindo Plas, yang di dirikan tepat pada tanggal 17 November 2017 silam, kelahirannya alhamdulillah mampu menjadi motor pengerak perjuangan di intern perusahaan dan contoh bagi PUK-PUK lain yang ada di Bandung Barat.

Dari cerita ini kita dapat belajar bagaimana kita tahu isi rumah tersebut, kalau kita tidak ada di dalam nya, maka jangan pernah menilai apapun dari sisi pandang luarnya saja, Alloh SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum, tanpa kaum itu sendiri yang merubahnya, hal itu kami yakini dengan ikhtiar, cara dan upaya kami, yang memutuskan untuk berjuang bersama-sama dengan rasa ihklas, maka InsyaAlloh hasilnya pun akan memuaskan, hal itu terbukti sekrang anggota kami sudah mencapai angka 250 orang lebih dan itu sudah menjadi karyawan tetap (PKWTT) semua, ini adalah suatu kebanggaan tersendiri buat kami semua yang terpenting jangan pernah berhenti untuk belajar dan terus belajar. Bergeraklah jadilah contoh buat orang lain

Penulis Oding Maung
Editor : Drey