Minggu Saragih: “Kami Tidak Akan Pernah Berhenti Dalam Berjuang”

Setelah kemarin membahas perkembangan FSPMI di Sumatera Utara, sekarang mari kita bicara tentang keberhasilan FSPMI Sumatera Utara dalam melakukan pembelaan terhadap anggotanya.

Beberapa waktu lalu, hampir tidak ada seorang buruh yang memiliki status kerja outsourcing membayangkan satu saat nanti dirinya akan menjadi karyawan tetap. Sebaliknya, mereka selalu dihantui oleh mimpi seperti ini:  Kontraknya diputus ditengah jalan, tanpa mendapatkan konpensasi yang sepadan dengan pengabdian yang sudah mereka lakukan. Sudah begitu, mereka mendapatkan dirinya kesulitan mendapatkan pekerjaan, karena usia yang sudah tidak lagi muda.

Di sela-sela diskusi dengan PUK FSPMI PT. Green Continental Furniture. Patumbak, Deeli Serdang. Kita berhasil memperjuangkan anggota FSPMI di perusahaan ini menjadi karyawan tetap.

Di sela-sela diskusi dengan PUK FSPMI PT. Green Continental Furniture. Patumbak, Deeli Serdang. Kita berhasil memperjuangkan anggota FSPMI di perusahaan ini menjadi karyawan tetap.

Akan tetapi, kami berhasil membangunkan mereka dari mimpi buruk yang menghantuinya selama ini. Bagaimana tidak, menjadi karyawan tetap bukan lagi menjadi harapan bagi mereka. Itu adalah kenyataan.

Ini bukan sekedar bualan belaka. setidaknya kami  sudah membuktikannya di PUK SPL FSPMI PT. Baja Raya patumbak, Deli Serdang. Seluruh anggota FSPMI di perusahaan ini sudah menjadi karyawan tetap. Hal yang sama terjadi di PUK SPAI FSPMI PT. Green Cintinental, dimana anggota FSPMI sudah menjadi karyawan tetap. Tidak hanya itu, 10 orang pekerja yang di PHK juga sudah dipekerjakan kembali.

Saat Musnik di PUK SPAI FSPMI PT. Delta Atlantik Indah. Tanjung Morawa, Deli Serdang.  Tanggal 17 mei 2013

Saat Musnik di PUK SPAI FSPMI PT. Delta Atlantik Indah. Tanjung Morawa, Deli Serdang. Tanggal 17 mei 2013

Kabar baik juga datang dari PUK SPAI FSPMI PT. Delta Atlantik. Dimana 22 orang anggota FSPMI juga sudah diangkat menjadi karyawan tetap. Capaian-capaian yang  sudah kami sebutkan di atas, tentu saja membuat kami semakin bersemangat dalam melakukan kerja-kerja pembebasan. Membuat kami semakin percaya, jika kita terus bergerak dan berjuang,  keadilan dan kemuliaan bagi kaum buruh dan rakyat Indonesia bisa didapatkan.

Kami juga berhasil memperjuangkan upah kawan-kawan di PT. Dirvi Mas yang semula hanya sebesar Rp. 1,1 juta menjadi  Rp. 1,5 juta. Perusahaan juga memenuhi hak-hak normatif lainnya. Pekerja di perusahaan ini, bahkan diperbolehkan pengusahanya untuk menjual sepatu yang diproduksi perusahaan dengan harga murah. Tentu saja, selisih harga yang didapat sangat menguntungkan pekerja.

Saat berdiskusi dengan PUK SPAI FSPMI PT. Asia Sakti.

Saat berdiskusi dengan PUK SPAI FSPMI PT. Asia Sakti.

Hal lain yang berhasil kami perjuangkan adalah, terkait dengan keberadaan FSPMI di PT. Lonsum. Awalnya kehadiran FSPMI tidak diterima oleh perusahaan. Mereka melakukan intimidasi dan mutasi. Bahkan ada yang di PHK. Akhirnya kami melaporkan tindakan menghalang-halangi kebebasan berserikat ke Polda Sumut. Tidak cukup dengan itu, kami juga melakukan aksi ke Kantor PT. Lonsum di Medan. Hasilnya, pengusaha mengijinkan FSPMI ada di perusahaan perkebunan itu, dan 3 orang anggota dan pengurus FSPMI yang di PHK dipekerjakan kembali.

Dan masih banyak lagi, kasus-kasus di tingkat perusahaan yang berhasil kami menangkan. Permasalahan pasti ada. Kesulitan pasti menghadang. Akan tetapi, kami tidak akan pernah berhenti untuk memperjuangkan agar hak-hak kami sebagai buruh bisa kita dapatkan.

* * *

969674_4492593173416_1832262051_nSelain di tingkat pabrik, FSPMI Sumatera Utara juga berjuang di tingkat publik.

Kami juga berhasil menggalang aliansi untuk mengawal disahkannya UU No. 24 Tahun 2011. Aksi-aksi yang kami lakukan bersama dengan kawan-kawan KAJS Sumatera Utara ke DPRD  Sumatera Utara dan Kantor DPRD Sumatera Utara mencapai 2.000  hingga 7.000 orang. Untuk ukuran sebuah gerakan serikat buruh di Sumatera Utara, jumlah itu sudah merupakan aksi yang relatif besar.

Dalam perjuangan upah di Tahun 2012, FSPMI  Sumatera Utara juga bergabung dengan MPBI Sumatera Utara. Dalam perjuangan itu, kami berhasil menaikkan UMK Medan dari Rp. 1.285.000 menjadi Rp. 1.6500.000. UMK Deli Serdang dari Rp. 1.290.000 menjadi Rp. 1.600.000; dan UMP Sumatera Utara dari Rp. 1.137.000 menjadi Rp. 1.375.000.  Saat itu, anggota FSPMI Sumatera Utara kurang dari 1.000 orang. Akan tetapi, kami berhasil membangun kesadaran bersama untuk bergerak, agar upah kenaikan upah menjadi siqnifikan.

Saya tahu, dalam perjuangan ini, tak sedikit tantangan. Juga cercaan. Tetapi kami tidak perdulikan semua itu. Bagi kami, asalkan  kaum buruh bisa menikmati hasil dari perjuangan yang kami lakukan, itu sudah lebih dari cukup.

Dalam hati, sering saya berjanji dalam diri sendiri. Bahwa saya akan terus berjuang dan bergerak tanpa mengenal kata henti, sepanjang kaum buruh masih tertindas dan hak-haknya diabaikan oleh pengusaha dan pemerintah.

Minggu Saragih: Mengembangkan FSPMI di Sumatera Utara

Saat itu bulan Mei 2010.

Saya menghadiri Seminar dan Sosialisasi Jaminan Sosial di Hotel Dhaksina, Medan. Disela-sela kegiatan, saya berkenalan dengan Mbak Nani, Bung Syawal, dan Bung Baris Silitonga. Dari mereka bertiga, akhirnya saya bisa mengenal FSPMI lebih dalam lagi.

Jauh sebelumnya, sebenarnya saya sudah mengenal FSPMI melaui beberapa media.  Saya juga sempat mengenal FSPMI dari Arya, teman saya. Saya dan Arya, beberapa kali sempat berdiskusi tentang perkembangan FSPMI di Batam, Jawa Timur, Bekasi, Tangerang, dsb. Sebagai orang luar, saya melihat FSPMI merupakan serikat pekerja tingkat nasional yang kuat, mandiri dan konsisten dalam perjuangan kelas pekerja di Indonesia.

Pertemuan saya dengan kawan-kawan FSPMI di Hotel Dhaksina,  membuat saya gelisah. Ada keinginan yang kuat dalam diri saya untuk bergabung dengan FSPMI. Sementara, pada saat yang sama, saya masih menjabat sebagai Ketua Umum DPP Serikat Buruh Merdeka Indoesia. Sebuah serikat pekerja lokal, di Medan.

Saya dan beberapa anggota FSPMI Sumut. (Foto: Fb Willy)

Saya dan beberapa anggota FSPMI Sumut. (Foto: Fb Willy)


Namun, keinginan untuk berjuang dan bergerak bersama secara nasional, membuat saya sangat yakin untuk bergabung dengan FSPMI. Apalagi, sebenarnya, sudah sejak lama saua memiliki keinginan untuk bergabung dalam gerakan serikat buruh yang kuat dan mandiri. Berjuang dengan konsisten dan militan, sehingga ada manfaat yang nyata yang bisa dirasakan oleh anggota.

Hanya saja, FSPMI belum ada di Sumatera Utara. Jika kemudian saya memutuskan bergabung dengan organisasi ini, maka sejarah akan mencatat, bahwa inilah untuk pertamakalinya FSPMI mengepakkan sayapnya di SUMUT.

Saya terus membangun komunikasi dengan Mbak Nani, dari DPP FSPMI.

Hingga akhirnya, pada bulan Agustus 2010, saya diundang untuk berkunjung ke DPP FSPMI, di Jakarta Timur. Bersama dengan sahabat saya, Willy, kami berangkat ke Jakarta. Sebelum  dipertemukan dengan bung Said Iqbal Presiden FSPMI,  kami berdua diajak berkunjung ke PT. Kymko. Dimana pada saat itu, kawan-kawan di Kymko sedang memperjuangkan hak-haknya. Baru keesokan harinya, kami dipertemukan dengan Presiden FSPMI di sebuah tempat, di Cikarang.

Dalam pertemuan itulah, saya menyampaikan niat saya kepada bung Iqbal untuk bergabung dengan FSPMI. Setelah pertemuan itu, kami ke Sekretariat DPP FSPMI. Disana kami ditemui oleh Mbak Nani, Bung Syawal, dan Bung Yadun. Dalam pertemuan itu kami sepakat untuk membentuk Task Force FSPMI Sumatera Utara. Saya sebagai Ketua, dan Willy Agus Utomo sebagai Sekretaris, ditambah seorang anggota, Tony Rikson Silalahi.

Task Force yang dibentuk, diberikan waktu hingga bulan Desember 2010 untuk membentuk komposisi kepengurusan DPW FSPMI Provinsi Sumatera Utara.  Setelah SK Task Force berakhir pada bulan Desember 2010, di bulan Januari 2011, DPP FSPMI kembali mengeluarkan SK Task Force FSPMI SUMUT  yang kedua, dengan masa bhakti dari bulan Januari s/d Juni 2011.

Sejak adanya Task Force FSPMI SUMUT, kami sudah mulai aktif dalam kerja-kerja jaringan. Khususnya di dalam KAJS Sumater Utara dan aksi-aksi serikat pekerja di Sumatera Utara dengan mengatasnamakan FSPMI SUMUT.

Anggota FSPMI Sumatera Utara. Sosok bersahaja yang  memiliki semangat yang tinggi untuk berjuang.

Anggota FSPMI Sumatera Utara. Sosok bersahaja yang memiliki semangat yang tinggi untuk berjuang.

SK Defenitif DPW FSPMI SUMUT di keluarkan oleh DPP FSPMI pada tanggal 22 Juni 2011, dan berlaku hingga Juni 2012. Saya kembali dipercaya sebagai Ketua, Willy sebagai Sekretaris. Ditambah Wakil Ketua, Wakil Sekretaris dan Bendahara.

Kemudian pada bulan Juni 2012, DPP FSPMI kembali mengeluarkan SK Definitive dengan komposisi kepengurusa, Minggu Saragih (saya sendiri) sebagai Ketua dan Willy Agus Utomo sebagai Sekretaris, dengan periode kepengurusan dari tahun 2012 s.d Tahun 2016.

Saya akan menceritakan perkembangan FSPMI di Sumatera Utara, hingga saat ini.

Kabupaten Deli Serdang

Anggota FSPMI Sumatera Utara yang pertama adalah PUK SPAI FSPMI PT. Panji Wira Surya Mandiri, berada di Deli Serdang, yang  tercatat di Disnaker Kab. Deli Serdang pada bulan Januari 2012 dengan jumlah anggota 55 orang.

Disusul kemudian PUK SPAI FSPMI PT. Inkalko Angung Mulia,  PUK SPAI FSPMI PT. Masablok, PUK SPAI FSPMI PT. Samkarya Abadi (113 orang anggota), PUK SPL FSPMI PT. Antara Kusuma, PUK SPAI FSPMI PT. Green Continental Furniture (100 orang anggota), PUK SPAI FSPMI PT. Girvi Mas (103 orang anggota),PUK SPAI FSPMI PT. Delta Atlantik (63 orang anggota), PUK SPL-FSPMI PT. Asia Raya Foundry (100 orang anggota), PUK SPL FSPMI PT. Baja Raya (40 orang anggota), PUK SPAI FSPMI PT. Artha Global (30 orang anggota), PUK SPAI FSPMI PT. Maju Lestari Plastic (25 orang anggota), PUK SPAMK FSPMI PT. Bintang Sejahtera (25 orang anggota), PUK SPAMK FSPMI PT. Persahabatan (17 orang anggota).

Diluar yang saya sebutkan di atas, saat ini ada beberapa pekerja dari berbagai perusahaan lain yang ingin  bergabung dengan FSPMI. Misalnya kawan-kawan dari PT. Universal Gloves dan PT. Smart Gloves.

 

Kota Medan

Anggota FSPMI di Kota Medan antara lain: PUK SPAI FSPMI PT.  Asia Sakti Wahid Food (350 orang anggota); PUK SPAI FSPMI PT. Darmatama Indonesia; PUK SPAMK FSPMI PT. Jaya Baru Enginering.

 

Kabupaten Serdang Bedagai

Selain di Kab. Deli Sedang dan Kota Medan, FSPMI jugas sudah berkembang di Kab. Serdang Bedagai. Di Serdang Bedagai, kami berhasil membentuk beberapa PUK, yang melputi:  PUK SPAI FSPMI PT. PP. LONSUM Tbk (40 orang anggota); PUK SPAI FSPMI PT. SIDOJADI (11 orang anggota); dan PUK SPAI FSPMI PT. SUCOFINDO Tbk (25 orang anggota).

Tidak berhenti sampai disitu, kami juga membentuk Task Force Konsulat Cabang FSPMI Kota Siantar – Simalungun. Kami sangat yakin, FSPMI akan berkembang pesat di Sumatera Utara. Menjadikan daerah ini sebagai pusat gerakan serikat buruh, di pulau Sumatera. Semoga…

 

| Tulisan ini dibuat berdasarkan hasil wawancara tertulis melalui media online dengan Minggu Saragih

Kado Untuk Iqbal (3)

Oleh: Obon Tabroni *)

Konflik..

Obon tabroni saat aksi menolak BBM di Ejip ( foto : Herfin )

Obon tabroni saat aksi menolak Kenaikan BBM di Ejip ( foto : Herfin )

Konflik adalah bagian dari keseharian kita. Konflik ada disekeliling kita dan konflik tidak mungkin kita hindari. Misal, konflik antar pengurus, konflik antar anggota, konflik antar anggota dan PUK, konflik antar PUK dan PC, konflik antar PC dan PP atau DPP, konflik antar Sektor, konflik antar Garmet dan PC, penyebabnya pasti beragam. Disini saya tidak membahas konflik kita dengan pengusaha, tapi lebih tentang konflik internal organisasi.

Penyebab konflik sering terjadi karena hal sepele. Misal tentang cara pandang yang berbeda sehingga sulit untuk menyatakan mana yang salah dan mana yang benar. Contohnya konflik tentang ditolaknya salah satu PUK SPAI FSPMI oleh DPP FSPMI, saya pastikan saya yang benar, demikian pun bung Said Iqbal (Presiden FSPMI #red) dengan segala argumennya juga merasa benar. Atau bila dibalik dari sudut pandang berbeda, saya yang salah (karena sempit melihat dari sudut pandang sektoral – egosentris, sedangkan Bung Said Iqbal benar karena melihat hal yang lebih luas tentang bagaimana menyatukan KSPI supaya tidak berantakan). Sebaliknya, Bung Said Iqbal bisa salah besar, hanya demi menginginkan terciptanya kerukunan dan kebersamaan dalam tubuh KSPI maka Undang-undang 13/2003 dan undang-undang 21/2000 di tabrak, bahkan AD/ART FSPMI & SPAI FSPMI pun diabaikan.

Situasinya bisa dibuat lebih ekstrim lagi. Kumpulkan saja seluruh ketua PC SPAI FSPMI se-Indonesia dan sampaikan bahwa presiden FSPMI telah mengintervensi kebijakan SPAI FSPMI, Presiden FSPMI telah abuse of power, presiden FSPMI telah… telah… dan telah… Bila sudah terjadi maka tak perlu dikomporin dan dikipas-kipasin lagi, tak perlu diberi macam-macam bumbu gosip, pastinya isunya akan membesar dan terus membesar. Dan Bung Said Iqbal pun pasti akan membalas dengan mengundang semua pengurus DPP FSPMI sambil menyampaikan fakta bla.. bla… bla… Dan bisa dipastikan sektor SPAMK, SPL dan SPEE akan berkesimpulan bahwa SPAI FSPMI arogan lah, tak tahu diri lah, anak baru kemaren sore udah belagu lah dan bla.. bla.. bla.. Akhirnya konflik yang awalnya hanya melibatkan saya dengan Presiden FSPMI membesar menjadi konflik antar sektor dengan Federasi yang turut pula menyeret sektor-sektor lainnya. Lantas siapa yang diuntungkan? Dan apa manfaatnya?

Konflik upah di Bekasi bisa dibuat lebih hebat lagi. Saya punya notulen hasil rapat KC dan PC SPA FSPMI Bekasi tentang target upah bekasi 2013, upah bekasi harus diatas Rp 2 jt plus, sementara ada sektor baru SPAI FSPMI yang harus juga diakomodir upahnya. Dan saya juga punya data upah wilayah lain yang dijadikan rekomendasi dalam mengambil keputusan. Intinya semua target tercapai sesuai target & kesepakatan bersama. Saya pastikan juga tidak ada pelanggaran atas mekanisme internal organisasi yang di buat oleh PC SPA FSPMI Bekasi. Bila ada komplain dari DPP FSPMI, tinggal undang semua pengurus PC SPA FSPMI Bekasi, lantas adakan rapat dan nyatakan sikap bla… bla… bla… Setelah itu bisa dipastikan Bung Said Iqbal pun langsung beraksi. Dengan segudang argumen yang kuat pasti punya alasan untuk memutuskan bla… bla… bla… dalam rapat DPP. Ujungnya tentu terjadi konflik besar antara FSPMI Bekasi dengan DPP FSPMI. Lagi-lagi siapa yang diuntungkan?

Begitupun dengan masalah Pilgub Jabar yang lalu, bisa juga dibuat lebih dasyat lagi konfliknya karena adanya keterlibatan unsur di luar organisasi yang juga ikut bermain (parpol dan simpatisan masing-masing kandidat). Lantas ketika konflik menjadi bagian dari keseharian kita, ketika konflik mengelilingi kita, bagaimana seharusnya kita menangani konflik?.

Biasanya ketika muncul konflik di internal organisasi kita langsung buka kitab aturan main organisasi (AD/ART atau Peraturan Organisasi – PO). Namun apakah hal itu menjamin selesainya konflik?. Jawabnya tidak!. Karena AD/ART dan PO FSPMI dan SPA FSPMI tidak mengatur hal yang teknis. Sering juga konflik diselesaikan di dalam rapat pengurus, namun dengan suasana hati yang tidak nyaman, dongkol dan rasa saling curiga atau bahkan ada yang saling pukul. Sesekali juga penyelesaian konflik diserahkan ke Perangkat Organisasi yang lebih tinggi?. Namun, akhirnya menjadi sulit juga karena kerap Perangkat Organisasi yang lebih tinggi tidak begitu memahami kearifan lokal di wilayah setempat (situasi dan faktor kebiasaan di masing-masing PUK termasuk karakter para personal pengurus yang bersangkutan). Lantas harus bagaimana?

Bung Said Iqbal, Bung Obon saat santunan anak yatim forum Ejip ( foto : Herfin)

Bung Said Iqbal, Bung Obon saat santunan anak yatim forum Ejip ( foto : Herfin)

Banyak yang bilang bahwa kunci sukses penyelesaian konflik adalah komunikasi. lantas model komunikasi yang bagaimana yang sanggup menyelesaikan konflik?. Prinsipnya saya paling tidak mau ada atau terlibat dengan sebuah konflik (disini saya tidak butuh penilaian apakah yang saya lakukan ini benar atau salah). Karena buat apa hidup yang singkat ini hanya diisi dengan hati yang tidak nyaman, diselimuti perasaan was-was, selalu curiga, selalu mengumpat, dan lain-lain. Karena hakikat mengelola eksternal dan internal organisasi saja sudah banyak masalah. Bila yang dicari hanya pembenaran saja, maka niscaya musuh akan terus bertambah.

Cerita tentang pengalaman saya dalam mengelola konflik; Selama lebih dari 15 tahun kerja di Panasonic dimana 10 tahun diantaranya menjabat ketua PC SPEE FSPMI di Bekasi, disitu saya tidak pernah terlibat konflik dengan sesama pengurus PC termasuk PUK-PUK SPEE FSPMI saat itu. Dan selama 3 tahun jadi ketua DPW FSPMI Jabar, hubungan saya dengan PC SPA FSPMI dan KC FSPMI se Jabar pun baik-baik saja hingga sekarang. Bahkan lebih dari 8 tahun jadi Ketua KC FSPMI Bekasi dengan anggota yang sangat beragam pun biasa aja. Komunikasi dengan semua Ketua dan pengurus PC SPA FSPMI di Bekasi pun berjalan relatif lancar. Saat didaulat menjadi Ketua Umum SPAI FSPMI pun bisa tertib dan terkendali. Apalagi hubungan dengan kawan-kawan Garda Metal yang katanya keras kepala, saat ini pun masih terjalin mesra. Hidup itu nikmat kalau kita jalani tanpa beban. Kemana pun saya datang ke PUK SPA FSPMI yang ada di bekasi, atau ke main ke PC SPA FSPMI di wilayah lain di Indonesia tidak pernah ada beban.

Ketika kita terlanjur masuk dalam pusaran konflik, terutama konflik internal organisasi yang melibatkan sesama fungsionaris, misalnya; konflik sesama pengurus organisasi, atau konflik antara Ketua dengan anggota kita, atau konflik antar tingkatan yang berbeda di Organisasi, maka berpikirlah atau rasakanlah lebih jauh seolah kita adalah lawan konflik tersebut dengan peran dan tanggung jawab yang berbeda, yang tentunya berbeda cara pandangnya. Dan jangan pernah kita hindari konflik itu tapi selesaikan dengan segera. Karena semakin lama konflik berjalan maka akan semakin rumit dan semakin banyak orang yang akan terlibat. Apalagi kalau sengaja kita libatkan orang lain untuk mencari pembenaran, bahkan “ngember” di facebook dan kipas-kipas sambil bumbuin gosip biar mateng (menulis di media-media sosial untuk mencari pembenaran #red) akan membuat konflik semakin besar.

Lebih penting kita mempersempit area konflik ketimbang terus mencari-cari pembenaran. Entah objeknya atau orang-orang yang terlibat didalam konflik. Janganlah kita berebut kebenaran karena pasti semuanya merasa benar. Kita akan terlihat bijak kalau saling berebut kesalahan. Dan pastinya lebih nyaman menyelesaikan konflik bukan di rapat formal yang resmi dan kaku. Tetapi kita bicara dari hati ke hati dalam suasana dan tempat yang jauh dari kesan formal dan kaku. Sekali lagi hindari orang lain yang tidak ada korelasinya dengan konflik.

Lebih banyak penyebab konflik disebabkan oleh hal-hal yang bersifat teknis yang kadang tujuannya pun sama. Misalnya, seorang Ketua PUK lebih memilih cara penyelesaian masalah dengan model dialog, apakah itu harus kita persalahkan?. Atau pengurus lain yang memilih cara untuk menyelesaikan masalah lewat mekanisme hukum, apakah itu keliru?. Lantas ada anggota yang menganggap bahwa hanya aksi besarlah yang merupakan jalan satu-satunya dalam menyelesaikan masalah, apakah itu juga melenceng dari koridor kita?.

Toh semua cara tujuannya pasti sama yaitu untuk memperbaiki taraf kehidupan buruh. Tinggal bagaimana analisa yang dipakai untuk mencari resiko yang terkecil dan tingkat keberhasilan yang terbesar. Dan ketika kita harus melibatkan orang lain, maka pastikan kita pun memberikan info yang jujur, objektif & independen. Dan pastikan pula orang yang kita mintakan bantuannya bukan bagian dari konflik tersebut. Kadang juga bila anda punya kewenangan khusus, sementara mekanisme diplomatis, kompromis, persuasif, preventif dan pre-emtif sudah dilakukan, maka tidak ada salahnya juga anda pakai tangan besi untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Terpenting dari semua itu adalah kembali ke diri kita, ke hati kita, ke niat kita. Karena yang di cari dalam hidup tentunya kenyamanan. Uang memang bisa membuat orang mudah mendapatkan sesuatu tapi tidak akan bisa membeli kenyamanan. Seorang pelukis begitu nyaman ketika sedang menyelesaikan lukisannya tentu dengan hatinya. Seorang sufi merasa nyaman ketika beribadah. Seorang olahragawan, seorang penyanyi akan merasa nyaman ketika melakukan apa yang ia sukai tentunya dengan segenap kecintaannya. Lantas bagaimana dengan aktifis serikat pekerja? Apa yang membuat aktifis nyaman?

IMG_20121026_202149

Perayaan Ulang tahun Bang Obon di Rumah Buruh ( Foto : Herfin )

Menjadi seorang aktifis memang bukan tujuan hidup seorang. Tidak akan pernah ada aktifis, dimana peran yang sekarang dijalaninya adalah merupakan cita-citanya sejak kecil. Bahkan sebagian besar dari kita menjadi seperti sekarang ini karena terjerumus dan terseret dalam situasi (kecelakaan). Bagi yang sudah terjerumus dan terseret oleh keadaan, sebelum terlanjur terperosok lebih dalam lagi, maka segera pikirkan dan periksa ulang apa yang membuat anda berada bersama kita saat ini. Apa niat dan motivasi anda. kalau kita punya niat bahwa kehadiran kita disini adalah hanya karena faktor pribadi lebih baik mundur karena anda pasti akan kecewa dan hidup anda akan terbuang dengan percuma dan sia-sia.

Lalu bila memang sudah mantap berada bersama kita, maka segera siapkan mental yang kuat. Karena hal yang paling sulit bila anda sudah berada di posisi atas. Anda akan menjadi sorotan, seolah-olah anda adalah malaikat penyelamat yang tidak boleh salah. Anggota suka kalau anda hidup susah. Jarang ada anggota yang berterima kasih ketika anda berhasil. Sebaliknya banyak anggota yang mengumpat dan memaki ketika anda salah. Keberhasilan yang anda buat akan hilang dalam sekejap berganti dengan tulisan di WC pabrik, SMS dan umpatan di facebook serta media sosial lainnya. Posisi pemimpin di organisasi sangatlah sulit.

Misalnya; Seorang Leader, Supervisor, Manager, Direktur di perusahaan punya hak dan kewenangan khusus dan mumpuni sehingga bisa langsung memberikan sanksi dan penghargaan. Sanksi diberikan kepada yang tidak bagus atau penghargaan diberikan kepada yang bagus. Yang kerjanya baik mendapatkan promosi kenaikan pangkat, bonus, gaji dan lain-lain. Sedangkan yang malas kerja dan tidak baik dapatkan sanksi mulai dari teguran lisan, Surat Peringatan bahkan langsung di PHK. Lantas bagaimana dengan mekanisme sanksi dan penghargaan di organisasi kita!!??.

Untuk mengerjakan sesuatu yang baik kita butuh tim yang mumpuni, kompak dan satu visi. Terkadang dengan latar belakang, karakter dan tujuan yang berbeda, sering kita jadikan alasan untuk berkompromi disaat harus berhadapan dengan situasi, dimana kita kebingungan sendiri untuk merekrut para personel fungsionaris organisasi yang memiliki potensi, karena mereka tidak ada yang bersedia dijadikan fungsionaris organisasi. Akhirnya mau tidak mau kita asal main tunjuk. Namun, setelahnya kita diharuskan untuk bekerja maksimal demi tujuan yang sama dengan hasil yang harus maksimal pula. Terus bagaimana caranya? Sedangkan untuk bekerja maksimal perlu dukungan waktu, tenaga dan biaya yang memadai. Lantas dengan kondisi yang semuanya serba pas-pasan, kapabilitas personel terbatas, kerap mencuri waktu disela-sela jam kerja pabrik, jatah hari libur bersama keluarga pun sering terpakai (siap-siap dikomplain sama istri & anak), bahkan tidak jarang harus keluar biaya dari kocek sendiri. lantas bisakah kita bekerja dengan maksimal!!!???

*Turin, Sunday July 7th 2013 – Obon Tabroni

Tulisan Sebelumnya:

Kado Untuk Iqbal (1)

Kado Untuk Iqbal (2)

*diedit oleh Mike Latuwael – tanpa mengurangi substansi & makna isi tulisan

Kado Untuk Iqbal (4)

431239_3119729526546_193226425_nOleh: Obon Tabroni *)

“Ya. Siap. Oke Bang…, lapan enam.” Itulah jawaban akhir ketika saya berbeda pandangan dengan Iqbal.

Saya paham, Iqbal adalah presiden yang harus saya ikuti pandangannya. Buat saya, pemimpin tidak pernah salah. Kalau dia salah, kembali ke rumus di atas.

Meskipun saya dan Iqbal sudah sangat lama bersama-sama dalam perjuangan ini, bukan berarti diantara kami tidak ada perbedaan pandangan. Terlebih lagi karakter Iqbal adalah sosok yang sangat kuat dalam memegang prinsip. Terkadang hal ini membuatnya terlihat otoriter, tetapi sesungguhnya dia sangat demokratis. Untuk sesuatu hal yang tidak prinsip, Iqbal tidak tidak banyak ikut campur.

Tentu saja, kapasitasnya  sebagai Presiden FSPMI dan sekaligus Presiden KSPI,  mengharuskannya untuk memiliki pandangan yang lebih luas ketika memutuskan sesuatu. Sementara saya hanya dalam lingkup yang lebih sempit: Ketua KC  FSPMI Bekasi dan Ketum SPAI FSPMI.

Di puluhan situasi, bahkan mungkin ratusan, kami berbeda pendapat dan pandangan. Tentu saja,  meski ada perbedaan, jauh lebih banyak lagi persamaannya. Dan, ini yang saya syukuri: Saya dan Iqbal selalu memiliki jalan keluar untuk menyelesaikan semua perbedaan tadi.

Mari kita bicara perbedaan-perbedaan itu.

Tahun 1998, saat sedang ramai-ramainya aksi untuk menurunkan Soeharto, saya meminta ijin membawa masa ke DPR. Akan tetapi Iqbal – dengan alasan keamanan – meminta kami sebelum ke DPR mendemo SPSI terlebih dahulu, di Pasar Minggu. Karena dari sekian banyak organisasi, SPSI termasuk yang lambat merespon dan berani menyuarakan agar Soeharto lengser.

416730_415650801791667_1498816438_o

Baru-baru ini, tepatnya hari jum,at di minggu yang lalu, perbedaan pandangan itu juga terjadi antara saya dan Iqbal. Bermula dari adanya sebuah PUK yang ingin bergabung dengan SPAI FSPMI. Administrasinya sudah lengkap. Keinginan anggota untuk bergabung sudah mantap. Hanya saja, sebelumnya, sudah ada Serikat Pekerja lain yang sama-sama menjadi anggota KSPI.

Oke, proses adminstrasi itu sudah dipenuhi, yaitu dengan membuat surat pernyataan mengundurkan diri. Tentu bagi saya, sebagai Ketum SPAI FSPMI memandang PUK tersebut layak untuk bergabung.

Bergantian Saya dan Jamal (Sekum SPAI FSPMI) menyampaikan argumentasi. Saya sampaikan tentang kebebasan berserikat. Tidak boleh ada satu pun yang menghalang-halangi, ketika seorang buruh menentukan pilihannya ingin bergabung dengan serikat pekerja mana yang ia suka. Tidak etis rasanya, jika kita justru menghalang-halangi kebebasan itu.

Saya sampaikan juga, jika saat ini PUK tersebut sudah mundur dari SP yang lama. Termasuk kalau toh tidak kita rekrut, mereka bisa pindah ke SP lain. Dari sisi pengembangan, dengan masuknya PUK tersebut, kemungkinan keanggotaan di DPK dan Tripartit menjadi aman.

Tetapi tidak buat Iqbal. Iqbal memandang dari sisi yang lebih luas: “Untuk mempersatukan gerakan, terkadang kita harus mengalah,” katanya.

“Keutuhan KSPI diatas segalanya,” putusnya. Tanpa kompromi.

Saya mencoba memahami pola pikirnya. Tetapi sulit nyambung, karena saya memandang dari sisi SPAI FSPMI, sementara Iqbal dari sisi yang lebih luas lagi. Akhirnya perdebatan di sore itu saya akhiri degan sebuah kalimat: “ Oke, Bang. Entar urus ama Jamal.”

Selepas Iqbal meninggalkan ruangan, tinggal saya bengong sama Jamal. Bagaimana menjelaskan ke anggota yang sangat berharap? Bagaimana menarik SK yang sudah dibuat? Gimana…, gimana…., gimana….

Bersambung…

 

Tulisan Sebelumnya:

Kado Untuk Iqbal (1)

Kado Untuk Iqbal (2)

Kado Untuk Iqbal (3)

 

*) Tulisan ini diedit kembali oleh Kahar S. Cahyono, tanpa merubah substansi/isi

Kado Untuk Iqbal (2)

431239_3119729526546_193226425_nOleh: Obon Tabroni *)

Hingga akhirnya, Said Iqbal terpilih sebagai Sekretaris  PC SPLEM SPSI Bekasi.

Tentu saja, dengan terpilihnya Iqbal sebagai Sekretrasis di Pimpinan Cabang, kesibukannya bertambah. Ia bukan lagi semata-mata milik PUK PT. Kotobuki Elektronics Indonesia (sekarang PT. PHCI). Bahkan, sebagian besar waktunya habis untuk membantu PUK-PUK lain di Bekasi.

Kami selalu protes. Mengapa harus ngurusi orang lain. Sementara di rumah sendiri banyak kekurangan. Dalam pandangan saya saat itu, jika Iqbal fokus untuk membenahi PUK, itu akan membuat kami semua menjadi lebih baik.

Ketika mengingat kembali masa-masa itu, dalam beberapa hal saya bisa memahami jika ada yang mempertanyakan: Untuk apa solidaritas ke PUK lain? Bukanlah lebih baik PUK sendiri saja yang diberesin? Bahkan sampai-sampai ada yang tidak rela jika dari pengurus PUK-nya ada yang duduk sebagai pengurus di tingkat cabang atau pusat. Khawatir jika dia lebih konsentrasi keluar, ketimbang membantu memperbaiki yang di dalam.

Saya bisa memahami perasaan-perasaan seperti itu. Hal yang sama, seperti yang kami rasakan, dulu.

Sama seperti yang pernah kami rasakan, dulu. Dalam bahasa kami: Iqbal selalu berlayar.

Kami sempat memberikan julukan kepadanya, sebagai Nabi Nuh. Tentu saja, dengan memberikan julukan itu kami tidak bermaksud menyamakan Iqbal dengan nabi. Itu hanyalah julukan yang kami sematkan kepadanya, karena ia jarang berada di tempat, dan lebih sering berkelana dari satu PUK yang satu ke PUK yang lain. Jika saya tidak salah, di sekretariat, hingga kini masih terdapat lukisan kapal laut yang sedang berlayar. Lukisan itu sengaja kami pasang, untuk menyentil Iqbal supaya ingat pulang: Jangan berlayar terus.

Tetapi Iqbal tidak bergeming.

Ia terus berlayar. Meninggalkan kami semua.

Bahkan, pelayarannya berlanjut hingga sekarang.

Hingga satu ketika, kami menjadi sadar sendiri. Bahwa keputusannya untuk berjuang membantu PUK-PUK lain diluar sana, berdampak banyak untuk kami. Rumus itulah yang kami percaya hingga sekarang: Jika kita membantu orang lain, pada hakekatnya kita sedang membantu diri sendiri.

*  * *

Saya bersama Iqbal dan Baris Silitonga. Dalam sebuah aksi di Jakarta.

“Saya bersama Iqbal dan Baris Silitonga. Dalam sebuah aksi di Jakarta.”

Saat itu tahun 1997.

Bersama-sama dengan kawan-kawan lain di SPSI, terutama di tingkat unit kerja, kami berharap adanya perubahan di organisasi. Mulailah saya, Judi (sekarang Ketua Umum PP SPEE FSPMI), Saiful dan Nasri (sekarang masih di SPSI),  berkeliling untuk mencari serikat pekerja lain sebagai pembanding. Kami datang ke SBSI dan PPMI. Sebelumnya akhirnya, kami memilih untuk mendirikan serikat pekerja yang lebih independent: Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI).

Dalam kesempatan ini saya tidak ingin menuliskan tentang alasan prinsip, mengapa kami keluar dari SPSI dan mendirikan FSPMI. Selain karena kurang etis, saya merasa hal itu sangat subjective.

* * *

Tahun 1999.

FSPMI dideklarasikan.

Said Iqbal, dalam sebuah aksi menolak RUU ORMAS dan RUU KAMNAS. Foto: Fb Maulana Alfi Syahrin

Presiden FSPMI Said Iqbal, dalam sebuah aksi menolak RUU ORMAS dan RUU KAMNAS.  Foto: Fb Maulana Alfi Syahrin

Kesibukan Iqbal semakin bertambah. Jabatan baru sebagai Sekretaris Umum SPEE FSPMI dan Pengurus DPP FSPMI, membuat kami bertambah jauh. Iqbal menugaskan saya menjadi Ketua SPEE dan berpesan agar menjadikan Bekasi sebagai basis perjuangan. Saat FSPMI dideklarasikan, modal awal untuk bergerak tidak lebih dari 30 (tiga puluh) unit kerja. Jumlah itu total dari keseluruhan dari 3 (tiga) sektor: SPEE, SPAMK, dan SPL.

Pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai. Berbagai masalah datang silih berganti. Tantangan demi tantangan menuntut penyelesaian. Dan disitulah, peran Iqbal menjadi sangat berharga. Ia mem back-up total. Termasuk  ketika kami harus berurusan untuk pertama kalinya dengan kepolisian, karena menyandera pengusaha Jepang selama 24 jam.

Berebut Sekretariat dengan SPSI juga pernah kami lakukan. Hingga akhirnya kami harus tersingkir dan terpaksa menyewa sebuah Ruko di Bekasi Plaza. Padahal, saat itu, keuangan FSPMI belum sekuat yang sekarang.

Banyak hal-hal pahit yang lain. Mungkin pada kesempatan lain, saya ingin berbagi kesulitan itu dengan Anda. Agar Anda bisa memahami, jika organisasi ini dibangun dengan keringat dan air mata. Bahwa bukan kebetulan, jika kemudian FSPMI menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini.

Masa-masa awal yang berat itu, kami isi dengan berkeliling wilayah. Tekad kami hanya satu: Menjadikan FSPMI tetap eksis, menjadi lokomotif gerakan buruh dan mempersatukan seluruh gerakan buruh .

Selain di Bekasi, Iqbal juga menugaskan saya membangun basis jaringan baru di wilayah lain.

Saat itu 8 September 1999. Saya berangkat ke Surabaya. Masih basah dalam ingatan saya, kereta api penuh sesak. Padahal bukan masa liburan. Barulah saya sadar, hari itu bertepatan dengan tanggal 9-9-1999: Tanggal yang diramalkan sebagai datangnya hari KIAMAT.

Dalam kesempatan yang berbeda, saya berangkat ke Batam dengan menggunakan Kapal Laut. Tepat 11 September 2001. Ketika berita tentang runtuhnya Gedung WTC akibat serangan Teroris itu disiarkan,  saya berada di dalam Kapal Laut, dari Tanjung Priok menuju Batam.

Kondisi saat itu, sangat berbeda jauh dengan sekarang. Saat sekarang, bila kita akan masuk ke satu wilayah, kontak person dan tujuannya sudah ada terlebih dahulu. Siapa yang dikunjungi jelas. Bermalam dimana, sudah diatur sebelumnya.

Masa-masa itu,  ketika kita memasuki wilayah lain, tidak banyak yang memberikan dukungan. Pun anggaran yang tersedia sangat minim. Saya ingin bercerita salah satunya. Saat melakukan kunjungan ke Surabaya, turun dari Kereta Api, uang yang tersisa tidak lebih sepuluh ribu. Saat itu ada 3 kebutuhan yang sama-sama penting: makan siang, rokok, sendal jepit.

Tebak, apa yang akhirnya yang saya beli? Saya memilih untuk membeli sendal jepit.

Saat ke Batam, sedikit agak beruntung. Disana ada kawan-kawan Panasonic. Meskipun kalau siang hari makan Indomie, tetapi dimalam harinya, ada yang mentraktir makan.

Saat membantu pengembangan di Karawang pada tahun 2001, tidak begitu bermasalah. Selain karena lokasinya yang dekat dengan tempat tinggal saya di Bekasi, kami masuk melalui kawan Panasonic yang bekerja di PT. Firelli.

Saya sadar, FSPMI yang sekarang, bukan semata-mata hasil kerja saya. Itu semua bisa kita capai, karena kebersamaan dan komitment yang tinggi dari kita semua. Banyak orang-orang hebat yang telah berjuang tanpa pamrih membesarkan  organisasi ini. Pada akhirnya, saya hanya ingin mengingatkan satu pepatah lama: bahwa menjaga itu jauh lebih sulit daripada ketika mendapatkanya…

Bersambung…

 

Tulisan sebelumnya:

Kado Untuk Iqbal (1)

 

*) Tulisan ini diedit kembali oleh Kahar S. Cahyono, tanpa merubah substansi/isi