Frezi Anwar: “Urusan Pekerja, Serahkan Pada Ahlinya”

Menghadiri Musnik PUK SPEE FSPMI PT. Epson Batam

Menghadiri Musnik PUK SPEE FSPMI PT. Epson Batam

Siapa yang paling memahami permasalahan buruh? Saya kira kita semua tahu jawabannya. Yang paling memahami permasalahan kaum buruh, tidak lain dan tidak bukan adalah buruh itu sendiri.

Jika kemudian hal ini kita kaitkan dengan peran dan fungsi wakil rakyat, kira-kira akan ada pertanyaan seperti ini: Apabila dari wakil rakyat (anggota DPRD/DPR) tidak ada yang merepresentasikan suara kaum buruh, mungkinkah mereka akan benar-benar peduli dan mengerti terhadap permasalahan kaum buruh?

Wajar saja jika kita meragukannya. Sebab hal itu berkaitan dengan latar belakang dan jejak rekam perjalanan kehidupan seseorang. Seorang dokter memiliki kapasitas menjadi dokter karena ia lulusan fakultas kedokteran. Seorang advokat memiliki kharisma sebagai pengacara, karena memang ia lulusan fakultas hukum. Begitu juga fakultas pendidikan yang melahirkan seorang guru.

Bisa saja, misalnya, seorang guru melakukan pembelaan selayaknya advokat. Seorang advokat barangkali bisa mengobati orang sakit seperti halnya dokter. Tetapi tentu saja, hal itu bukan keahliannya. Sama halnya, ketika aspirasi buruh di parlemen diwakili oleh orang yang tidak memiliki latar belakang buruh. Tetapi tentu saja, pemahaman mereka akan sangat terbatas.

Serahkan pada ahlinya. Saya kira ini bukan nasehat biasa. Sudah terbukti dalam sejarah: ketika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka sesungguhnya kita semua tinggal menunggu kehancurannya.

Jika kepentingan kaum buruh ingin diutamakan dalam sebuah proses pengambilan keputusan, maka yang perlu dilakukan adalah dengan memenangkan caleg kader buruh dalam pemilu 2014 mendatang.

Hal ini sejalan dengan keputusan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) yang telah merekomendasikan kader terbaiknya sebagai caleg. Karena ini adalah keputusan organisasi, sudah barang tentu mereka yang direkomendasikan adalah orang-orang yang oleh organisasi dianggap layak dan mumpuni. Oleh karena itu harus dibaca, ini adalah bagian dari strategi organisasi dalam upaya untuk mewujudkan cita-cita perjuangannya.

Saya, Frezi Anwar, adalah salah satu dari kader FSPMI yang direkomendasikan itu. Sebagai caleg untuk Propinsi Kepri dari Partai HANURA dengan Nomor Urut 3 dari Dapil Batam C Sei Beduk, Bulang, Galang dan Nongsa). Dan oleh karena saya sebagai caleg atas rekomendasi FSPMI, saya akan memadukan antara Visi dan Misi FSPMI dengan Visi dan Misi Partai Hanura. Meskipun demikian, saya akan tetap tunduk kepada garis kebijakan yang telah ditetapkan oleh organisasi FSPMI.

Saya kira ada beberapa hal yang  bisa dilakukan anggota legislatif untuk kaum buruh. Misalnya, mendorong peningkatan kualitas hubungan industrial, APBD untuk pendidikan dan perumahan pekerja serta peningkatan kesejahteraan, baik melalui upah maupun non upah.

Semua itu bisa diwujudkan, asalkan ada komitment untuk mewujudkannya. Komitment bukanlah sesuatu yang instan, berbeda dengan pencitraan yang bisa ditumbuhkan hanya dalam kurun waktu beberapa bulan.

Tanpa bermaksud menyombongkan diri, saya kira komitment perjuangan terhadap kaum buruh sudah dimikiki olah caleg kader buruh, jauh-jauh hari. Amanah yang diberikan saya dua periode berturut-turut sebagai Ketua PUK, berlanjut menjadi Sekretaris PC dan wakil buruh dalam LKS Tripartit Kota Batam, saya kira mengkonfirmasi akan hal itu. Jika caleg lain baru sebatas janji untuk memperjuangkan aspirasi kaum pekerja, saya bahkan sudah beberapa tahun yang lalu melakukannya: susah maupun senang, hari-hari saya selalu bersama-sama dengan mereka. (Kascey)

.

Artikel Terkait:

– Frezi Anwar: “Sebab Setiap Perubahan Harus Diperjuangkan”

– Frezi Anwar: “Hasil Nyata Perjuangan Serikat Pekerja”

– Frezi Anwar: “Menjadi Penyambung Aspirasi Kaum Buruh”

– Frezi Anwar: “Urusan Pekerja, Serangkan Pada Ahlinya”

Frezi Anwar: “Menjadi Penyambung Aspirasi Kaum Buruh”

Turun Aksi

Turun Aksi

Tahun 2000, saya mulai bekerja di PT. Foster Electric Indonesia pada Departemen Process Engineering. Sebagai seorang buruh, saya sangat memahami perasaan kawan-kawan yang setiap hari berjibaku dibalik dinding perusahaan. Bukan sekedar tahu dari cerita. Karena, memang, saya mengalaminya sendiri.

Setelah bertahun-tahun bekerja tanpa menjadi anggota serikat pekerja, bulan Januari 2009 kami bergabung dengan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI). Ketika itu saya dipercaya sebagai Wakil Ketua Bidang Hubungan Industrial, PKB dan K3.

Dua bulan setelah PUK berdiri, tepatnya pada tanggal 30 Maret 2009, Ketua dan Sekretaris PUK ditempat saya bekerja di-PHK oleh pengusaha dengan alasan efisiensi. Melalui Musyawarah Unit Kerja Luar Biasa, (Musniklub) saya ditunjuk menjadi Ketua PUK, hingga sekarang.

Barangkali karena terbiasa bekerja dibawah perintah, seringkali membuat seorang buruh menjadi kehilangan kepercayaan diri. Inilah yang kemudian membuat mereka enggan ketika diajak untuk memperjuangkan adanya perbaikan hubungan industrial ditempatnya bekerja. Akibatnya, tak sedikit kaum buruh yang enggan ketika diajak untuk bergabung dengan serikat pekerja. Mereka merasa, posisi yang sekarang adalah posisi nyaman. Tak perlu lagi ditingkatkan.

Menurut saya, kesulitan ini muncul karena buruh itu sendiri belum memahami fungsi dan tujuan serikat. Kebanyakan hanya sekedar ikut-ikutan atau karena nggak enak dengan teman. Pendek kata, mereka menjadi anggota serikat pekerja bukan karena kesadaran. Dan karena berserikatnya tanpa diikuti dengan kesadaran, begitu ada sedikit dari tekanan atau intimidasi dari manajemen terhadapnya, mereka akan mundur perlahan.

Salah satu fungsi serikat pekerja adalah menjaga hubungan industrial yang harmonis dan untuk memperjuangkan kesejahteraan bagi pekerja dan keluarganya. Sebuah fungsi yang mulia. Naïf sekali kemudian jika keberadaannya dimusuhi.

Saya melihat fungsi pengawas Dinas Tenaga Kerja juga masih kurang. Khususnya agar kebebasan berserikat benar-benar bisa berjalan. Seharusnya Pengawas Ketenagakerjaan bisa ikut memastikan setiap tindakan menghalang-halangi kebebasan berserikat mendapatkan sanksi yang setimpal.

Saat ini saya mewakili FSPMI duduk dalam keanggotaan LKS Tripartit Kota Batam (2012-2015). Sedangkan di Serikat Buruh,  kawan-kawan meminta saya duduk sebagai Sekretaris Pimpinan Cabang SPEE FSPMI Batam (2011-2016). Sejak saat itu, aktivitas saya tidak hanya ditingkat pabrik. Saya mulai aktif membantu buruh dari perusahaan-perusahaan lain yang sedang memperjuangkan hak-hak mereka.

Ketika kemudian organisasi merekomendasikan saya untuk maju sebagai caleg dalam Pemilu 2014, memang ada latar belakangnya. Bukan juga semata-mata atas keinginan saya, tetapi untuk memperkuat kerja-kerja advokasi yang sudah saya lakukan selama ini.

Wakil rakyat adalah representasi dari suara rakyat. Jika kita menginginkan aspirasi kaum buruh ada yang menyuarakan di gedung dewan, saya kira memang harus ada wakil buruh yang duduk didalam sana. Maka bagi saya, ketika kader buruh menjadi anggota lestislatif sejatinya adalah menjadi penyambung aspirasi kaum buruh.

Wakil buruh itu harus dibaca sebagai kader buruh. Itulah pentingnya bagi buruh untuk memenangkan kader buruh dalam pemilu mendatang: bukan untuk saya, tetapi untuk kepentingan kita semua. (Kascey)

.

Artikel Terkait:

– Frezi Anwar: “Sebab Setiap Perubahan Harus Diperjuangkan”

– Frezi Anwar: “Hasil Nyata Perjuangan Serikat Pekerja”

– Frezi Anwar: “Menjadi Penyambung Aspirasi Kaum Buruh”

– Frezi Anwar: “Urusan Pekerja, Serangkan Pada Ahlinya”

Frezi Anwar: “Hasil Nyata Perjuangan Serikat Pekerja”

Kunjungan Kerja Dewan Pengupahan dan dan LKS Tripartit Kota Batam ke Bekasi (2012)

Kunjungan Kerja Dewan Pengupahan dan dan LKS Tripartit Kota Batam ke Bekasi (2012)

Saya tidak akan pernah melupakan hari itu. Hari dimana ketika buruh Batam melakukan aksi besar menuntut agar UMK 2012 direvisi. Hari dimana ketika puluhan ribu buruh bersatu padu turun aksi. Menunjukkan kekuatannya: bahwa selama ini merekalah yang sebenarnya menggerakkan mesin-mesin produksi.

Ketika itu tanggal 23 dan 24 November 2011. Kerusuhan pecah ketika hujan turun, dan peserta unjuk rasa hendak berteduh di kantor Walikota Batam. Tetapi karena dihalang-halangi petugas, bentrok pun tak dapat dihindari.

Selain mengakibatkan korban luka-luka, kerusuhan di Rabu sore itu juga menyebabkan sebagian pintu kaca dan jendela Gedung Pemerintahan Kota Batam pecah. Sekitar 10 mobil milik pemerintah dan pegawai yang diparkir, rusak. Sebagian besar korban luka akibat lemparan batu dan terkena pecahan kaca. Bahkan beberapa orang pengurus PC terkena tembakan peluru karet petugas.

Tidak sia-sia. Setelah itu, UMK Batam tahun 2012 yang semula sudah ditetapkan sebesar Rp 1,310,000.- direvisi menjadi Rp 1,402,000.-. Tidak bisa dipungkiri, perubahan itu adalah murni hasil perjuangan kaum buruh. Tidak hanya mereka yang ikut aksi yang menikmati. Buruh yang saat aksi itu berlangsu sedang tidur di rumah pun, merasakan hasilnya.

Ketika peristiwa itu terjadi, kepengurusn Pimpinan Cabang SPEE FSPMI Batam baru berumur 5 bulan. Sebagian besar adalah wajah-wajah baru yang duduk didalam kepengurusan. Saya salah satunya, yang “dijerumuskan” sebagai Sekretaris PC.

Seminggu sebelum tanggal 23 November 2011, Pimpinan Cabang menyurati seluruh owner dari setiap perusahaan yang menjadi anggota FSPMI. Kami meminta agar tanggal 23, 24 dan 25 November 2011 setiap pimpinan perusahaan meliburkan seluruh  pekerjanya, karena kami akan melakukan aksi 3 hari berturut-turut ke kantor Walikota.

Kami memiliki komitmen untuk menjadi yang terdepan dalam hal perjuangan upah. Bahkan organisasi telah mentargetkan, UMK Batam harus sama dengan UMK Bekasi: minimal seratus persen Kebutuhan Hidup Layak (KHL).

Dalam penyusunan dan penerapan strategi perjuangan, saya yang masih baru dikepengurusan tingkat cabang sangat berkesan dan sekaligus mendapat banyak pelajaran berharga. Terutama dari kawan-kawan yang masih memiliki komitment dan kepedulian terhadap perjuangan FSPMI. Walaupun, mereka sudah tidak lagi tercatat menjadi pengurus di organisasi ini.

Dari sini saya bisa tahu, siapa teman, siapa lawan. Siapa yang pinginnya terima bersih saja, siapa yang hanya mencari muka. Siapa musuh dalam selimut, siapa yang ikhlas berjuang untuk perubahan.

Kita bisa belajar dari fakta yang ada: perubahan itu harus diperjuangkan. Tidak akan berubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak merubahnya.

Perubahan tidak datang dengan tiba-tiba. Perubahan itu harus dipersiapkan, diperjuangkan.

Jika perjuangan upah selama ini hanya dilakukan sendiri oleh serikat buruh, alangkah lebih indah jika didukung oleh wakil rakyat (anggota DPRD/DPR) yang notabene representasi dari suara rakyat. Tetapi lihat saja, mereka seolah-olah tak peduli dengan perjuangan kaum buruh. Kita dibiarkan sendirian dengan berbagai problematikan ketenagakerjaan dan aksi-aksi: menjadi parlemen jalanan.

Itulah sebabnya, ketika Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) memutuskan untuk mendukung kader-kader terbaiknya duduk dalam keanggotaan legislative, saya mendukung sekali. Jika berhasil, tentu gerakan buruh akan semakin kuat. Aksi-aksi jalanan yang selama ini dilakukan, akan menguat ketika juga disuarakan melalui gedung dewan oleh wakil rakat yang terhormat.

Saat ini nama saya tercatat sebagai calon anggota legislatif untuk Provinsi Kepulauan Riau dari Partai HANURA dengan Nomor Urut 3 Dapil Batam C (Sei Beduk, Bulang, Galang dan Nongsa).

Pencalegan saya bukan kehendak pribadi saya, tetapi atas rekomendasi organisasi. Karena, memang, tujuannya adalah untuk memperkuat kerja-kerja organisasi. Memaksimalkan perjuangan yang selama ini kita lakukan, misalnya tentang kenaikan upah sebagaimana yang saya ceritakan diawal. Mari merapatkan barisan, menguatkan tekad, agar buruh bermartabat. (Kascey)

.

Artikel Terkait:

– Frezi Anwar: “Sebab Setiap Perubahan Harus Diperjuangkan”

– Frezi Anwar: “Hasil Nyata Perjuangan Serikat Pekerja”

– Frezi Anwar: “Menjadi Penyambung Aspirasi Kaum Buruh”

– Frezi Anwar: “Urusan Pekerja, Serangkan Pada Ahlinya”

 

Frezi Anwar: “Sebab Setiap Perubahan Harus Diperjuangkan”

Menghadiri Musnik PUK SPEE FSPMI PT. Epson Batam

Menghadiri Musnik PUK SPEE FSPMI PT. Epson Batam (Paling Kiri)

Mari membicarakan cita-cita.

Bagi saya, cita-cita bukanlah sekedar kata yang tanpa makna. Cita-cita adalah penyemangat jiwa. Yang membuat kita rela bangun pagi-pagi dan bekerja lebih giat dari rata-rata untuk mewujudkannya. Buat saya, cita-cita tanpa diperjuangkan hanya akan menjadi khayalan. Itulah sebabnya, cita-cita harus diperjuangkan. Sederhana bukan?

Hal ini senafas dengan semboyan hidup saya: “Tidak akan berubah nasib suatu kaum jika tidak kaum itu sendiri yang merubahnya.”

Tidak akan pernah terwujud cita-cita seseorang, jika orang itu sendiri tidak berusaha untuk mewujudkannya. Teorinya sesederhana itu. Meskipun sesungguhnya proses untuk mewujudkan cita-cita tidaklah sesederhana yang kita kira.

Ketika ada orang yang menanyakan tentang cita-cita kepada saya, saya tidak bisa menjawabnya dengan singkat. Kebanyakan orang akan menjawab: bercita-cita menjadi dokter, guru, wartawan, pilot, dan sebagainya.

Sementara cita-cita saya sama sekali tidak berhubungan dengan profesi. Ada dua hal yang selalu mengusik hari-hari saya dan setiap saat saya ingin mewujudkannya. Sesuatu yang kemudian saya sebut sebagai cita-cita itu adalah: Pertama, menjadikan buruh di Kepulauan Riau bermartabat dan tidak lagi menjadi warga yang termarjinalkan di daerahnya sendiri. Kedua. menjadikan Propinsi Kepulauan Riau – khususnya Kota Batam – sebagai kota industri yang ramah buruh dan investasi.

Jika saya harus mengatakan hal itu ketika ditanyakan tentang cita-cita saya, sama sekali tidak ada maksud untuk gagah-gagahan. Bukan saja sok idealis. Sebab pada kenyataannya hari-hari saya selalu disibukkan dengan kerja-kerja nyata sebagai upaya untuk mewujudkannya.

Sejak tahun 2000 saya bekerja di PT. Foster Electric Indonesia. Di perusahaan ini saya ditempatkan didalam Departemen Process Engineering. Sembilan tahun kemudian, tepatnya di tahun 2009 saya terpilih sebagai Ketua PUK di perusahaan ini.

Amanah perjuangan saya semakin besar, ketika pada tahun 2011 saya dipercaya sebagai Sekretaris Pimpinan Cabang SPEE FSPMI Kota Batam untuk periode 2011 – 2016. Kemudian diminta oleh organisasi untuk duduk dalam keanggotaan LKS Tripartit Kota Batam dari unsur buruh (periode 2012-2015).

Jika kemudian saya becita-cita agar kaum buruh tidak dimarjinalkan dirumahnya sendiri, hal itu ada historisnya. Ada latar belakangnya. Setiap hari, langsung maupun tidak langsung, saya bahkan sudah berusaha mewujudkannya: bukan hanya sekarang, tetapi sejak beberapa tahun kebelakang.

Nama saya memang tercatat sebagai calom legislatif Provinsi Kepulauan Riau dari Partai HANURA dengan Nomor Urut 3 Dapil Batam C (Kecamatan Sei Beduk, Bulang, Galang dan Nongsa). Hanya saja, yang perlu saya tegaskan disini, itu bukanlah keinginan pribadi saya sendiri.

Saya maju sebagai caleg dalam pemilu 2014 karena direkomendasikan oleh organisasi. Secara pribadi saya berpandangan, menjadi anggota legislative bisa menjadi media yang efektif untuk mewujudkan cita-cita. Atas pertimbangan itulah saya menerima.

Oleh karena itu, saya akan memadukan visi-misi FSPMI dengan visi-misi Partai Hanura. Tentu saja, sebagai salah seorang yang diusulkan oleh organisasi melalui sayap politiknya JASMETAL (Jaringan Simpul Pekerja Metal) Kota Batam, maka saya akan tunduk jika nanti Jasmetal mengeluarkan Visi dan Misi ataupun Kontrak Politik antara Partai Hanura dengan Jasmetal (mewakili FSPMI).

Cita-cita memang harus diwujudkan. Apa yang saya lakukan, baik aktif dalam gerakan serikat pekerja maupun sebagai caleg dari Partai Hanura, adalah bagian dari upaya untuk mewujudkannya. (Kascey)

 

Biodata:

Nama Lengkap: Frezi Anwar

Nama Panggilan: Frezi

Tempat Tanggal Lahir: Sei Abang (Sumatera Barat) / 27 Juli 1974

Alamat Rumah: Perumahan Bumi Sakinah. Blok Madinah I no 21. Tembesi. Sagulung. Batam. Kepulauan Riau (KEPRI).

Istri: Eva Gusiana, A.Md

Anak: Najwa Munifah  Frezeva (Pr/5 tahun) dan Rayde Hazim Frezeva (Lk2/3tahun).

Pendidikan: Diploma 3 Poltek Padang Jurusan Mesin.

Hoby: Olah Raga

Semboyan hidup: “Tidak akan berubah nasib suatu kaum jika tidak kaum itu sendiri yang merubahnya.”

.

Artikel Terkait:

– Frezi Anwar: “Sebab Setiap Perubahan Harus Diperjuangkan”

– Frezi Anwar: “Hasil Nyata Perjuangan Serikat Pekerja”

– Frezi Anwar: “Menjadi Penyambung Aspirasi Kaum Buruh”

– Frezi Anwar: “Urusan Pekerja, Serangkan Pada Ahlinya”

Darmo Juwono: Permasalahan – Jalan Keluar – Harapan

Saya sadar, rentang waktu 3 tahun 6 bulan bergabung dengan serikat pekerja, adalah waktu yang sangat singkat jika dibandingkan dengan sejarah panjang gerakan buruh di Indonesia. Akan tetapi, dalam rentang waktu yang hanya 3,5 tahun itu sudah membuat saya cukup mengerti apa yang sesungguhnya menjadi permasalahan bagi kaum buruh. Tak perlu ditanya dari mana saya bisa mendapatkan  pengetahuan itu. Toh saya sendiri adalah buruh.

suasana rapat pleno dpk batam jan 13

Sejak tahun 1998 saya sudah bekerja di pabrik. Saya ikut mendirikan serikat pekerja di PT. Sanmina Batam pada tahun 2010, sekaligus menjadi Ketua Ketua PUK SPEE FSPMI untuk Periode Pertama. Sejak tahun 2012 saya juga mulai aktif dalam organisasi ini ditingkat cabang, dengan menjadi anggota Konsulat Cabang FSPMI Kota Batam. Di tahun yang sama, saya juga dipercaya oleh organisasi untuk menjadi anggota Dewan Pengupahan Kota Batam utusan dari FSPMI. Baru-baru ini, saya terpilih kembali menjadi Ketua PUK SPEE FSPMI PT. Sanmina Batam untuk Periode Kedua.

Kebanyakan pekerja di Kota Batam berasal dari kampung halaman, yang jauh-jauh datang ke kota ini untuk merubah nasib. Dalam pikiran mereka hanyalah bagaimana cara untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Sehingga lembur menjadi pilihan utama untuk menambah pendapatan.

Disisi lain, lembur inilah yang kemudian menjadi penghalang utama ketika kita mencoba untuk mengatur waktu guna menyelenggarakan pendidikan mengenai serikat pekerja. Selain waktu yang tersita oleh lembur, juga tenaga si buruh itu sendiri yang kelelahan setelah memforsir tenaganya dalam kerja. Wajar jika timbul rasa malas untuk diajak menghadiri kegiatan-kegiatan serikat.

Saya berpendapat, situasi ini bisa kita pecahkan dengan melakukan gerakan yang melibatkan seluruh pekerja untuk secara langsung mengangkat isu kesejahteraan di tingkat pabrik. Selain menimbulkan kesadaran kelas buruh, juga memberikan pengalaman berharga yang pasti akan membekas dihati mereka. Bahwa ketika kaum buruh berjuang secara bersama-sama, akan memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan.

Jadi bukan lembur yang sesungguhnya akan meningkatkan kesejahteraan kita. Tetapi kekuatan serikat pekerja lah yang membuat buruh memiliki daya tawar ketika meminta peningkatan kesejahteraan.

Solusi lain, serikat harus lebih aktif dalam memanfaatkan berbagai media untuk terus menjalin komunikasi dengan kaum buruh sampai di tingkatan akar rumput. Bisa melalui milis, grup atau funpage Fb, buletin cetak, SMS Center, majalah dinding, dsb.

Hal yang tak kalah penting adalah dengan melakukan transparansi dibidang keuangan. Karena umumnya, yang dapat menghancurkan suatu organisasi non profit seperti serikat pekerja adalah tidak adanya transparansi pelaporan keuangan. Kecurigaan bahwa dana organisasi hanya kepentingan individu tertentu dan bukan untuk kepentingan organisasi itu sendiri, akan menyebabkan kepercayaan sulit untuk dibangun kembali.

Menjadikan organisasi FSPMI semakin besar adalah suatu keharusan. Semakin besar organisasi, idealnya akan semakin mampu memberikan pengaruh terhadap kebijakan perburuhan secara global dan membantu menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Tetapi dasar pijakannya sebagai organisasi buruh yang militan dan idealis harus tetap terjaga secara sistematis.

Meskipun demikian, jauh lebih penting adalah tetap bertahan dengan prinsip-prinsip yang tegas seperti sekarang.

Anda pasti akan bertanya, prinsip seperti apa yang saya maksud? Saya akan menjabarkannya kedalam empat hal berikut. Pertama, mandiri. Baik secara keuangan maupun garis kebijakan, tanpa ada campur tangan dan kepentingan dari pihak manapun selain untuk perbaikan nasib buruh Indonesia. Tidak mustahil, jika kita konsisten dengan ini, maka kaum buruh akan menjadi salah satu aktor utama bagi kejayaan Indonesia.

Kedua, tetap rendah hati. Tidak peduli apapun benderanya, yang penting visi dan misi perjuangan sejalan, kita harus tetap menjaga persatuan dan kesatuan kaum buruh. Apalagi saat ini, dibawah komando bung Said Iqbal, FSPMI menjadi pusat perhatian banyak kalangan.

Ketiga, pendidikan militansi harus terus ditingkatkan. Bukan hanya untuk anggota, tetapi juga untuk para pengurusnya. Dan keempat, soal transparansi. Kran keterbukaan mengenai pelaporan keuangan organisasi harus dibuka, karena memang sejatinya anggota-lah pemilih sah dari organisasi yang kita cintai ini. (kascey)

 

Baca Juga:

Darmo Juwono: Yang Berani Mengambil Resiko

Darmo Juwono: Berjuang Untuk Upah Layak Dengan Tanpa Basa-Basi

Darmo Juwono: Inginkan Buruh Cerdas dan Bermartabat

Darmo Juwono: Menjaga Sikap Sederhana

Darmo Juwono: Permasalahan – Jalan Keluar – Harapan