Muhamad Mustofa: Modal Kita, Bergerak dan Berdo`a

DSCN6706Sebagai  orang yang aktif didalam pergerakan, kekuatan kita adalah terletak dalam gerakan itu sendiri. Oleh karena itu, sudah semestinya kita terus-menerus mengorganisir kekuatan, agar gerakan yang kita lakukan bisa maksimal.

Tidak akan ada perubahan jika kita hanya diam. Sebab agar terjadi perubahan diperlukan tindakan. Perlu ada gerakan.

lTentunya saja, jangan sampai melupakan kekuatan do`a. Ketika usaha dan do`a menyatu dalam diri, niscaya kita bisa mengoptimalkan kemampuan dalam berkontribusi secara nyata kedalam organisasi ini.

Jauhkan pikiran bahwa kita akan mendapat imbalan berupa materi dari semua yang kita lakukan. Karena imbalan materi, tidaklah sebanding dengan imbalan yang akan diberikan oleh Allah SWT. Apalagi jika kita melakukannya dengan iklas, bukan karena kesombongan kita.

Dalam kesempatan ini pula, dengan segala kerendahan hati saya meminta  do`a restu dan dukungan  kawan-kawan semua. Seperti kawan-kawan ketahui, FSPMI merekomendasikan saya sebagai salah satu caleg kader buruh dalam Pemilu 2014. Bagi saya pribadi, do`a dari kawan-kawan sangatlah memiliki arti yang penting dalam menghadapi Pemilu di 2014: agar sagala daya dan upaya kita untuk masuk dalam sistem ini bisa terkabulkan.

Perlu saya sampaikan, bahwa saya adalah calon anggota legislatif dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan nomor urut 8 (delapan) di daerah pemilihan 3 Kota Batam (Sei Beduk, Nongsa, dan Bulang Galang). Visi saya adalah, menjadi bagian dari perubahan bangsa ini. Sedangkan misi saya berada didalam parlemen untuk memperkuat perjuangan kaum buruh dalam pergerakan didalam system.

Keputusan menjadi caleg bukan keputusan yang tiba-tiba. Apalagi tanpa rencana. Keputusan ini bahkan sudah diputuskan sejak 2 (dua) tahun yang lalu. Ketika FSPMI juga memberikan rekomendasi, saya rasa tidak ada alasan lagi untuk tidak percaya diri menyongsong hajat demokrasi lima tahunan itu.

Saya kira, banyak hal yang bisa kita lakukan ketika kita menjadi anggota DPRD. Salah satu peran yang bisa kita mainkan adalah, hak kontrol terhadap legeslasi (Perda). Perda ini penting, apalagi saat ini keberadaan Perda Ketenagakerjaan di daerah sangat minim. Intinya, peran DPRD sangat efektif dalam mengontrol kebijakan kebijakan yang berimbas kepada kepentingan pekerja. Dengan adanya kader buruh yang menjadi anggota legislatif, kita semua berharap kerja-kerja organisasi akan menjadi lebih mudah.

Semoga hal ini bisa terwujud. (Kascey)

 

Muhamad Mustofa: Meluruskan Penilain Negatif Terhadap Serikat

DSCN0021Tak bisa dipungkiri, pandangan negatif terhadap keberadaan serikat masih begitu kuat. Tidak saja dilakukan oleh mereka yang bukan berstatus sebagai karyawan, pekerja pun masih ada yang memiliki pemahaman demikian. Satu contoh, misalnya, masih banyak yang beranggapan dengan menjadi anggota serikat kariernya akan terhambat. Tidak hanya itu, bahkan dalam kasus lain bisa jadi akan dipecat.

Kekhawatiran itu semakin menjadi, akibat adanya serikat pekerja yang tidak melakukan pembelaan terhadap anggotanya. Akibat ulah serikat pekerja ‘gadungan’ yang justru mengabdi untuk kepentingan pengusaha, bukan membela kepentingan anggotanya.

Meskipun, sebenarnya secara tidak langsung, mereka juga mengakui bahwa kehadiran serikat pekerja sangat diperlukan. Hal ini terlihat dari adanya pekerja/buruh yang berbondong-bondong menjadi anggota serikat pekerja, manakala terdapat permasalahan ketenagakerjaan yang mereka hadapi. Serikat pekerja hanya menjadi pemadam kebakaran. Ironisnya, seringkali mereka terlambat menyadari.

Terkait dengan serikat hanya membuat karir terhambat, saya kira itu adalah pemahaman yang kurang tepat. Tanpa serikat, bahkan lebih banyak buruh yang hanya diperas tenaganya. Kasus ‘kontrak seumur hidup’, outsourcing, upah dibawah ketentuan, adalah bukti yang mereka alami ketika mereka tidak berserikat. Memang, dengan adanya serikat tidak serta merta permasalahan itu selesai. Tetapi setidaknya, akan ada pembelaan untuknya.

Tentu saja, adanya serikat pekerja yang tidak menjalankan tugas dan fungsinya, bukanlah alasan untuk tidak menjadi anggota serikat pekerja. Serikat adalah alat. Anggotanya lah nyawa yang akan menjadikan alat itu memiliki makna.

Menurut saya, ada tiga hal yang harus dilakukan jika kita ingin meningkatkan partisipasi pekerja terhadap serikatnya. Pertama, menyelenggarakan pendidikan tentang serikat pekerja secara rutin. Kedua, edukasi dalam pergerakan tidak boleh monoton sehingga orang tidak cepat bosa. Dan ketiga, meningkatkan kemandirian dari segi pendanaan.

Bagi saya pribadi, berserikat itu menyenangkan. Dengan berserikat, kita memiliki harapan. Memiliki cita-cita untuk diperjuangkan. Menjadikan kaum buruh bermartabat, karena mereka sadar bahwa dirinya adalah manusia yang harus diperhatikan kemanusiaannya.

Saya akan menceritakan pengalaman paling mengesankan dalam serikat. Pengalaman itu, pada saat saya ikut Latsar Garda Metal di Batam. Waktu itu, yang ada dalam pikiran saya, Latsar sama dengan pendidikan outdor yang lain. Apalagi saat saya melihat rondouwn acara yang di kirim ke KC FSPMI Batam pun tidak ada yang aneh. Saya ikut Latsar sebenernya hanya ingin memberi semangat dan contoh  kepada anggota PUK saya agar bersedia ikut Latsar.

Di hari pertama Latsar, saya baru merasakan perbedaan 180 derajat dari yang saya bayangkan semula. Apalagi setelah kawan-kawan panitia dari Bekasi tahu kalau saya perangkat PC Batam Dan duduk di Dewan Pengupahan. Akhirnya saya dikerjain habis-habisan

Di hari pertama itulah batin saya berperang antara meneruskan atau keluar dari Latsar

Kawan Bekasi yang bikin aku gemes waktu itu Ozi, Ali, dan Edo. Hehe, saya kira inilah indahnya berteman dalam serikat. Kemarahan itu, jika pun ada, hanya sesaat. Karena selanjutnya kita bersahabat, bahu membahu dalam memperjuangkan cita-cita bersama.  (Kascey)

Muhamad Mustofa: Sebab Tiap Bendera Tidaklah Sama

mustofa

Ada yang bilang, semua serikat pekerja adalah sama.

Barangkali, saya adalah salah satu yang menentang pernyataan itu. Jika semua serikat sama, buat apa ada KSPI, KSPSI, KSBSI, atau KASBI? Mungkin dalam hal cita-cita ada beberapa kesamaannya, tetapi secara keseluruhan, pasti ada yang berbeda.

Saya bisa berbicara seperti ini, karena sebelum bergabung dengan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), saya pernah merasakan menjadi anggota serikat pekerja lain. Jadi saya tahu persis dimana letak perbedaannya.

Tentang perbedaan itu, tidak akan saya ceritakan disini. Saya lebih tertarik untuk berbicara tentang awal mula saya bergabung serikat kebanggan kita, FSPMI.

Sebelum bergabung dengan FSPMI, dari tahun 2003 hingga 2010, sebenarnya di tempat kami bekerja, PT TEC Indonesia, sudah ada Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Jumlah anggota SPSI ketika itu, kurang lebih sebanyak 500 orang. Meskipun bukan menjadi pengurus, saya ikut berpartisipasi aktif didalam serikat ini.

Pada dasarnya, saya memang suka berorganisasi. Jadi begitu saya mendengar ada organisasi serikat pekerja di perusahaan, saya bergabung dan terlibat aktif didalamnya. Apalagi, sudah menjadi naluri saya, untuk bisa terlibat dan menjadi bagian kecil dari sebuah perubahan. Hidup harus berarti. Saya akan merasa rugi, jika hanya menjadi penonton. Apalagi jika menjadi menitipkan nasib. Saya harus ikut berpartisipasi dalam perubahan (kearah yang lebih baik).

Memasuki tahun 2009, serikat pekerja SPSI di PT. TEC Indonesia mulai mati suri. Tidak ada kegiatan sama sekali.

Dari kefakuman itulah muncul ide gila dari kami, yang kemudian disetujui kawan-kawan, untuk pindah ‘rumah pergerakan’. Untuk mewujudkannya, kami membentuk tim yang tugasnya mencari rumah baru itu. Sebuah organisasi serikat pekerja, yang memang sesuai dengan semangat kawan-kawan di PT. TEC Indonesia. Saya terpilih sebagai salah satu anggota tim yang bertugas mencari organisasi baru itu.

Di Batam, saat itu hanya ada 3 Federasi Serikat Pekerja: FSPSI, FSPMI, dan FSBSI.

Setelah berdiskusi dan menimbang kekurangan dan kelebihan, akhirnya kami menjatuhkan pilihan ke FSPMI.

Namun pilihan ini sedikit bermasalah. Permasalahannya adalah, disaat kita sudah menentukan akan berpindah dari SPSI ke FSPMI, kami kesulitan untuk bertemu dengan perangkat organisasi ditingkat cabang. Mulailah kegaluan melanda, karena kami tidak tahu bagaimana cara dan melalui siapa untuk masuk bergabung dengan FSPMI.

Tetapi kemudian Allah SWT memberikan jalan.

Selesai sholat Magrib di masjid yang terdapat dilingkungan perumahan tempat saya tinggal,  seperti biasa saya ngobrol dengan tetangga sekitar perumahan. Obrolan kami tentang apa saja, salah satunya adalah terkait dengan aktivitas sehari-hari di perusahaan. Dalam obrolan itu  saya bercerita ke tetangga, tentang masalah saya, yang ingin berpindah dari SPSI ke FSPMI.

Tanpa diduga, ternyata tetangga yang ngobrol dengan saya ini adalah pengurus DPW FSPMI dan Ketua PUK FSPMI PT. Panasonic, yaitu Bung Yusni dan Bung Robiana. Gayung pun bersambut. Tak butuh waktu lama, dengan difasilitasi beliau berdua inilah, kami diundang  untuk datang ke Kantor FSPMI Batam.

Keesokan harinya, tim kami datang ke kantor FSPMI Batam. Kami diterima oleh Bung Alpian dan Bung Nurhamli. Disitu dijelaskan semua syarat-syarat untuk masuk menjadi bagian dari FSPMI, dimana salah satu syarat yaitu  harus mundur dari serikat yang lama sebelum masuk ke FSPMI.

Hasil dari pertemuan ini kami sampaikan ke kawan-kawan PT. TEC Indonesia. Sebelum kita putuskan pindah  ke FSPMI, kita sudah sepakati hanya akan ada satu serikat saja diperusaaan ini, agak bisa maksimal dalam perjuangan.

Oleh karena itu, serikat yang lama kita tutup dan seluruh pengurus dan anggota secara resmi mundur dari SPSI dan masuk ke FSPMI. Saat itu Tahun 2010, ketika secara resmi kami mendapatkan SK dan Pencatata dari Disnaker. Saya mendapatkan amanah untuk menjadi Ketua PUK pertama di PUK FSPMI  PT TEC Indonesia.

Alhamdulilah, sampai hari ini anggota kami mencapai 1450 anggota. Capain paling penting ditingkat perusahaan adalah terbentuknya PKB (perjanjian kerja bersama), yang isinya sudah bisa dinikmati oleh anggota dan keluarganya.

Saya percaya, perubahan itu membutuhkan keberanian. Jika saja saat itu kami pasrah ada keadaan dan hanya mempertahankan yang ada, capaian besar yang sekarang kami dapatkan belum tentu ada.

Keputusan organisasi untuk merekomendasikan kader terbaiknya sebagai caleg dalam pemilu 2014, bagi saya juga merupakan bentuk keberanian. Keberanian itu, saya percaya, akan membuat organisasi semakin besar dan mampu memberikan konstribusi untuk mewujudkan cita-cita sebagai sebuah bangsa yang merdekat dan berdaulat. (Kascey)

Muhamad Mustofa: Buruh Berpolitik, Kenapa Tidak?

DSCN6765Ketika membicarakan tentang ‘buruh’, sejatinya kita berbicara tentang masyarakat secara keseluruhan. Hal ini karena, seorang buruh juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat. Buruh-lah yang selama ini menjadi penggerak utama perekonomian melalui kerja-kerja yang mereka lakukan. Bayangkan saja, ketika buruh tidak bersedia lagi menggerakkan mesin industri, bisa dipastikan perekonomian akan terhenti.

Oleh karena itulah, saya berharap, kaum buruh juga masuk disetiap sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Baik dengan menempatkan dirinya pada dua kaki: didalam system dan diluar system.

Jika kita berada didua kaki itu, saya berpandangan, bahwa kita akan lebih mudah untuk mewujudkan cita-cita suci kesejahteraan. Didalam system kita akan bertarung untuk membuat regulasi dan anggaran yang berorientasi pada kesejahteraan, sedangkan diluar system kita akan melakukan kontrol sosial agar kekuasaan tidak menyimpang.

Keputusan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) untuk menempatkan kader-kader terbaiknya didalam keanggotaan legislatif, bagi saya adalah keputusan yang sangat tepat. Kesejahteraan kaum buruh sangat erat ditentukan oleh kebijakan politik, seperti, aturan tentang upah, jaminan sosial, PHK, outsourcing, dan sebagainya. Jika buruh menjauhi politik, isu kesejahteraan bagi kaum buruh selamanya hanya akan menjadi diskusi politik, tanpa pernah menjadi keputusan politik.

Tentu saja, menjadi tugas kita untuk memberikan pemahaman kepada anggota, terutama tentang apa dan bagaimana kita harus masuk dalam lingkaran politik. Hal ini sangat penting dilakukan, sebagai pendidikan politik bagi anggota kita. Apalagi tak sedikit diantara mereka yang masih memiliki pandangan negatif apabila ada aktifis buruh yang mencoba ingin menjadi anggota legislatif.

Kita harus menjelaskan secara terbuka, peran apa yang bisa kita lakukan seandainya ada aktivis buruh yang berhasil menjadi anggota DPRD, misalnya. Bukankah hal itu kedepannya akan memperkuat kerja-kerja organisasi kita?

Dengan menjadi anggota DPRD, maka kita memiliki hak untuk melakukan kontrol yang ketat terhadap legislasi, seperti Peraturan Daerah. Dengan demikian, kepentingan kaum buruh terakomodir dan tidak lagi diabaikan.

Saya bicara seperti ini bukan semata-mata karena saya menjadi Calon anggota legislatif dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan nomor urut 8 (delapan) di daerah pemilihan 3 Kota Batam (Sei Beduk, Nongsa, dan Bulang Galang). Apalagi, faktanya, kapasitas saya sebagai caleg adalah juga karena rekomendasi dari FSPMI.

Dengan kata lain, aktifnya saya dalam dunia politik, adalah juga untuk memperjuangkan program-program FSPMI. Dan karena program-program FSPMI berorientasi pada kesejahteraan kaum buruh, sudah selayaknya jika buruh – bukan hanya yang menjadi anggota FSPMI – memberikan dukungan penuh untuk memenangkan semua ini. (Kascey)

Muhamad Mustofa: Menjadi Berarti dengan Berorganisasi

DSCN0233

Berbicara tentang pengalaman saya dalam berorganisasi, sama halnya membicarakan jejak langkah yang sudah saya torehkan dalam kehidupan ini. Tanpa bermaksud menyombongkan diri, hari-hari saya adalah hari-hari dimana saya mendedikasikan diri untuk umat melalui berbagai organisasi yang saya ikuti. Hal ini sejalan dengan apa yang saya yakini selama ini, bahwa hidup kita harus memberikan manfaat kepada yang lainnya.

Bukankah orang yang paling baik diantara kita adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada yang lainnya? Saya tidak ingin hidup saya berakhir dengan sia-sia. Oleh karena itu, apa yang saya lakukan selama ini adalah sebuah ikhtiar untuk menjadikan agar keberadaan saya menjadi bermakna.

Bagi saya, selain untuk berbagi kebaikan, organisasi adalah alat untuk mewujudkan cita-cita perubahan. Sebuah kebaikan yang tidak terkoorganisir bisa dengan mudah dikalahkan, bahkan oleh kejahatan. Dalam konteks itulah organisasi menemukan esensinya: penjaga agar cita-cita perbaikan itu tetap terpelihara.

Menyadari akan pentingnya organisasi itulah, yang kemudian mendorong saya untuk aktif diberbagai organisasi. Antara lain; Menjadi Ketua RT di Perumahan Bukit Kemuning, Sekertaris Yayasan Pendidikan PAUD & RA  Al Ikhlas, Direktur Pendidikan Islam Al Mubin, Ketua Yayasan Masjid Al Baqa di Batam, Ketua Pembangunan Fisik Masjid Al Baqa, Ketua Umum  Koperasi Bersama Berdikari Madani, Wakil Ketua Bidang Usaha Koperasi Karyawan PT. TEC Indonesia, Dewan Penasehat Majelis Taklim PT. TEC Indonesia, dan Sekertaris Paguyuban Warga Kabupaten Nganjuk di Batam.

Meskipun kesibukan di organisasi-organisasi tersebut menumpuk, saya juga aktif di organisasi serikat pekerja. Saat ini saya tercatat sebagai Ketua PUK SPEE FSPMI PT. Tokyo Electronic Corp Indonesia, atau yang lebih dikenal dengan PT. TEC Indonesia. Di tingkat cabang, saya diberi kepercayaan sebagai Wakil Ketua Bidang Infokom dan Sosial Ekonomi Pimpinan Cabang SPEE FSPMI Kota batam, Ketua Umum Koperasi PC SPEE FSPMI Kota Batam, dan Dewan Pengupahan Kota Batam (Depeko) untuk periode Tahun 2012 – 2014.

Jangan sangka, saya hidup dari organisasi itu. Sama sekali tidak. Pekerjaan sehari-hari saya adalah menjadi buruh di PT. TEC Indonesia, sejak tahun 1999. Kehidupan kaum buruh memang sangat dekat dengan saya. Sebelum bekerja di PT. TEC Indonesia, saya adalah karyawan di PT. Kedaung Group Krian di Jawa Timur (1997 – 1998) dan sempat bekerja di SPBU Simpang Base Cam Batam pada tahun 1998 hingga 1999.

Setidaknya, apa yang saya lakukan selama ini menjadi bukti, bahwa menjadi seorang buruh tidak harus menghilangkan sisi sosial kita. Menjadi buruh tidak harus menjadikan kehidupan kita luruh dalam hari-hari yang dipenuhi rutinitas tiada henti: hanya sebatas pergi dan pulang bekerja.

Dengan demikian, kita tidak lagi menjadi seperti yang digambarkan oleh Iwan Fals dalam syair lagunya, sebagai “robot bernyawa.” Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati saya mengajak Anda semua untuk bergabung dalam organisasi (sebagai buruh tentu lebih utama dengan bergabung dengan serikat buruh), agar kehidupan Anda menjadi lebih berarti. (Kascey)

 

BIODATA SINGKAT

Nama Lengkap:    Muhamad  Mustofa

Nama Panggilan:    Mustofa (Bung Mus)

Tempat Tanggal lahir:    Nganjuk, 15 Februari 1977

Alamat Rumah:    Perum Bukit Kemuning Blok C 1 No. 5. Kelurahan Mangsang, Kecamatan Sei Beduk, Kota Batam. Kepulaaun Riau.

Keluarga:    Elis Sudariyanti (Istri), Nagita Naharotul Mustofa (Anak Pertama), Aishah Putri Mustofa (Anak Kedua), dan Hafiz Zaidhar Putra Mustofa (Anak Ketiga)

Hoby:    Seni Otomotif

Semboyan Hidup:    Hidup ini harus berarti

Politik:   Sebagai Caleg dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Nomor Urut 8 di Daerah Pemilihan 3 Kota Batam (Sei Beduk, Nongsa, dan Bulang Galang).