Melintasi Batas Negara 6: Retribusi Untuk Pribumi

Sriyanto mewakili Dinas Tenaga Kerja Kota Batam

Sriyanto mewakili Dinas Tenaga Kerja Kota Batam

Mari kita simak sambutan Sriyanto, mewakili Dinas Tenaga Kerja Kota Batam. Sebagai institusi yang berkaitan langsung dengan masalah ketenagakerjaan, sambutan Sriyanto menarik untuk diperhatikan.

Sriyanto mengaku mencatat hal-hal penting yang disampaikan oleh pembicara sebelumnya. Termasuk yang disampaikan oleh Otong Sutisna. Ia memberikan apresiasi atas apa yang disampaikan orang nomor satu di organisasi FSPMI Kepulauan Riau ini. Semangat bung Otong, kata Sriyanto, pada intinya ingin agar buruh tidak ditindas.

Semangat yang sama, sesungguhnya juga dimiliki oleh Dinas Tenaga Kerja.

Ketika FSPMI menyampaikan usulan tentang hapus outsourcing dan upah murah, Disnaker pun sudah melakukan pembenahan. Baik untuk industri elektronik maupun galangan kapal.

Sriyanto tidak menampik jika banyak kendala dalam penyelesaian kasus. Oleh karena itu, ia menganggap Serikat pekerja adalah kepanjang tangan dari Dinas Tenaga Kerja. Kalau tidak ada serikat pekerja yang ikut membantu tugas pemerintah, Disnaker pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia berharap FSPMI bisa membangun kerja sama yang lebih erat, agar permasalahan keternagakerjaan bisa cepat diselesaikan.

Perda Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing, sebagaimana yang disampaikan oleh Rizky Solihin sudah berjalan. Bahkan, menurut Solohin, Batam menjadi barometer. Banyak dari daerah lain yang berkunjung ke Batam hanya untuk meminta petunjuk terkait dengan Perda tersebut. Dimana pada intinya, didalam perda ini mengatur perihak retribusi yang harus dibayarkan oleh tenaga kerja asing. Kemudian dana tersebut dipergunakan untuk melakukan pelatihan-pelatihan guna meningkatkan kualitas pekerja.

Mendengar penjelasan itu, saya penasaran untuk mengetahui lebih jauh seperti apa sebenarnya Perda IMTA yang dibangga-banggakan itu. Kepada mbah google akhirnya saya bertanya, apa yang menjadi kelebihan dari Perda tentang Izin Mempekerjakan tenaga kerja Asing yang ada di Batam. Dari sini, saya bertemu dengan tulisan YJ Naim berjudul ‘Batam Tarik Dollar Tenaga Kerja Asing.’

Tentu kita masih ingat. Saat itu bulan April tahun 2010. Ribuan pekerja galangan kapal di Batam mengamuk dengan membakar mobil, kantor, gudang dan bahkan pabrik karena tersinggung perkataan seorang tenaga kerja asing.

Kericuhan bermula di ruang kerja sebuah kantor galangan kapal di Tanjung Uncang. Beberapa orang tenaga kerja lokal, pada waktu itu, dimarahi seorang tenaga kerja asing. Parahnya, tenaga kerja asing itu menyebut seluruh orang Indonesia bodoh.

Perkataan orang asing itu menyulut emosi ribuan pekerja. Hanya berselang beberapa jam, pabrik dipenuhi buruh yang hatinya terluka karena disebut “bodoh”. Rasa nasionalisme juga membakar hati banyak pekerja lainnya yang kemudian berkumpul di halaman dalam dan luar pabrik.

Sebenarnya, beberapa orang percaya, aksi buruh pada Kamis 22 April 2010 itu adalah akumulasi dari kemarahan pekerja atas “tingkah” tenaga kerja asing dan kecemburuan atas fasilitas yang diberikan kepada pekerja asing.

Di beberapa sisi, hubungan antara tenaga kerja asing dengan tenaga kerja lokal memang kurang harmonis. Jabatan tenaga kerja asing sebagai “bos” membuat pekerja lokal harus menerima perintah. Apalagi, kebanyakan tenaga kerja asing diberikan fasilitas super wah dibanding buruh lokal oleh perusahaan tempat mereka bekerja yang harus terengah-engah menyusun pengeluaran uang karena gaji yang relatif kecil.

Sebagai salah satu kota industri terbesar di Asia Pasifik, sebenarnya tidak heran jika Batam dipadati tenaga kerja asing. Mereka berasal dari berbagai negara. Mulai dari Eropa, Australia, Amerika, India hingga negara jiran Singapura.

Dinas Tenaga Kerja Kota Batam, pada 2011 sempat merilis terdapat 5.181 pekerja asing mencari nafkah. Diperkirakan, jumlahnya lebih banyak dari data yang dimiliki Disnaker.

Para pekerja asing menguasai hampir setengah lapangan pekerjaan, mulai dari inspektur pekerja di lapangan hingga bagian administrasi di kantor. Hal ini yang membuat pekerja lokal tergeser. Sebenarnya, pemerintah pusat sudah menyusun strategi alih tenaga kerja dengan memberlakukan iuran Dana Pengembangan Keahlian dan Ketrampilan (DPKK) kepada tenaga kerja asing.

Tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia harus membayar DPKK sebesar 100 dolar AS per bulan. Uang yang dikumpulkan itu kemudian disalurkan untuk pengembangan keahlian dan ketrampilan pekerja lokal.

Tujuannya, diharapkan keterampilan dan keahlian pekerja lokal bertambah, sehingga kemudian industri tidak lagi membutuhkan tenaga kerja asing. Dan seluruh posisi strategis perusahaan bisa dikuasai pribumi. Sayangnya, DPKK yang disetor sekitar 5.000 pekerja asing ke kas negara belum menyentuh pekerja lokal. Balai Pelatihan Kerja yang ada di Batam terkesan sepi dari kegiatan.

Pada akhir 2012, pemerintah menerbitkan PP Nomor 97 Tahun 2012 tentang Retribusi Perpanjangan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA). Dengan PP itu, pemerintah daerah bisa menarik langsung retribusi tenaga kerja asing dan mengelola uangnya.

Pemerintah Kota Batam menyambut PP itu dengan optimistis dan langsung menyusun Perda IMTA yang disahkan awal Februari 2013.

Sesuai dengan Perda, mulai Maret 2013, tenaga kerja asing yang hendak memperpanjang IMTA diwajibkan membayar retribusi. Besarannya sama dengan DPKK yang dulu dibayarkan ke pemerintah pusat, yaitu 100 dolar AS per bulan.

Pemerintah Kota menargetkan penerimaan kas daerah sebesar Rp 24 miliar per tahun dari retribusi perpanjangan IMTA itu dengan asumsi sebanyak 2.000 orang tenaga kerja asing. Dari penerimaan itu, kata dia, sebanyak 70 persen harus dialokasikan untuk kegiatan pengembangan keahlian dan keterampilan tenaga kerja lokal. Sayangnya ketentuan 70 persen itu baru berlaku setelah lima tahun Perda diterapkan.

Dananya itu bisa digunakan untuk membangun dan mengoperasikan Balai Latihan Kerja untuk meningkatkan kemampuan pekerja lokal. Diharapkan, dengan peningkatan kemampuan maka pekerja lokal dapat menggantikan posisi tenaga kerja asing di perusahaan-perusahaan. Selain itu, dana ini juga dapat digunakan untuk sertifikasi profesi berstandar internasional. (Kascey)

(Bersambung)

Ini adalah catatan serial saat Tim Media FSPMI mengikuti Rakernas SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, 19 ~ 22 April 2014

Melintasi Batas Negara 5: Atas Nama Cinta

Anggota DPRD Batam Rizky Solihin

Anggota DPRD Batam Rizky Solihin

Namanya Ricky Solihin. Laki-laki ini adalah anggota DPRD Batam. Meskipun berstatus sebagai anggota dewan, namun ia tidak lagi mencalonkan kembali dalam pemilihan legislatif pada 9 April 2014 ini. Didalam Rakernas III SPEE FSPMI, politisi PKB ini hadir untuk memberikan sambutan.

Solihin memulai sambutannya dengan mengucapkan selamat kepada calon legislatif dari buruh yang terpilih sebagai anggota dewan. Buru-buru ia menambahkan, “Kalau pun itu ada.”

Kami tertawa. Bertepuk tangan sambil serentak mengucapkan satu kata, “Ammin….”

Disaat rekapitulasi suara tengah berlangsung seperti sekarang ini, dimana banyak kader FSPMI yang direkomendasikan menjadi caleg, segala hal tentang pemilu memang menarik untuk dibicarakan. Disinilah kami bisa mentertawakan kegagalan. Bahkan, merayakan kemenangan.

“Tetapi saya dengar banyak yang resah,” Solihin melanjutkan kalimatnya. Caleg buruh belum mendapatkan suara yang maksimal.

“Dicurangi,” teriak seseorang. Kami tersenyum. Bukan rahasia lagi, jika pemilu sarat dengan kecurangan. Apalagi untuk aktivis serikat buruh seperti kami, yang notabene bukan kader partai.

Pemilu juga menjadi pertanda akan hadirnya pemimpin baru. Suasana baru. Semangat baru. Itulah juga yang kita harapkan akan lahir dari gerakan buruh. Apalagi Rakernas kali ini diselenggarakan dalam suasana itu.

Di DPRD Batam, Solihin duduk di komisi empat, yang salah satunya membidangi masalah perburuhan.

“Ini adalah komisi yang paling sering didemo oleh buruh,” katanya. Tetapi ia mengambil hikmah. Seringnya menemui perwakilan buruh yang hendak menyampaikan aspirasi, membuatnya  akrab dengan para pemimpin buruh.

Solihin menuturkan, ia banyak bekerjasama dengan buruh. Terutama dalam melakukan advokasi anggaran untuk melakukan pemberdayaan dan peningkatan keahlian terhadap kaum buruh di Kota Batam. Salah satu capaian yang menonjol adalah, terkait dengan adanya Peraturan Daerah tentang Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing. Dana itu sekarang menjadi kewenangan daerah. Semula, asumsinya Kota Batam akan mendapatkan  pemasukan sebesar 21 milliar. Tetapi pendapatan itu melampaui target. Terkumpul dana sebesar 29 milliar. Dimana seluruh dana ini dipergunakan hanya untuk memberdayakan pekerja di Batam. Bukan untuk yang lainnya.

Sebagai anggota legislatif, Solihin mengaku sering mendapatkan keluh kesah dari berbagai pihak. Seperti, misalnya, dari Ikatan Praktisi Sumber Daya Manusia, Apindo, maupun Kadin. Tak hanya kalangan pengusaha. Hampir semua pihak berkeluh kesah. Buruh berkeluh kesah tentang lambatnya penegakan hukum. Pengusaha berkeluh kesah tentang demo buruh. Pemerintah curhat mengenai aksi-aksi buruh yang cenderung meningkat.

Mengapa setiap orang curhat?

Menurut Solihin, hal itu terjadi karena adanya krisis kepercayaan. Antar pihak tidak lagi saling percaya. Mereka saling curiga. Karena kecurigaan itu, akibatnya, semakin susah untuk menyelesaikan perselisihan. Ketika ada masalah yang muncul, bukan semangat penyelesaian yang dikedepankan. Tetapi kecurigaan dibesar-besarkan.

“Hilangkan kecurigaan itu,” kata Solihin.

Landasan penyelesaian terhadap setiap permasalahan bukanlah kecurigaan. Bukan juga atas dasar kemarahan. Geram. Dendam. Bisa jadi masalahnya sepele. Bisa diselesaikan dengan mudah. Tetapi karena kemarahan yang dikedepankan, justru hal yang mudah itu menjadi semakin rumit.

Seharusnya penyelesaian masalah didasarkan atas cinta. Dengan cinta, hal sesulit apapun akan terasa mudah diselesaikan. Solihin mengajak peserta Rakernas untuk melandasi tindakan dengan kecintaan itu. Termasuk ketika menyusun rekomendasi dalam rapat kerja, agar rekomendasi itu memiliki makna. (kascey)

(Bersambung)

Ini adalah catatan serial saat Tim Media FSPMI mengikuti Rakernas SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, 19 ~ 22 April 2014

Melintasi Batas Negara 4: Sambutan Hangat Teman Seperjuangan

Masing-masing perwakilan SPA FSPMI memberikan sambutan dalam Rakernas III SPEE FSPMI.

Masing-masing perwakilan SPA FSPMI memberikan sambutan dalam Rakernas III SPEE FSPMI.

Sebagai sebuah federasi, FSPMI terdiri dari beberapa serikat pekerja anggota. Serikat pekerja yang menjadi anggota FSPMI adalah Serikat Pekerja Elektronik Elektrik (SPEE), Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen (SPAMK), Serikat Pekerja Logam (SPL), Serikat Pekerja Perkapalan dan Jasa Maritim (SPPJM), Serikat Pekerja Dirgantara (SPD), dan Serikat Pekerja Aneka Industri (SPAI). Serikat-serikat itu, meskipun berbeda, sesungguhnya adalah satu. Satu keluarga besar FSPMI.

Sebagai sebuah keluarga, dalam Rakernas III SPEE FSPMI ini juga dihadiri oleh perwakilan SPA FSPMI. Selain sebagai bentuk penghormatan, kehadiran perwakilan masing-masing SPA FSPMI sekaligus juga untuk meneguhkan semangat persatuan.

Pelaksanaan Rakernas masing-masing SPA FSPMI dilakukan dalam waktu yang berdekatan. SPL FSPMI dan SPPJM FSPMI menyelanggarakan Rakernas di Jogjakarta. Rakernas SPAMK FSPMI diselenggarakan di Lombok. Sementara pelaksanaan Rakernas SPAI FSPMI dipusatkan di Surabaya.

Masing-masing SPA FSPMI akan mengirimkan perwakilannya dalam masing-masing Rakernas tersebut. Mewakili SPPJM FSPMI, Sulaiman Ibrahim mengucapkan selamat atas terselenggaranya Rakernas III SPEE FSPMI. Aktivis senior ini berharap, Rakernas dapat melahirkan keputusan-keputusan yang bermanfaat serta strategis bagi organisasi.

“Saya mengingatkan, bahwa generasi yang sekarang ini ada dan Anda sebagai pemimpinnya, karena ada generasi yang lalu. Karena itu saudara mempunyai kewajiban untuk melahirkan generasi yang akan datang. Generasi yang lebih maju dan lebih berkualitas,” kata Sulaiman Ibrahim. Selanjutnya pria yang juga menjadi Ketua DPW FSPMI Provinsi Lampung ini mengingatkan agar peserta Rakernas berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Senada dengan Sulaiman Ibrahim, Supano GP yang hadir mewakili SPAMK FSPMI juga mengucapkan selamat atas terselenggaranya Rakernas III SPEE FSPMI. Evi dan Hanifah, mewakili SPL FSPMI dan SPAI FSPMI berharap agar Rakernas ini mampu menyalakan spirit perjuangan ditubuh FSPMI. SPEE tidak akan pernah mati, sebagaimana tema yang digunakan dalam Rakernas kali ini.

Bagi serikat pekerja anggota di FSPMI, Rakernas memiliki fungsi yang sangat strategis. Dan meskipun diselengarakan di hotel, tetapi didanai sendiri oleh organisasi. Pelaksanaan Rakernas menghabiskan dana ratusan juta. Ini bukan untuk berlebih-lebihan. Tetapi untuk menunjukkan, bahwa SPEE FSPMI adalah organisasi besar dan modern.

Memang disinilah kelas kita, sebagai organisasi serikat pekerja yang disebut-sebuat sebagai lokomotif gerakan kaum buruh di Indonesia. Untuk mengikuti Rakernas ini, peserta dari PC dan PUK dari luar Batam yang ikut dalam Rakernas dikenakan biaya sebesar 3 juta. Sementara peserta dari Batam dikenakan biaya sebesar 1,5 juta. Kita mampu melakukan ini. Mengapa? Karena organisasi dihidupi dari iuran anggota, bukan dari uluran tangan pengusaha maupun penguasa.

Dan karena pelaksanaan Rakernas ini dibiayai dari iuran anggota, catatan pelaksanaan Rakernas ini sekaligus menjadi pertanggungjawaban. Agar mereka tahu seperti apa proses pelaksanaan Rakernas diselenggarakan. Keputusan dan gagasan apa yang dihasilkan. (Kascey)

(Bersambung)

Ini adalah catatan serial saat Tim Media FSPMI mengikuti Rakernas SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, 19 ~ 22 April 2014)

Melintasi Batas Negara 3: Pantun Penyemangat dari Amzakar Ahmad

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan ESDM Amzakar Ahmad memberikan sambutan dalam Rakernas III SPEE FSPMI mewakili Walikota Batam.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan ESDM Amzakar Ahmad memberikan sambutan dalam Rakernas III SPEE FSPMI mewakili Walikota Batam.

Spanduk didepan cukup menarik perhatian. Kalimatnya sederhana. Tapi mengena: ‘EE Gak Ada MatinyEE’. Kalimat inilah yang menjadi tema Rakernas III SPEE FSPMI.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tema Rakernas selalu menggambarkan semangat perjuangan. Semacam pesan, bahwa organisasi ini boleh saja diterjang badai. Tetapi disetiap permasalahan yang dihadapi justru akan menempa mereka menjadi semakin dewasa. Bertambah kuat. SPEE FSPMI tak akan pernah mati.

Rakernas III SPEE FSPMI juga dihadiri oleh Walikota Batam yang diwakili oleh Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan ESDM Kota Batam Amzakar Ahmad. Dinas Tenaga Kerja Kota Batam yang diwakili oleh Sriyanto. Anggota DPRD Batam Ricky Solihin dan perwakilan dari SPA FSPMI.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Seminar dan Dialog Motivasi tentang Perspektif dan Tantangan Dunia Usaha yang disampaikan oleh Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia Jepang Rahmat Gobel.

Dalam sambutannya, mewakili Walikota Batam, Amzakar Ahmad mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan Pusat SPEE FSPMI yang telah menunjuk Batam sebagai tempat penyelenggaraan Rakernas. Menurutnya, pilihan untuk menjadikan Batam sebagai tuan rumah Rakernas sangat tepat. Mengingat Batam adalah kota industri yang strategis. Khususnya untuk sektor industri elektronik elektrik.

“Saat ini di Batam terdapat 5.608 perusahaan. Sebagian besar bergerak disektor elektronik elektrik,” kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan ESDM Kota Batam itu.

Ia berharap, rapat kerja nasional ini akan melahirkan kebijakan organisasi yang berpihak kepada kepentingan pekerja pada satu sisi, dan dunia usaha pada sisi yang lainnya. Menurut Ahmad, sinergisitas antara pekerja dan pengusaha diperlukan oleh bangsa Indonesia untuk memasuki era ASEAN Community 2015.

“Kalau tidak ada harmonisasi antara pelaku dunia usaha, maka ASEAN Community hanya akan memberikan ruang bagi masuknya arus modal, jasa dan tenaga kerja,” katanya.

Terbentuknya Komunitas ASEAN 2015 ini diharapkan dapat menjawab semua tantangan dan permasalahan yang terjadi pada Negara-Negara yang tergabung dalam keanggotaan ASEAN. ASEAN Community memiliki tiga pilar penting, yaitu ASEAN Political-Security Community, ASEAN Economic Community, dan ASEAN Socio-Cultural Community. Komunitas ASEAN ini semula akan dilaksanakan pada tahun 2020. Tetapi dalam KTT ASEAN di Bali tahun 2013, negara peserta ASEAN sepakat menyelenggarakan “Bali Concord II” atau “Kesepakatan Bali II” lebih awal yaitu tahun 2015.

Dengan begitu tidak ada lagi sekat yang menghalangi arus perdagangan, arus budaya, arus ideologi, dan penegakan hukum di antara negara anggota. Ide ini diharapkan mampu mewujudkan keseimbangan baru di antara negara-negara ASEAN. Dan tentu saja, dikarenakan komunitas ini akan diimplementasikan pada dua tahun mendatang, ASEAN Community 2015 memunculkan persaingan ketat antara negara.

Apalagi, Komunitas Ekonomi ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan basis produksi, kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi, kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata, dan juga kawasan yang terintegrasi penuh dengan ekonomi global. Sebagai konsep integrasi ekonomi ASEAN, ASEAN Economic Comunity akan menjadi babak baru dimulainya hubungan antar negara ASEAN sebagai single market dan single production base meliputi free trade area, penghilangan tarif perdagangan antar negara ASEAN, pasar tenaga kerja dan modal yang bebas, serta kemudahan arus keluar-masuk prosedur antarnegara ASEAN.

Jika Indonesia tidak mempersiapan secara matang, ASEAN Community hanya akan menyebabkan daya saing bangsa ketinggalan. Jika kita tidak siap menghadapi ini, tidak menutup kemungkinan nantinya yang mengisi rumah sakit kita adalah dokter-dokter dari Malaysia atau Singapura. Dunia industri kita  akan dipenuhi orang-orang mereka. Begitu juga dengan dosen-dosen kita. Oleh karena itu, menurut Ahmad, Rakernas III SPEE FSPMI ini perlu juga untuk mendiskusikan perihal peningkatan kompetensi dan kompetisi para pekerja.

Terkait dengan upah minimum, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan ESDM Kota Batam juga menjadi salah satu dinas yang iktu serta melakukan survey. Menurut Ahmad, sejauh ini pihaknya selalu melakukan intervensi terhadap harga. Hal ini dilakukan agar inflansi tetap terkendali. Tidak terlalu tinggi.

Bagi saya, ketika Amzakar Ahmad menyinggung tentang upah — meskipun hanya secara singkat — hal itu menjadi indikator bahwa isu perjuangan yang diusung FSPMI sudah menjadi perhatian. Upah sudah menjadi isu penting yang menjadi perhatian khusus bagi para penyelenggara kebijakan.

Amzakar Ahmad mengakhiri sambutannya dengan sebuah pantun: Memancaing ikan diwaktu pagi, dapat seekor ikan kerapu. Harapan saya melalui Rakernas III ini, Serikat Pekerja Metal Indonesia semakin maju.

Sesaat setelah Ahmad membacakan pantun itu, kami memberikan tepuk tangan meriah. Seperti mendapatkan kehormatan, ketika seorang kepala dinas sengaja membacakan sebuah pantun yang khusus ditujukan untuk acara ini.  (Kascey)

(Bersambung)

Ini adalah catatan serial saat Tim Media FSPMI mengikuti Rakernas SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, 19 ~ 22 April 2014)

Melintasi Batas Negara 2: Seperti Teman Lama yang Berjumpa Kembali

 

Di Bandar Udara Internasional Hang Nadim, kami dijemput kawan-kawan FSPMI Batam.

Di Bandar Udara Internasional Hang Nadim, kami dijemput kawan-kawan FSPMI Batam.

Setelah terkantuk-kantuk selama satu jam di boarding room Bandara Soekarno Hatta, akhinrua pengumuman itu terdengar. Penumpang Lion Air tujuan Batam dengan nomor pesawat JT 376 diminta naik ke pesawat. Saya segera bergegas.

Didalam pesawat, saya duduk di kursi nomor 28D. Disebelah saya Herfin. Sementara diujung sana, dekat jendela, seseorang warga Negara asing. Sama seperti saya, Herfin juga menjadi salah satu anggota Tim Media FSPMI yang ikut meliput jalannya Rakernas III SPEE FSPMI. Selesai mengikuti rangkaian Rakernas dari Batam hingga Singapura, kami berencana kembali ke Batam untuk mengisi pelatihan menulis.

Tak lama kemudian, Pramugari meminta kami bertiga untuk pindah tempat duduk, dekat pintu darurat. Rupanya dikursi dekat pintu darurat itu diduduki oleh ibu-ibu. Kami berpindah tempat duduk. Ternyata untuk duduk disamping pintu darurat pesawat tidak bisa sembarang orang. Penumpang yang duduk disamping pintu tersebut memenuhi persyaratan tertentu.

Kami diberi penjelasan oleh Pramugari tentang prosedur membuka emergency exit apabila ada hal darurat terjadi. Keuntungan lain adalah ada ruang yang cukup lega di depan kursiuntuk berselonjor kaki. Ada lagi, di dekat Emergency Exit itu ada kursi yang harus diduduki oleh pramugari cantik ketika pesawat sedang take off, landing atau memasuki turbulensi. Ini menjadi hiburan tersendiri.

Ini pesawat serasa milik sendiri. Maklumlah, rombongan kami berjumlah puluhan orang, dengan kursi yang saling berdekatan. Bercanda. Saling ledek sesama teman. Berbeda sekali jika dibandingkan dengan naik pesawat sendiri. Sepi.

Selama penerbangan, saya menghabiskan waktu dengan membaca majalah yang disediakan secara cuma-cuma. Tertulis dimajalah itu berbagai destinasi yang menarik hati. Semacam promosi agar mereka yang membaca mengunjunginya. Jenuh membaca, pemandangan diluar sana menjadi sasaran berikutnya. Ketika berada didalam pesawat, saya suka berlama-lama memandang keluar. Melihat laut yang membentang, sungai yang mengular, pulau-pulau kecil di pinggiran Sumatera. Ajaib sekali rasanya bisa terbang seperti ini untuk melintasi ruang dan waktu.

Sesampainya di Bandar Udara Internasional Hang Nadim, kami mengantri di tempat pengambilan bagasi untuk mengambil barang bawaan kami. Ke Batam, kami memang sengaja membawa sekardus buku ‘Cerita dari Bekasi.’

Bandar Udara Hang Nadim merupakan bandar udara internasional yang terletak dikelurahan Batu Besar, kecamatan Nongsa, kota Batam, provinsi Kepulauan Riau. Bandar udara ini mendapatkan nama dari Laksamana Hang Nadim yang termahsyur dari Kesultanan Malaka.

Diluar, kawan-kawan FSPMI Batam sudah menunggu. Mereka sengaja menjemput kami untuk selanjutnya menuju tempat penyelenggaraan Rakernas dengan menggunakan travel. Senang sekali diperlakukan istimewa layaknya keluarga sendiri. Nama-nama seperti Yoni Mulyo Widodo, Frezi Anwar, Herlina, Juli Efiani, Diana Sari, Wita Sumarni, dan kawan-kawan lain dari Batam menyambut kami dengan hangat. Kami diperlakukan seperti teman lama yang datang kembali untuk bertamu. Meski sebenarnya, banyak diantara mereka baru sekali ini bertemu. Saya menjadi salah satu.

Disinilah saya sekarang. Batam. Menghirup udaranya. Menginjakkan kaki di tanahnya.

Ini adalah salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Riau, yang terletak diantara Selat Malaka dan Singapura. Puluhan tahun yang lalu, sebelum  mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat, Batam merupakan sebuah pulau kosong berupa hutan belantara yang nyaris tanpa denyut kehidupan. Meskipun demikian, di pulau ini terdapat beberapa kelompok penduduk yang lebih dahulu mendiami. Mereka berprofesi sebagai penangkap ikan dan bercocok tanam. Mereka sama sekali tidak banyak terlibat dalam mengubah bentuk fisik pulau ini yang merupakan hamparan hutan belantara.

Menurut situs Badan Pengusahaan Batam, pada tahun 1970-an Batam mulai dikembangkan sebagai basis logistik dan operasional untuk industri minyak dan gas bumi oleh Pertamina. Kemudian berdasarkan Kepres No. 41 tahun 1973, pembangunan Batam dipercayakan kepada lembaga pemerintah yang bernama Otorita Pengembangan Industri Pulau Batam atau sekarang dikenal dengan Badan Pengusahaan Batam (BP Batam). Dalam rangka melaksanakan visi dan misi untuk mengembangkan Batam, maka dibangun berbagai insfrastruktur modern yang berstandar internasional serta berbagai fasilitas lainnya, sehingga diharapkan mampu bersaing dengan kawasan serupa di Asia Pasifik.

Beberapa tahun belakangan ini telah digulirkan penerapan Free Trade Zone Batam (FTZ Batam), Bintan, dan Karimun yang mengacu pada UU No 36 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas dan kemudian dirubah beberapa kali melalui PERPU, sehingga di undangkan menjadi UU no 44 tahun 2007. Ada juga Undang-Undang 36 tahun 2000 Tentang ” Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No 1 Tahun 2000 Tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Menjadi Undang Undang serta masih banyak Undang-Undang lainnya yang berkaitan dengan FTZ Batam. Kemudian di saat masa akhir jabatan anggota DPR Pusat tahun 2009, bersama dengan pemerintah pusat dibahas mengenai UU Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang akan memayungi pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus di daerah Batam dan daerah lainnya di Indonesia.

Berbagai kemajuan telah banyak dicapai selama ini, seperti tersediannya berbagai lapangan usaha yang mampu menampung angkatan kerja yang berasal hampir dari seluruh daerah di tanah air. Begitu juga dengan jumlah penerimaan daerah maupun pusat dari waktu ke waktu terus meningkat. Hal ini tidak lain karena semakin maraknya kegiatan industri, perdagangan, alih kapal, dan pariwisata. Batam tumbuh sebagai daerah yang berkembang pesat.

Tidaklah berlebihan jika kemudian SPEE FSPMI menjadikan Batam sebagai tempat untuk menggelar Rakernas mereka. (Kascey)

 

(Bersambung)

Ini adalah catatan serial saat Tim Media FSPMI mengikuti Rakernas SPEE FSPMI di Batam dan Singapura, 19 ~ 22 April 2014)