Departemen Perempuan Selenggarakan ToT

Cisarua-20130907-00185

Oleh: Anita

Sejak hari Jumat-Minggu, tanggal 6-8 September 2013, sebanyak 25 orang Perempuan anggota FSPMI mengikuti Pendidikan ToT yang diselenggarakan oleh Departemen Perempuan DPP FSPMI. Peserta merupakan Perwakilan dari masing-masing SPA yang ada.

Pendidikan ToT kali ini mengusung tema: Dengan ToT kita jadikan Pekerja perempuan yg cerdas dan berloyalitas.

Adapun tujuandari diadakannya Pendidikan ToT ini adalah untuk menyaring dan menciptakan kader-kader baru Perempuan untuk bisa  menjadi seorang Fasilitator atau Trainer yang memiliki kemampuan dan siap mengemban tugas organisasi bersama kawan-kawan pekerja laki-laki.

Peserta mengikuti pendidikan yang dilaksanakan selama 3 hari ini diikuti dengan antusias. Mereka juga berharap kedepan agenda-agenda seperti ini dilaksanakan berkesinambungan. Tidak hanya ToT, tetapi juga pendidikan-pendidikan dengan tema yang lainnya.

Dalam kesempatan ini, buruh perempuan juga mengeluhkan sedikitnya kesempatan yang diberikan untuk kaum perempuan, padahal mereka juga sangat ingin bisa mengikuti dan berkonstribusi untuk organisasi, sama seperti yang dilakukan oleh kawan-kawan buruh laki-laki. Dalam beberapa hal, ‘diskriminasi’ untuk aktivis perempuan masih terjadi: ditingkat unit kerja maupun pusat.

Semoga setelah Pendidikan ToT ini makin banyak lagi kawan-kawan perempuan yang maju dan mau bergerak. (AI)

.

Baca Juga:

Ketika Wanita Tak Sekedar Ingin Dimengerti

 

Ketika Wanita Tak Sekedar Ingin Dimengerti

_ID_ Anita Bakri-1378519859769Karena wanita ingin dimengerti
Lewat tutur lembut dan laku agung
Karena wanita ingin dimengerti
Manjakan dia… dengan kasih sayang

 

Ketika menuliskan laporan ini, saya teringat sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Ada Band, “Karena Wanita (Ingin Dimengerti)”. Akan tetapi, tulisan ini bukan tentang lagu. Ini adalah tentang pendidikan TOT yang diselenggarakan oleh Departemen Perempuan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di Training Center FSPMI pada tanggal 6 hingga 8 September 2013.

Saya kira, bukan sekedar ingin dimengerti. Lebih dari itu, buruh perempuan Indonesia, semestinya juga diberi ruang untuk mengaktualisasikan diri. Diberikan kesempatan untuk berbhakti untuk negeri ini. Dan jika kesempatan itu ada, saya termasuk yang percaya, bahwa perempuan bisa.

Semangat itu, terpancar dari tema yang diambil dalam pendidikan kali ini: “Dengan TOT kita jadikan pekerja perempuan yang cerdas dan berloyalitas.” Tema ini cukup heroik. Setidaknya mencerminkan adanya keteguhan hati, bahwa buruh perempuan tak mau ketinggalan dalam mendedikasikan dirinya untuk perubahan.

Pendidikan TOT ini diikuti oleh 20 orang peserta, yang keseluruhannya adalah perempuan. Mereka berasal dari perwakilan SPA.

Selama 3 (tiga) hari ini, mereka belajar bagaimana cara menjadi fasilitator yang baik. “Harapannya, setelah pendidikan ini, perempuan diberi kesempatan untuk menjaditutor dalam pendidikan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang. Khususnya untuk pendidikan dasar,” ujar Anita, salah satu panitia.

Memang, ada pepatah yang mengatakan demikian: ilmu yang tak diamalkan bagai pohon yang tak berubah. Demikian halnya pendidikan spesialis yang ditujukan untuk menjadi “pengajar” ini pun hanya akan berakhir sia-sia jika kemudian tidak¬†dipraktekkannya. Dan tentu saja, untuk itu harus diberikan kesempatan.

Kita sering mendengar istilah, dijerumuskan. Awalnya akan sulit. Terkesan dipaksakan. Tetapi biarkanlah begitu. Pada akhirnya, setelah terbiasa, kawan – kawan perempuan ini pun akan menjadi mahir dengan sendirinya. (Kascey)