Mbok Karsinem

IMG_00000673_editOleh: Handoko Wibowo

Setelah Jepang menyerah kalah, Indonesia merdeka.

Lalu si anak orang Belanda yang menjadi pemilik onderneming (perkebunan) datang lagi ke Indonesia. Ingin menjajah kembali bumi pertiwi. Orang-orang memanggilnya Tuan Broon.

Hingga satu ketika, Tuan Broon kawin dengan mbok Karsinem. Si gadis lokal.

Tahun 1956-an, Soekarno menasionalisasi kekayaan perusahaan asing di Indonesia. Termasuk onderneming milik si Tuan Broon itu. Tentu saja, Tuan Broon kecewa dan memutuskan untuk pulang ke Nederland dengan membawa anaknya.

Istrinya, yang tak lain adalah mbok Karsinem, ditinggal sendiri karena WNRI.  Tak lama kemudian si Isteri juga diusir oleh tentara yang menguasai asset perkebunan itu.

Beberapa puluh tahun kemudian, perkebunan tersebut dilelang umum karena Negara tidak becus mengurus. Papah saya membeli lelang setengah dipaksa karena peserta lelang takut berhubungan dengan tentara. Saat itu Tahun 1969.  Perkebunan itu kemudian ditanami cengkeh, sampai sekarang (dulu perkebunan itu kosong).

Sementara pada sisi lain di perkebunan itu, mbok Karsinem hidup dalam baying-bayang sang suami dan anaknya. Beliau kehilangan kesadaran. Berbicara sendiri, suka berkeliling seputar rumah mengetuk jendela dan pintu.

Sewaktu saya tinggal di rumah gaya kolonial itu di tahun 1989, saya menawari beliau untuk tinggal disitu sekalian bantu bersih-bersih rumah. Ketika waras beliau mau bersih-bersih. Bahkan tidur di rumah itu.

Saya menyayangi dia sebagai orang tua. Sepenuh hati. Menganggapnya sebagai keluarga sendiri.

Tetapi bila ‘sakitnya’ kumat, dia tidak kenal siapapun. Kembali dengan tingkahnya. Saya hanya bisa kasihan, tetapi tidak tahu harus berbuat apa.

Beliau meninggal dunia pada pertengahan tahun 1990-an di rumah keluarganya. Setiap malam Jum`at Kliwon, seringkali ada suara orang mengetuk jendela dan pintu rumah saya. Kami menganggap itu adalah rohnya mbok Karsinem yang lagi hadir.

Sekarang rumah yang saya maksudkan itu menjadi sekretariat Omahtani. Banyak orang belajar tentang perjuangan melawan kemiskinan dan penindasan. Termasuk angan-angan Go Politic: menjadikan petani dan buruh sebagai anggota parlemen.

Bila cita-cita itu belum sukses dan saya mati, pasti jendela dan pintu akan diketuk orang: kali ini roh saya yang hendak menengok sekretariat. Persis nasib almarhumah mbok Karsinem.

Tek… tek… tek…. (*)

Lingsang

IMG_00000673_editOleh: Handoko Wibowo

Bentuknya seperti anak kucing. Ia merupakan binatang malam yang liar dan bersifat carnifora. Dalam sebuah gerombolan, jumlahnya bisa mencapai ratusan.

Lingsang menjadi musuh bagi peternak ikan. Karena jika mereka menyerbu, ikan satu kolam bisa habis dalam waktu singkat.

Bagaimana cara mereka bekerja?

Gerombolan Lingsang terlebih dahulu mengaduk-aduk kolam, supaya airnya menjadi keruh. Akibatnya ikan-ikan teler kekurangan oksigen. Si ikan menjadi lemah dan satu persatu mudah ditangkap lalu disantap. Dalam situasi seperti itu sang ikan tidak lagi memiliki daya perlawanan: kehilangan kegesitan.

Bukankah seperti itu sekarang musuh-musuh kaum buruh bekerja? Hampir semua menyerang dari segala penjuru. Buruh disalah-salahkan. Dituding sebagai biang keladi hengkangnya investasi dari negeri ini. Jika hal ini diamini, maka artinya kita telah masuk perangkap kapitalis. Mereka mengatakan hal itu karena hendak mempertahankan kepentingannya sendiri dengan tidak membayar upah tinggi.

Ada kondisi dimana Lingsang menjadi gagal total dan tak berhasil menangkap ikan. Yaitu bila kolam diluaskan. Tanpa batas batas sempit. Sehingga Gerombolan Lingsang tidak mampu mengaduk-aduk air hingga keruh karena luasnya kolam. Akhirnya, selamatlah sang ikan.

Berhati-hatilah dengan cara kerja Lingsang, karena ia ada disekitar kita sendiri. Sangat dekat sekali. (*)

Perjuangan Upah, Perjuangan Untuk Kemanusiaan

IMG_00000636Jika Anda menyempatkan diri berkunjung ke Museum Benteng Vedeburg di Yogyakarta, Anda bisa melihat diorama yang menceritakan sebuah adegan ketika RM. Suryopranoto berdialog dengan pimpinan Pabrik Gula. Dialog itu terjadi ketika buruh Pabrik Gula yang ada di Sekitar Yogyakarta melakukan pemogokan, tepatnya tanggal 20 Agustus 1920. Hasilnya, Belanda akhirnya menyetujui kenaikan upah para buruh di Pabrik Gula itu.

Dampak dari pemogokan itu kemudian meluas hingga ke buruh-buruh perkebunan, pegadaian, hingga kereta api. Gerakan yang semakin meluas inilah, yang kemudian diyakini menjadi penentu bagi terciptanya perubahan.

Dua puluh lima tahun kemudian, barulah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Fakta ini mempermudah kita untuk memahami, bahwa perjuangan untuk mendapatkan upah yang lebih baik menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari sejarah bangsa ini. Ia senantiasa diperjuangkan, bahkan dimasa – masa pra kemerdekaan. Sebuah perjuangan yang panjang dan diyakini belum usai hingga saat ini.

Jangan-jangan, besarnya upah yang kita terima sekarang adalah bagian dari apa yang mereka perjuangkan. Tiba-tiba saja kita mendapatkan gaji tiap bulan. Tanpa pernah tahu, apalagi mengerti, bagaimana perjuangan untuk mendapatkan UMK itu sendiri.

Terlepas dari apapun motivasi seseorang ketika memutuskan untuk bekerja: upah menjadi inti dari kerja itu sendiri. Seberapa besar upah yang kita terima, sebesar itulah tenaga kita dihargai. Dari seberapa besar tenaga kita dihargai itulah, kualitas dari kehidupan kita akan ditentukan.

Tuntutan buruh agar UMK 2014 dinaikkan 50% sejatinya untuk merespon akan hal itu. Lebih jauh lagi, ia hendak berbicara tentang keadilan. Ketika kondisi ekonomi membaik, ketika harga – harga kebutuhan terus naik, maka menjadi pilihan yang tepat jika besarnya upah juga harus disesuaikan.

Kita mendengar ada yang pesimis dengan kenaikan upah 50% itu.  Tetapi hingga saat ini, belum ada argumentasi yang masuk akal, mengapa upah buruh tidak boleh naik 50%. Semua argumentasi mengarah pada satu hal: kepentingan investasi. Kapitalis. Lalu buruh disalah-salahkan atas hengkangnya beberapa perusahaan.

Saya kira masyarakat luas bisa menilai sendiri, kampanye upah murah itu sesungguhnya untuk siapa. Selama ini tidak ada yang peduli dengan buruh yang berpuluh tahun dibayar murah. Tidak pemerintah. Tidak juga pengusaha. Ketika buruh ingin mengakhiri rezim upah murah, mengapa semua ramai berbicara? Jawabnya, karena mereka tidak rela berbagi keuntungan dengan kita.

Kalian akan diam saja? Tidak, bukan. Mari bergerak! (Kascey)