Aksi Menolak Upah Murah (Foto: Mike L)

Aksi Menolak Upah Murah (Foto: Mike L)

Seringkali kita tak sadar, jika sebuah propaganda tersistematis sedang bekerja untuk melakukan pembodohan kepada kita. Tentang upah, misalnya. Perlahan namun pasti, kekuatan itu bekerja. Ditanamkan pemahaman kepada buruh bahwa upah minimum yang saat ini sudah diputuskan oleh Gubernur sudah sesuai. Berdasarkan rapat dewan pengupahan, yang didalamnya terdapat unsur pengusaha, buruh, pemerintah, dan akademisi.

Namun besarnya upah minimum tak sesuai dengan harapan?

Memang, masih jauh dari target yang diharapkan. Namun jangan salahkan pemerintah atau Gubernur yang menandatangani surat keputusan. “Salahkan serikat pekerja yang melakukan walk out dari rapat dewan pengupahan,” kata mereka. Ini pembodohan pertama.

Pembodohan yang kedua, mereka bilang, permintaannya jauh lebih besar dari yang engkau minta. Jika dirimu hanya meminta 50%, tak tanggung-tanggung, mereka mengatakan akan memperjuangkan diangka 60%. Engkau berdebar mendengarnya. Seolah yakin sekali, keajaiban akan terjadi. Namun faktanya, pernyataan itu berlalu begitu saja seiring dengan bergantinya waktu.

“Nilai UMK sudah diputuskan. Perjuangan telah selesai. Mari kita syukuri,” kata mereka.

“Belum. Belum selesai. Perjuangan masih akan terus kita lanjutkan. Justru ini adalah awal, buat kita untuk melawan lebih keras lagi,” katamu.

“Tapi itulah hasil maksimal yang bisa kita capai. Kita sudah berusaha. Dan lagipula, Gubernur sudah menerbitkan SK,” itu argumentasi mereka selanjutnya.

“Karena itu kita meminta Gubernur untuk meninjau ulang besaran upah minimum yang sudah ditetapkan. Dia memiliki kewenangan untuk melakukannya. Mari kita kepung Kantor Gubernur dengan jumlah massa yang maksimal.”

“Percuma. Gubernur tak akan merevisi,” mereka sangat yakin sekali. “Biarkan kami tetap disini. Buat apa buang-buang biaya dan energy. Jauh-jauh pergi ke Bandung untuk sesuatu yang sudah bisa kita prediksi: upah minimum naik sesuai dengan rekomendasi?” Jawabnya.

“Dengan atau tanpa kalian kami akan terus bergerak. Persoalan upah tak hanya selesai di meja dewan pengupahan,” katamu.

Seperti biasa, selalu ada alasan untuk menjadi pembenar dari setiap tindakan. Mereka bilang, aksi walk out yang dilakukan anggota Dewan Pengupahan adalah penyebab upah murah ini. “Coba kalau kalian tidak walk out, kita pasti bisa memenangkannya. Dengan meninggalkan meja perundingan, itu artinya mereka sebagai pecundang,” katanya, malam itu.

Setelah mendengarkan penjelasan dari wakil-wakilmu yang duduk didalam dewan pengupahan, engkau baru menyadari jika dengan kalimat mereka tadi sesungguhnya sedang mengarahkan telunjuk kepada diri sendiri. Barangkali memang seperti inilah ciri orang yang sedang terjangkiti sakit jiwa: merasa selalu benar dan menyalahkan orang lain untuk melakukan pembenaran.

Dengan komposisi dewan pengupahan yang ada, jika pun dilakukan votting, maka hasilnya tetap saja buruh akan kalah. Dan ketika kekalahan itu dihasilkan karena votting, itu artinya telah melegitimasi kekalahan itu sendiri.

Dalam konteks ini, aksi walk out yang dilakukannya justru hendak menegaskan bahwa buruh melawan sekeras-kerasnya ‘pemiskinan’ sistematis terhadap buruh melalui kebijakan upah murah.  Menolak menjadi bagian dari pihak yang akan melegitimasi upah murah di Indonesia. Nyatanya mereka meninggalkan meja perundingan bukan sebagai pecundang, tetapi untuk menyiapkan perlawanan lanjutan.

Mereka hanya diam sembari bertepuk tangan. “Nilai UMK sudah diputuskan. Perjuangan telah selesai. Mari kita syukuri,” katanya.

Kalian membuktikannya. Keesokan harinya, ribuan buruh mendatangi Gedung Sate untuk meminta Gubernur agar upah minimum hasil rekomendasi dewan pengupahan ditinjau ulang.

Mereka masih sempat mengatakan, “Mereka piknik ke Bandung. Bertamasya ke Gedung Sate.”

“Kita syukuri saja yang ada. Lebih baik makan singkong tapi nyata daripada makan roti tapi hanya didalam mimpi.”

Saya yang mendengarnya, hanya bisa mengelus dada. Tadinya, saya berfikir tak penting menanggapi hal-hal sepele seperti ini. Namun seorang kawan mengingatkan, jika hal seperti ini tak dijelaskan duduk persoalannya, dikhawatirkan bisa menulari yang lain. Akibatnya akan sangat berbahaya. Sudahlah buruh mendapatkan upah murah, masih dibodohi pula. (Kascey)

Categories: Opini

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *