Dalam bukunya yang berjudul, ‘Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah’, Tere Liye menulis rangkaian kalimat yang indah. Begini bunyinya. “Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, berharap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaannya.”

Saya percaya, cinta adalah kekuatan perubahan yang dahsyat. Tidak berlebihan jika kemudian Erich Fromm menjelaskan kekuatan cinta dalam proses perubahan:

“Pendekatan cinta adalah kebalikan dari pendekatan dengan kekerasan. Cinta berusaha memahami, menguatkan dan menghidupkan. Dengan cinta, seorang individu akan selalu mentransformasikan dirinya. Dia menjadi akan lebih menghargai, lebih produktif, lebih menjadi dirinya sendiri. Cinta tidak sentimental dan tidak melemahkan. Cinta adalah cara untuk mempengaruhi dan merubah sesuatu tanpa menimbulkan ‘efek samping’ sebagaimana kekerasan. Tidak seperti kekerasan, cinta membutuhkan kesabaran, usaha dari dalam. Lebih dari semua itu, cinta membutuhkan keteguhan hati untuk terhindar dari frustasi, untuk tetap sabar meskipun menemui banyak hambatan. Cinta lebih membutuhkan kekuatan dari dalam, kepercayaan daripada sekedar kekuatan fisik.” (Cinta, Seksualitas, Monarki, Gender; 291;2002).

Balon ini akan menerbangkan cita-cita kita setinggi-tingginya. | Foto: Kascey

Balon ini akan menerbangkan cita-cita kita setinggi-tingginya. | Foto: Kascey

Tunggu dulu. Saya tidak hendak menulis tentang cerita cinta. Ini adalah ekspresi kegembiraan saya saat menghadiri kegiatan di Bundaran Hotel Indonesia pada hari Sabtu kemarin (5/7).

Kata orang, Pemilu adalah pesta demokrasi. Selayaknya pesta, saya pun memaknainya dengan gembira.

Lantas ada apa dengan cinta?

Tentu saja, cinta ada apanya. Dan inilah yang saya rasakan. Saat meliput langsung kegiatan FSPMI-KSPI yang di hari terakhir kampanye Pilpres menggelar buka bersama di Bundaran Hotel Indonesia. Sambil menunggu bedug Maghrib berbunyi, mereka membentangkan spanduk dengan mengelilingi kolam air mancur. Kegiatan ini semakin berwarna dengan kehadiran element lain yang ikut bergabung. Membagikan leaflet, bunga, pin, dan juga menerbangkan ratusan balon.

Mereka datang dari DKI Jakarta, Bekasi, Karawang, Tangerang, Purwakarta, Bogor, dan berbagai daerah lain di sekitaran Ibu Kota. Satu hal yang perlu dicatat, kegiatan seperti ini bukan kali pertama mereka lakukan. Hampir setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi, mereka berbondong-bondong untuk ikut berpartisipasi.

Dalam tafsir saya, apa yang mereka lakukan adalah perwujudan dari rasa cinta kepada organisasinya. Wujud kesetiaannya terhadap cita-cita perjuangan.

Rasa itu ia nyatakan dengan ikut berpartisipasi dalam kegiatan organisasi. Bahkan dengan penuh kesadaran ikut mengambil tanggungjawab terhadap apa yang telah organisasi putuskan. Tidak mudah, memang. Tetapi sebagaimana Erich Fromm pernah mengatakan, cinta membutuhkan keteguhan hati untuk tetap sabar meskipun menemui banyak hambatan.

Sementara itu, dari mobil komando, orasi dukungan terhadap Prabowo – Hatta terus terdengar. Begitu juga dengan lagu-lagu berirama gembira yang ditujukan kepada pasangan nomor urut satu. Menjadikan Bundaran Indonesia sore itu sangat meriah. Wajah-wajah ceria terlihat dari ratusan orang yang hadir di HI sore itu.

“Sangat istimewa,” kata Fian singkat. Ketika saya menanyakan kesan yang ia dapatkan dari kegiatan ini.

“Ngapain sih ikutan dukung Prabowo – Hatta?”

“Ya karena aku percaya Prabowo akan berkomitment menjalankan Sepultura,” ujarnya. Rambutnya yang panjang tergerai tertiup angin yang sore itu berhembus lumayan kencang.

Tiba-tiba saya menemukan kata kunci: percaya.

Percaya bahwa apa yang kami lakukan tidak akan sia-sia. Percaya bahwa Sepultura memang harus diperjuangkan. Percaya jika nasib suatu kaum tidak akan berubah jika kaum itu sendiri tidak merubahnya. Saya pun sependapat dengan Fian. Ini memang hari yang istimewa. Saya bisa merasakan kegembiraan itu.

Kegiatan ini mampu memberikan semangat baru. Dan rasanya, semangat ini akan terus bertahan ketika Pemilu telah usai. Kegiatan buka bersama di Bundaran Hotel Indonesia semakin meneguhkan kebersamaan kami. Semakin menguatkan ikatan solidaritas dan tali kekeluargaan. (Kascey)

Melingkari kolam air mancur Bundaran HI | Foto: Kascey

Melingkari kolam air mancur Bundaran HI | Foto: Kascey

Siang Menangkan Prabowo - Hatta Foto: Kascey

Siang Menangkan Prabowo – Hatta Foto: Kascey

Kampanye simpatik untuk memenangkan Prabowo - Hatta  | Foto: Kascey

Kampanye simpatik untuk memenangkan Prabowo – Hatta | Foto: Kascey

Membagikan bunga dan leaflet kepada pengendara | Foto: Kascey

Membagikan bunga dan leaflet kepada pengendara | Foto: Kascey

Selamatkan Indonesia | Foto: Kascey

Selamatkan Indonesia | Foto: Kascey

Saya menyempatkan berfoto dengan berlatar belakang mobil komando Bekasi |Foto: Kascey

Saya menyempatkan berfoto dengan berlatar belakang mobil komando Bekasi |Foto: Kascey

Tidak melupakan kewajiban sebagai umat beragama | Foto: Kascey

Tidak melupakan kewajiban sebagai umat beragama | Foto: Kascey

Suasana BUndaran Hotel Indonesia saat malam tiba | Foto: Kascey

Suasana Bundaran Hotel Indonesia saat malam tiba | Foto: Kascey

Categories: Aksi