IMG_00000687_edit_edit_edit“Kita akan mengatur aksi kita agar lebih terkoordinir dan rapi. Bukan untuk mengurangi intensitasnya, tetapi untuk memperkuat daya gedornya,” demikian ditegaskan oleh Presiden FSPMI/KSPI dalam Rapat Konsolidasi Nasional FSPMI di Cisarua.

Rapat Konsolidasi yang berlangsung sejak tanggal 22 Agustus dan akan ditutup pada siang hari ini  (24/8) memang dimaksudkan untuk melakukan evaluasi internal dan merumuskan kembali strategi perjuangan. Salah satunya terkait dengan dua isu utama perjuangan organisasi: jaminan kesehatan seluruh rakyat per 1 Januari 2013 dan penolakan terhadap upah murah.

Dalam rapat ini juga telah disepakati, bahwa buruh Indonesia akan kembali bergerak untuk menuntut kenaikan upah tahun 2014 sebesar 50 persen. Aksi akan dilakukan secara beruntun pada awal September, mulai dari Bekasi, Bandung, Jakarta, Semarang,  Jawa Timur, Medan, Batam, kemudian berlanjut ke Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Lampung, Aceh, dsb. “Kita juga tengah mempersiapkan untuk melakukan mogok nasional jika tuntutan kita tidak direspon,” tegas Iqbal.

Menyadari bahwa aksi massa merupakan tulang punggung gerakan serikat buruh, dalam rapat konsolidasi yang dihadiri oleh para pimpinan FSPMI se-Indonesia ini juga membahas manajemen aksi. Berikut beberapa catatan penting terkait dengan aksi-aksi yang dilakukan FSPMI:

Pertama, bentuk aksi yang kita lakukan adalah aksi nasional dan aksi daerah. Aksi ini terbagi dalam tiga kategori: (1) bersifat reguler (rutin, seperti May Day, HUT FSPMI, upah); (2) bersifat khusus (berdasarkan isu, seperti tolak kenaikan BBM, tolak RUU Ormas), dan (3) aksi solidaritas.

Kedua, terkait dengan teknis pelaksanaan ketika hendak mengornisir aksi mogok nasional, mogok daerah, dan aksi solidaritas.

Ketiga, tentang mekanisme aksi itu sendiri. Bahwa hakekatnya aksi yang kita lakukan adalah untuk menggerakkan struktur, yaitu dari tingkat DPP, DPW/KC, PC, PUK, dan seluruh anggota. Sedangkan posisi Garda Metal adalah pilar organisasi. Dengan kata lain, struktur lah yang harus bergerak cepat dan optimal.

Keempat, harus dibuat ketentuan organisasi terkait dengan manajemen aksi itu sendiri. Tentu saja, pengaturan ini bukan untuk membuat kita menjadi lebih lambat dalam bergerak. Ketentuan ini kita buat, agar kita semakin kuat dan lebih terkoordinasi.

Kelima, masalah pendanaan.

Keenam, ada rencana untuk membentuk semacam pasukan khusus Garda Metal.

Presiden FSPMI mengingatkan, agar dalam setiap aksi para pimpinan organisasi harus berada dilokasi. “Ketua PC, atau kalau dia berhalangan didelegasikan kepada Sekretarisnya, wajib hadir dilokasi aksi untuk memimpin anggotanya.”

“Kita akan terus bergerak dan berjuang. Sebab apa yang kita perjuangkan adalah tentang kemanusiaan, keadilan, dan kesamaan hak sebagai warga negara. Bukan semata-mata untuk anggota FSPMI, tetapi untuk rakyat Indonesia,” ujar Said Iqbal. (Kascey)

Categories: Kabar Sekretariat

1 Comment

admin · August 27, 2013 at 8:21 am

“Kita juga tengah mempersiapkan untuk mogok nasional jika tuntutan kita tidak direspon,” tegas Iqbal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *