Presiden FSPMI/KSPI, Said Iqbal | Foto: Kascey

Presiden FSPMI/KSPI, Said Iqbal | Foto: Kascey

Oleh: Said Iqbal

Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih dan salam hormat atas kerja keras seluruh pengurus dan anggota KSPI. Sungguh, luar biasa kerja-kerja kalian dalam memberikan dukungan kepada Prabowo – Hatta. Hal itu terbukti, di daerah-daerah industri yang menjadi basis buruh, pasangan nomor urut satu menang.

Itu artinya, kekuatan dan soliditas kita semua bisa diandalkan. Saya melihat, kawan-kawan kita di setiap daerah bergembira menyongsong Pemilu kali ini. Meskipun tanpa bayaran, kita masih bisa melakukannya dengan militan. Saya percaya, KSPI akan semakin teruji dengan semua ini.

Selanjutnya, sebagai Presiden KSPI saya ingin mengingatkan kembali, bahwa dukungan kita kepada Prabowo – Hatta berawal dari  komitment organisasi ini terhadap Sepultura. Oleh karena itu, tidak menjadi persoalan bagi kita siapa yang akan menang dalam Pemilu ini. Sikap kita tidak akan terpengaruh hanya karena hasil Pemilu. Sikap kita sejak awal adalah Sepultura, yang meliputi upah layak dengan 84 item KHL, tidak ada lagi penangguhan upah minimum, penghapusan Outsourcing, jaminan pensiun, jaminan kesehatan, guru honor, UU Pekerja Rumah Tangga, perlindungan TKI, UU Ormas, transportasi publik dan rumah murah.

Sekali lagi, sepuluh tuntutan buruh dan rakyat adalah komitment KSPI. Siapapun presidennya nanti.

Tentu kalau Prabowo menang, akan lebih mudah bagi kita untuk mewujudkannya. Karena kita ikut menjadi bagian dari pengambil keputusan. Tetapi kalau Jokowi menang, saya membayangkan kita akan sedikit mengalami kesulitan. Meskipun demikian, tidak sedikitpun akan mengurangi militansi perjuangan kita terhadap Sepultura.

Seperti yang pernah saya sampaikan ketika  memberikan pernyataan sikap di Rumah Polonia pada tanggal 10 Juli 2014 yang lalu. Bahwa pertarungan kita bukan sekedar memenangkan prabowo. Ini adalah pertarungan idiologis. Sebuah sikap politik yang dilandaskan pada cita-cita perjuangan. Bukan sekedar ambisi pribadi untuk mendapatkan kekuasaan.

Mengapa demikian? Karena serikat pekerja adalah organisasi perjuangan. Ketika Pemilu sudah diselenggarakan dan dukungan sudah diberikan, ia harus menarik diri untuk kemudian menjalankan control social.

Tentang siapa yang akan terpilih sebagai Presiden RI, kita masih akan menunggu hingga KPU mengumumkan secara resmi pada tanggal 22 Juli 2014. Akan tetapi, meskipun Presiden RI yang terpilih sudah ditetapkan, perjuangan kita masih belum selesai. Kita masih harus melunasi janji, bekerja sebaik-baiknya, untuk memastikan point-point didalam Sepultura bukanlah sekedar mimpi.

Dan karena kepentingan kita atas kemenangan Prabowo – Hatta sagatlah besar, maka kita juga akan memastikan untuk ikut serta mengawal proses perhitungan suara yang dilakukan di KPU. Demokrasi kita tidak boleh diciderai dengan quick count. Karena bisa jadi hasil quick count keliru dengan fakta-fakta yang ada di lapangan. Ambil contoh, pada satu ketika di Amerika Serikat hasil quick count pernah salah. Dan sebelumnya, di negeri ini sudah sering terjadi. Tahun 2004 yang laly Mega – Hasyim mengumumkan kemenangannya berdasarkan hasil quick count, nyatanya salah. Di Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengumumkan quick count menang, dan nyatanya juga salah. Oleh karena itu jangan terjebak pada hasil quick count. Mari kita tunggu pengumuman resmi dari KPU.

Mereka mengatakan, hanya kecurangan yang melakukan kesalahan kita. Saya tahu, itu menyakitkan bagi kawan-kawn. Kita tidak melakukan kecurangan. Kita melakukan dengan all out. Dengan terhormat. Kita ketuk pintu agar buruh memahami esensi dari perjuangan kita. Ketika kemudian mereka mengatakan kita memberikan konstribusi atas kemenangan Prabowo dengan berbuat curang, rasanya memang sakit. Tetapi saya tidak mau masuk kedalam perdebatan itu.

Ingatlah saat-saat kita harus bekerja dengan sekuat tenaga. Hanya agar bisa membuat komitment politik supaya Sepultura bisa dijalankan, kita harus melakukan aksi besar-besaran. Kita patungan untuk melakukannya. Kawan-kawan Garda Metal berjalan kaki dari Bandung – Jakarta. Melakukan konsolidasi dan rapat-rapat akbar. Mengetuk setiap pintu dan membagikan leaflet di jalan-jalan. Semua kita lakukan secara mandiri. Oleh karena itu, cita-cita Sepultura tidak boleh berhenti hanya karena Pemilu telah usai.

Jika mereka merasa menang, itu hak mereka. Tetapi juga menjadi hak kita untuk menyampaikan bahwa kemenangan berdasarkan hasil quick count adalah kebohongan. Kemenangan yang benar adalah hasil perhitungan KPU, tanggal 22 Juli 2014.

Tentu saja, Prabowo – Hatta optimis akan menang. Dari data real count Pusat Tabulasi Nasional Koalisi Merah Putih per tanggal 11 Juli 2014 pukul 18.01 Wib kita mendapatkan data yang akurat, bahwa perolehan suara Prabowo Hatta, 45.663.399 (51,58%) Jokowi – JK, 42.866.111 (48,42%).  Dengan total suara yang masuk sebesar 88.529.510 (67%).  Kita akan tetap mengawal proses perhitungan, hingga saatnya nanti KPU mengumumkannya secara resmi. (*)

Catatan: Pernyataan ini disampaikan oleh Presiden FSPMI-KSPI Said Iqbal, dalam acara buka bersama dan penjelasan sikap organisasi pasca Pemilu. Diselenggarakan di Sekretariat DPP FSPMI, tanggal 10 Juli 2014.