Said Iqbal

Rasa keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan yang direndahkan dengan sistem kerja outsourcing. Adanya jurang pemisah antara orang kaya dan orang miskin yang makin lebar. Tidak adanya persamaan hak bagi warga Negara.

Semua fakta yang saya sebutkan diatas, membuat saya selalu resah.

Resah bukan ingin menyerah. Tetapi keresahan yang membuat darah saya mendidih, kapan akan tiba saatnya kekuatan kaum buruh mampu menghentikan itu semua!

Itulah mengapa sikap kita tegas. Tak kenal lelah dalam mengorganisir kekuatan kaum buruh dan melakukan perlawanan. Saya tidak peduli mau dibilang setan, hantu, atau apapun itu. Saya hanya pedului pada tiga hal tadi: keadilan, kemanusiaan dan persamaan.

Saya berani mengkritik Jokowi. Saya tahu, dia diunggulkan dalam berbagai survey dan menjadi kandidat kuat sebagai Presiden di Negeri ini. Tetapi saya tidak peduli. Lagipula ini bukan kebencian sebagai pribadi. Saya hanya menyuarakan suara ratusan ribu kaum buruh DKI Jakarta yang tidak puas atas kinerja orang nomor satu di Provinsi yang menjadi ibu kota Negara Indonesia ini.

Selama Anda tidak berpihak kepada rakyat kecil, kita akan menolak untuk diam. Kritik kita akan tetap tajam!

Sering ada yang mengatakan kepada saya, sekarang buruh sudah bisa beli motor. Sesungguhnya saya sedih mendengar pernyataan ini. Sedih bukan karena buruh tak boleh memiliki motor. Sedih karena sesungguhnya yang harus didapat kaum buruh lebih dari itu.

Seandainya ada transportasi publik yang layak dan murah, tidak mungkin mereka membeli motor. Tahukan Anda, mereka membeli motor itu dengan mengambil porsi yang besar dari upah yang mereka terima. Dia rela berhemat untuk kredit motor, yang seharusnya dengan itu mereka bisa makan dengan layak. Anak-anak mereka bisa mendapatkan pendidikan dengan layak. Tetapi dia relakan itu semua untuk membayar cicilan motor. Karena kalau dia naik angkot, naik ojek, bisa habis hampir seluruh gajinya hanya untuk transportasi.

Dia membeli motor karena Pemerintah tidak memiliki kebijakan publik. Transportasi mahal, harga rumah mahal, akhirnya dia menghemat dengan membeli motor. Dan mengapa kalian tidak pernah mempersoalkan para pengusaha itu, darimana mereka mendapatkan uang untuk hidup bermewah-mewahan? Jika kalian tahu, mereka bisa hidup mewah dari keringat buruh-buruhnya yang bekerja sepanjang waktu!

Makanya berulang-ulang saya bilang: “Kamu boleh kaya. Kamu boleh untung. Pabrik boleh dibangun. Ekonomi boleh tumbuh. Tetapi secara bersamaan, kamu tidak boleh memiskinkan kaun buruh. Itu saja terminologi keadilannya.”

Saya bukan pengagum teori kelas. Saya tidak pernah membaca Das Kapital yang ditulis Mark. Saya tidak pernah baca Madilog-nya Tan Malaka. Saya hanya orang yang kebetulan tahu tentang fakta-fakta ekonomi yang ada di lapangan dan kemudian menemukan adanya ketidakadilan.

Wajar jika kemudian mereka kaget melihat kita menggugat. Karena zona nyaman yang mereka nikmati selama ini mulai terusik!

Selama ini mereka tidak pernah memberikan pensiun kepada buruh-buruhnya. Karena itu kita mempertanyakan perusahaan-perusahaan besar. Kalau kamu investasi di Singapura, kenapa kamu mau membayar pensiun sebesar 33%, dimana 23% pengusaha yang membayar? Kalau kamu investasi di Thailand, kenapa kamu mau membayar pension? Tetapi begitu kamu datang ke Indonesia pada perusahaan yang sama, mengapa kamu tidak mau membayar pension?

“Karena tidak ada aturan yang mewajibkannya,” jawab mereka.

Kalau alasannya nggak ada aturan yang mewajibkan pengusaha harus membayar pensiun, untuk apa kamu datang ke negera kami? Berarti kamu memanfaatkan kelemahan Negara kami! Kamu datang hanya untuk mengeksploitasi negeri ini!

Karena itulah kita ada disini. Buruh Indonesia mempunyai gagasan dan cita-cita. Republik ini bukan hanya milik pengusaha dan orang kaya. Kaum buruh, orang-orang kecil seperti kita, juga mempunyai hak yang sama untuk bisa menjadi sejahtera. (*)

Categories: Opini

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *