IMG_00000687_edit_edit_editOrasi Presiden FSPMI/KSPI: “Mengapa Upah Harus Naik 50 Persen?

Oleh: Said Iqbal (Presiden FSPMI/KSPI)

Mengapa upah minimum harus naik 50 persen?

Karena logika yang kita bangun adalah, akibat kenaikan BBM kemarin mengakibatkan 30% daya beli buruh turun. Ditambah lagi dengan kenaikan inflansi – yang saya sangat yakin sekali tahun ini bisa mencapai dua digit – maka kenaikan sebesar itu menjadi sangat wajar.

Logikanya, ketika daya beli turun, maka harus dibalikin. Agar tidak terus-terusan turun dan buruh kembali memiliki daya beli.

Bahkan ketika upah naik 50 persen, sesungguhnya upah real belum mengalami kenaikan lho? Ini baru sebatas menyesuaikan daya beli yang turun tadi.

Kalau ada yang bilang kenaikan upah disesuaikan dengan inflansi, itu adalah pemikiran yang kacau. Nggak bener. Dan jika Anda juga ikut setuju dengan argumentasi seperti itu, berarti Anda masuk dalam logika pengusaha.

Itulah kenapa, dalam diskusi-diskusi saya sering menyebut: hati-hati dengan segitiga pro upah murah. Karena memang, ada sebagian dari kawan kita yang setuju dengan upah murah.

Bagi saya, berkawan ya berkawan. Tetapi tentang prinsip, saya tidak akan mempertimbangkan perkawanan itu. Masak gara-gara perkawanan, ratusan juta orang dipertaruhkan dengan upah murah. Jangakan dengan kawan, dengan saudara pun kalau nanti kita berberda persepsi tentang upah, saya akan keras.

Tolong Anda ingat.

Terutama Dewan Pengupahan.

Ini bukan soal egoismenya Igbal. Bukan. Sebagai Presiden FSPMI, saya hanya ingin memperjuangkan, tidak boleh ada lagi kebijakan upah murah dalam srategi bernegara ini.

Kalau kita nggak keras. Nggak akan ada yang lebih keras!

Siapa, coba?

Politisi?

Nggak mungkin. Politisi itu punya keterbatasan. Siapa politisi hebat dan dekat dengan kita? Mereka toh nggak bisa berbuat apa-apa terhadap kebijakan Inpres tentang upah, misalnya, karena seringkali terbentur dengan kebijakan partai.

Hanya kita yang bisa. Serikat pekerja. Itulah kenapa saya keras. Dan kalaupun kelak saya tidak lagi menjadi Presiden FSPMI, di posisi manapun di organisasi ini sikap saya akan tetap keras tentag upah ini.

Karena upah adalah satu-satunya hadiah buat buruh.

Ini adalah satu-satunya penghibur, ketika buruh setiap bulannya lelah bekerja. Akankah mereka dari tahun ketahun akan selalu dihantui ketakutan, bahkan dirinya tidak berani untuk sekedar bermimpi tentang masa depan yang lebih baik.

Kalau anda kerja di otomotif mungkin anda bisa tesenyum dengan diskusi kita tentang upah ini. Tapi Anda jangan lupa. Anda mendapatkan upah di otomotif tinggi, karena perjuangan orang-orang kecil itu. Sehingga Anda mendapatkan upah sundulan yang lumayan besar.

Karena sesungguhnya Anda nggak punya keberanian, kok.

Saya pernah jadi Ketua PUK. Jadi saya tahu persis psikologis Anda. Bahwa saya nggak punya keberanian, iya, saya akui. Dulu naik upah itu paling top inflansi plus 2 atau 3 presen. Iya kan? Paling top 200 ribu.

Anda nggak berani memimpin pemogokan, misalnya minta agar kenaikan upah sebesar dua kali inflansi saat berunding. Saya yakin Anda nggak berani. Karena resikonya, Anda dipecat.

Sekarang perjuangannya kita rubah. Itulah yang kita bilang dari pabrik menuju publik.

Berapa kenaikan upah DKI Jakarta kemarin? Tembus di angka 42 persen, kan?

Kemudian berapa inflaksi waktu itu? Hanya 4,2 persen.

Berarti sepuluh kali lipat Anda dapetin.

Coba Anda berunding di Toyota, di Panasonik, di Tosiba, paling maksimal Anda hanya akan dapat 4,2 plus 3 %.

Saya pernah jadi Ketua PUK. Jadi saya tahu betul psikologis seorang Ketua PUK  itu. Jadi nggak usah sombong. Anda sangat terbantu dengan strategi perjuangan ini. Dan bukan hanya kita. Seluruh buruh Indonesia terbantu, dan menikmati kenaikan upah yang signifikan akibat gerakan massif yang kita lakukan.

Mengapa kita mendapatkan capain-capaian yang sedemikian hebat?

Apakah karena Iqbal kuat?

Karena Obon kuat?

Bukan?

Karena Anda bersatu. Itulah yang membuat anda kuat. (*)


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *