IMG_00000636Jika Anda menyempatkan diri berkunjung ke Museum Benteng Vedeburg di Yogyakarta, Anda bisa melihat diorama yang menceritakan sebuah adegan ketika RM. Suryopranoto berdialog dengan pimpinan Pabrik Gula. Dialog itu terjadi ketika buruh Pabrik Gula yang ada di Sekitar Yogyakarta melakukan pemogokan, tepatnya tanggal 20 Agustus 1920. Hasilnya, Belanda akhirnya menyetujui kenaikan upah para buruh di Pabrik Gula itu.

Dampak dari pemogokan itu kemudian meluas hingga ke buruh-buruh perkebunan, pegadaian, hingga kereta api. Gerakan yang semakin meluas inilah, yang kemudian diyakini menjadi penentu bagi terciptanya perubahan.

Dua puluh lima tahun kemudian, barulah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Fakta ini mempermudah kita untuk memahami, bahwa perjuangan untuk mendapatkan upah yang lebih baik menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari sejarah bangsa ini. Ia senantiasa diperjuangkan, bahkan dimasa – masa pra kemerdekaan. Sebuah perjuangan yang panjang dan diyakini belum usai hingga saat ini.

Jangan-jangan, besarnya upah yang kita terima sekarang adalah bagian dari apa yang mereka perjuangkan. Tiba-tiba saja kita mendapatkan gaji tiap bulan. Tanpa pernah tahu, apalagi mengerti, bagaimana perjuangan untuk mendapatkan UMK itu sendiri.

Terlepas dari apapun motivasi seseorang ketika memutuskan untuk bekerja: upah menjadi inti dari kerja itu sendiri. Seberapa besar upah yang kita terima, sebesar itulah tenaga kita dihargai. Dari seberapa besar tenaga kita dihargai itulah, kualitas dari kehidupan kita akan ditentukan.

Tuntutan buruh agar UMK 2014 dinaikkan 50% sejatinya untuk merespon akan hal itu. Lebih jauh lagi, ia hendak berbicara tentang keadilan. Ketika kondisi ekonomi membaik, ketika harga – harga kebutuhan terus naik, maka menjadi pilihan yang tepat jika besarnya upah juga harus disesuaikan.

Kita mendengar ada yang pesimis dengan kenaikan upah 50% itu.  Tetapi hingga saat ini, belum ada argumentasi yang masuk akal, mengapa upah buruh tidak boleh naik 50%. Semua argumentasi mengarah pada satu hal: kepentingan investasi. Kapitalis. Lalu buruh disalah-salahkan atas hengkangnya beberapa perusahaan.

Saya kira masyarakat luas bisa menilai sendiri, kampanye upah murah itu sesungguhnya untuk siapa. Selama ini tidak ada yang peduli dengan buruh yang berpuluh tahun dibayar murah. Tidak pemerintah. Tidak juga pengusaha. Ketika buruh ingin mengakhiri rezim upah murah, mengapa semua ramai berbicara? Jawabnya, karena mereka tidak rela berbagi keuntungan dengan kita.

Kalian akan diam saja? Tidak, bukan. Mari bergerak! (Kascey)

Categories: Opini

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *