Peserta Pendidikan Perjanjian Kerja Bersama di Mojokerto foto bersama seusai acara. | Foto: Ipang

Peserta Pendidikan Perjanjian Kerja Bersama di Mojokerto foto bersama seusai acara. | Foto: Ipang

PendidikanPerjanjian Kerja Bersama itu diselenggarakan di Hotel Srijaya, Pacet, Mojokerto. Penyelenggaranya adalah Pimpinan Cabang SPAI FSPMI Kab/Kota Mojokerto, dengan menghadirkan trainer dari Pimpinan Pusat SPAI FSPMI. Pendidikan yang diselenggarakan selama dua hari pada tanggal 27 – 28 September 2014 dengan menginap ini terbilang mewah untuk ukuran pekerja/buruh yang upahnya hanya berkisar UMK. Apalagi ini bukan program sponsorship. Tetapi swadaya dari peserta.

Tidak mudah menyelenggarakan pendidikan seperti ini. Butuh biaya tidak sedikit untuk membayar sewa tempat, penginapan, makan, dan sebagainya. Selain dibutuhkan komitment peserta untuk mengikuti pendidikan hingga tuntas, akomodasinya ditanggung sendiri. Bagi peserta yang memiliki PUK kuat dan kesadaran iuran anggotanya lancar, kegiatan seperti ini bisa didanai oleh PUK-nya. Jika tidak, peserta harus merogoh kocek pribadi.

Ada kesadaran disini. Semacam tanggungjawab untuk memberikan yang terbaik bagi anggota dengan jalan meningkatkan kemampuan dan wawasan.

Tidak hanya pendidikan. Biaya sewa bus/transportasi hingga  konsumsi ketika melakukan aksi unjuk rasa pun sanggup mereka tanggung sendiri. Mereka tidak dibayar ketika turun ke jalan. Bahkan wajib membayar. Inilah cermin dari kemandirian. Menciptakan kader yang militan tidak boleh dilakukan dengan menengadahkan tangan ketika melakukan kerja-kerja pembebasan.

Dan tidak hanya FSPMI di Mojokerto yang bisa melakukan pendidikan swadaya seperti ini. Daerah-daerah lain juga bisa menyelenggarakan pendidikan serikat pekerja. Mulai dari tingkat dasar, lanjutan, hingga pendidikan spesialisasi seperti PKB dan Pengupahan.

Memang, tidak semua daerah memiliki kemampuan yang sama. Pada titik inilah pentingnya gotong royong diterapkan.

“Jika sektor AI bisa, maka sektor yang lain jauh lebih mampu,” begitu seorang kawan pernah berkelakar. Sudah menjadi rahasia umum, di FSPMI, sektor SPAI dianggap sebagai  “kasta sudra”.  Sudahlah masalahnya paling banyak, sumber daya dan dananya sangat terbatas. Asumsinya sederhana. Jika SPAI bisa menyelenggarakannya, maka sektor-sektor yang lain pasti bisa.

Jangankan di tingkat cabang. Bahkan di tingkat unit kerja pun sudah banyak yang mampu melakukannya. Ini mensyaratkan kesadaran anggota dalam membayar iuran. Oleh karenanya, tertib ‘iuran’ adalah kata kunci. Dengan iuran ada banyak hal bisa kita lakukan.

Pendidikan swadaya menjadi cermin kemandirian dalam gerakan. Sepakat. Pendidikan serikat tidak harus diselenggarakan di hotel atau gedung pertemuan. Tetapi sebagai bukti kemapanan organisasi, tentu pendidikan yang diselenggarakan di tempat yang layak seperti ini akan meningkatkan rasa percaya diri. Buruh tidak harus selalu dikesankan lusuh, bukan? (Kascey)