Oleh: Obon Tabroni *)

 

Sumber Foto: Fb Cerwin T. Eviota
Sumber Foto: Fb Cerwin T. Eviota


Tak terasa besok hari terakhir. Dua belas hari sudah saya berada di Turin, Italia, untuk sebuah tugas belajar.

Di kelas ini, ada 16 orang peserta. Sebagian besar berasal dari negara berkembang Asia. Awalnya sedikit kecewa, karena semula saya berharap bisa satu kelas dengan peserta dari negara maju. Belajar banyak dari serikat buruh yang usianya sudah mencapai lebih dari 100 tahun. Pasti banyak pengalaman dari mereka. Sebut saja IG Metal – Jerman, IF Metall – Swedia, IMF JC – Jepang  atau Serikat Buruh di Amerika tentang bagaimana mereka membangun gerakan buruh, bagaimana mereka masuk dalam lingkaran politik, dsb.

Namun rasa kecewa itu terobati, karena meskipun bersama kawan-kawan buruh se-Asia, masih banyak pengalaman berharga yang bisa dipelajari.

Disini, kami di karantina bersama. Belajar, makan, diskusi, bahkan terkadang saling ledek negara masing-masing. Dalam persaudaraan itulah, tanpa kami sadari tumbuh rasa persaudaraan yang kuat diantara kami. Ada rasa haru ketika besok kami harus berpisah.

Perjalanan saya ke Turin dimulai ketika pesawat mendarat di bandara MILAN, dalam suasana subuh yang gelap dan dingin. Padahal  saat ini sedang musim panas. Perjalanan 13 jam tak terasa, diisi dengan menonton Ice Age dan Fast n Fourius di televisi kecil depan bangku pesawat.

Sebelum sampai di bandara MILAN, kami sempat transit beberapa lama di Doha Qatar, kota yang pernah menjadi tuan rumah WTO selain Kankun Brazil dan Los Angles. WTO dianggap biang keladi permasalahan ekonomi dunia. Tak heran, dalam setiap sidangnya gelombang unjuk rasa selalu ramai. Tidak hanya di kota tempat WTO bersidang, tetapi terjadi hampir di seluruh dunia .

Setelah melewati imigrasi yang lumayan ketat dan ditanya macam-macam, saya bisa melewati pintu keluar. Pintu keluar untuk Indonesia dipisahkan dari Negara lain. Indonesia dikelompokkan bersama-sama dengan Negara-negera seperti Afghanistan, Irak, Etopia dan beberapa negara yang dianggap “bermasalah”. Saya kira ini adalah perlakuan yang diskriminatif. Mungkin mereka khawatir kami teroris, membawa heroin atau setidaknya memiliki penyakit menular. Meskipun ketat, tetapi jika dibandingkan dengan 5 tahun yang lalu ketika saya ke Geneva – Swiss, masih sedikit longgar.

Dari bandara, perjalan di lanjutkan melalui jalur darat menggunakan bus. Sebelumnya panitia sudah menyarankan jangan menggunakan taxi, karena biayanya bisa mencapai Rp 2,5 Juta.

Sumber Foto: Fb Jitendra Shrestha
Sumber Foto: Fb Jitendra Shrestha

Jalan yang sepi dan bagus membuat perjalanan ke Turin selama 2 jam menjadi tak terasa.  Kami melewati pedesaan khas Eropa dengan deretan pohon anggur, ladang gandum dan jagung. Di beberapa tempat, terdapat peternakan. Sementara jauh disebelah utara, nampak jelas deretan pegunungan Alpen dengan salju abadi di puncaknya.

Kota Turin sungguh eksotis. Di kota inilah FC JUVENTUS bermarkas. Pemandangan yang mengesankan: Gedung-gedung tua, katerdal yang antik menjulang tinggi, jalanan yang bersih, kafe yang berjejer di sisi jalan dan sungai yang jernih.

Turin adalah sebuah kota dimana mobil FIAT dilahirkan. Mobil kebanggaan warga Italy yang mendunia. Pada awalnya, Kota Turin hidup dari FIAT, sama seperti Cilegon dengan Krakatu Steel-nya. Setelah FIAT hengkang dan merelokasikan pabriknya, Turin seperti kehilangan gairah. Setengah mati dan sepi.

Saya kira, itulah watak kapitalis yang sesungguhnya: KAPITALIS TIDAK MENGENAL KEBANGSAAN DAN NASIONALISME. BAGINYA KEUNTUNGAN DIATAS SEGALANYA. KALAU DIRASA KURANG MENGUNTUNGKAN, PASTI DI TINGGALKAN. TIDAK PEDULI DAMPAK SOSIAL YANG DITIMBULKAN.

* * *

Di hari pertama, saya menghabiskan waktu dengan beristirahat. Selebihnya melihat-lihat lingkungan sekitar. Menanyakan lokasi perwakilan Indonesia, pasar terdekat, stasiun kereta, dan  klinik terdekat.

884333_10200841615100378_528265444_oHari senin, dalam pertemuan pertama didalam kelas, diisi dengan perkenalan. Saya yang membawa kosa kata terbatas (sebagaian nggak kebawa karena lupa), awalnya agak minder. Apalagi ketika melihat kawan-kawan dari Vietnam dan Filipina yang fasih berbicara dalam bahasa inggris. Tetapi giliran kawan dari Mongolia dan Srilangka berbicara terbata-bata dengan body language yang ancur,  kepercayaan diri muncul secara tiba-tiba. Bersyukur, ternyata masih ada yang lebih parah dari saya. Rasa minder dan takut hilang. (Itulah manusia, sedikit lebih dibanding yang lain, penyakit sombong muncul).

Pada Minggu pertama, diisi dengan penyampaian materi. Pengenalan tentang ILO, krisis yang melanda sebagian Eropa, ilmu komunikasi, strategi perjuangan, permasalahan perburuhan di belahan dunia dan beberapa materi lain dari orang-orang yang luar biasa dibidangnya. Cara mereka menyampaikan menggunakan multimedia sungguh menjadi pengalaman baru yang menarik. Saya kira, ini bisa kita terapkan di Indonesia. Saya yang biasanya ngantuk ketika berada didalam kelas, tak sekalipun terasa. Penyampaian materi yang menyenangkan.

* * *

Terdapat satu pengalaman yang menjengkelkan. Ini terkait presentasi. Sejak di rumah, saya sudah menyiapkan materi, terutama country report. Saya sudah hafal. Bahkan bisa menelaskan, meski tanpa melihat slide. Malah sudah dua kali di test sama Kirsty dan dinyatakan bagus.

Akan tetapi, kerja keras tersebut sirna. Fasilitator menugaskan kepada kami untuk membuat materi yang lain (duuuh rencana menjadi berantakan). Ada beberapa pilihan materi. Akhirnya saya memilih materi tentang dampak krisis Eropa bagi gerakan buruh. Alasannya sederhana, materi itu pasti ada data dan angka. Sementara bahan di internet mudah didapat. So analisanya pun tidak terlalu njelimet, sehingga kalau ada yang bertanya gampang menjawabnya.

919330_10200858944253596_93787396_oSlide pertama presentasi dalam bentuk Powerpoint saya tampilkan foto yang sangat menyentuh. Seorang pria muda yang terpaku lunglai dimeja kerja karena habis di PHK. Biarkan gambar bercerita apa adanya, saya ingin orang tertarik dan fokus di slide selanjutnya. Biasanya ketika kesan pertama sudah menggoda, orang tak lagi peduli meski yang selanjutnya berantakan. Tidak lupa, saya tambahkan juga foto-foto Garda Metal.

Slide selanjutnya saya mulai menampilkan deretan angka dan grafik yang menjelaskan data tentang jumlah angka yang ter-PHK karena krisis di semua benua. Disetiap benua, rata-rata angkanya mencapai 12,7 %. Ini artinya ada penambahan pengangguran baru.

Ketika menampilkan data itu, harapan saya sederhana. Ketika melihat angka, terkesan hal itu sudah melalui analisa yang dalam. Dan ini yang terpenting, biasanya orang malas untuk bertanya tentang angka. Apalagi memperdebatkannya, kecuali oleh ahli ekonomi. Dan kalaupun data itu salah, bisa dijawab dengan mudah.

Untuk presentasi, sengaja saya memilih kesempatan pertama. Karena semakin lama menunggu, akan semakin lama stressnya. Bisa-bisa lupa apa yang sudah dihapalin.

Waktu presentasi yang hanya kurang dari lebih 20 menit, serasa 2 jam. Berdiri dikelas dengan kemampuan bahasa Inggis yang terbatas, terasa sebagai sebuah siksaan. Anehnya, suhu dingin didalam ruangan justru membuat saya berkeringat. Presentasi diakhiri dengan any question. Satu detik, dua detik, sampai hitungan menit tidak ada yang bertanya.

Tentu saja saya bangga. Ternyata saya bisa membuat mereka terpaku. Entah apa sebabnya, atau jangan-jangan mereka malah bingung ni orang ngomong apa? Ora urus, yang jelas ulasan dari fasilitator cukup membanggakan. Dia bilang, bahan presentasi saya bagus, analisa cukup, PowerPoini-nya hidup, cara membawakan OK, bahasa tubuh hidup: Guubrak…. Saya tahu, itu hanya basa-basi. Kasihan lihat saya keringetan. Sebodo, yang penting tugas saya kelar.

* * *

1064014_10200841619460487_2073965467_oSelama di Turin, saya berkomunikasi secara intens dengan perempuan setengah baya dari Banglades. Ia begitu bangga menggunakan baju sari, pakaian khas mereka. Sama dengan di India.

Perempuan ini adalah seorang President Serikat Buruh Textile di Banglades. Ia bercerita banyak tentang nasib buruh perempuan Banglades, yang katanya hanya dibayar 100 dolar per bulan. Dia juga bercerita tentang runtuhnya Rana Plaza, gedung yang terdapat pabrik textile dan terdapat 2,348 orang pekerja. Saat Rana Plaza ambruk, sedikitnya 300 orang tewas dan ratusan luka-luka. Lebih tragis ketika mengetahui, ada seorang pekerja perempuan yang melahirkan dalam situasi tertimbun reruntuhan.

Sungguh, banyak pelajaran yang saya dapat dari perempuan ini.

Saya juga banyak berdiskusi dengan peserta dari Nepal. Seorang perempuan yang setiap hari memakai baju mirip singlet. Alasannya, negaranya berada di kaki Himalaya.Sangat dingin, sehingga ia jarang sekali memakai singlet. Dan disinilah kesempatan itu terbuka bagi dirinya.

Jangan salah paham dulu, bukan karena dia memakai singlet sehingga saya sering mengajaknya berdiskusi. Tetapi lebih karena tempat duduk kami bersebelahan. Perempuan ini banyak bercerita tentang persoalan domestic worker di negaranya.

Dengan peserta dari Filipina, saya juga banyak belajar. Setiap presentasi, ia selalu bilang land reform. Awalnya saya bingung. Sebab yang lain ngomongin soal upah, PHK, dan lain-lain. Dia malah lebih banyak ngomong soal tanah. Saya kira, cocoknya ngobrol sama Mas Handoko dari Omah Tani, Batang. Ketika ia menjelaskan, barulah saya mengerti hubungan buruh dan kepemilikan tanah .

* * *

Setiap hari, kegiatan dimulai jam 09.00 dan berakhir 05.30 waktu setempat.

Sambil menunggu makan malam jam 07.30, ada kegiatan lain dalam bentuk extra kulikuler. Diantarnya latihan bola, yang dibimbing langsung dari FC TURIO, senam aerobik bahkan DJ.

Selepas dari kelas, terkadang saya jalan-jalan melihat sekeliling kota dengan train seharga 3 euro. Lumayan, bisa menikmati hal-hal yang saya suka. Memotret bangunan tua, adalah salah satu yang paling saya suka. Serasa ada kedamaian yang sangat dan hangat, ketika saya berdiri melihat kokohnya kastil dengan batu alamnya, detail ukiran di katedral sisa peninggalan abad 18, beberapa diantaranya bahkan ada yang sudah berdiri sejak abad 17.

1065169_10200858944173594_1288977871_oAktifitas warga disini juga sangat hidup. Puluhan kakek dan nenek yang asyik bercengkrama menikmati musim panas dibangku taman yang bersih. Sebagian dari mereka dahulunya adalah pekerja FIAT  mobil. Dengan uang pensiun dan jaminan yang diberikan Negara, sudah sangat cukup bagi mereka untuk menikmati hidup di hari tua. Kalai kita boro-boro bisa  begitu. Ketika pensiun yang ada penyakit justru nambah.

Saya juga berkesempatan melihat pekerja yang pulang dari kantor. Mereka memakai jas yang rapi, tetapi asyik mengayuh sepeda. Ada wanita muda yang lalu-lalang dengan belanjaan di tangan serta menuntun hewan kesayangan. Ada anak muda dengan gadget terbaru. Ada pengamen yang fasih memainkan alat musik tradisional sambil beryanyi dan menari mirip tarian plamigo atau bahkan salsa. Bahkan ada juga pengamen yang berjumlah 30 orang lebih, mereka membentuk koor menyanyikan lagu bernada tinggi diiringi musik orchestra. Suaranya dan iringan musiknya sangat luar biasa bagus. Jika mengenang semua ini, rasanya saya tak ingin pulang ke Indonesia.

* * *

Hari Sabtu dan Minggu, semua libur.

Sebelumnya, saya sudah menghitung-hitung duit yang ada. Cukupnya sampai mana. Mumpung ada waktu, saya ingin lihat Kota Air Venice Austria, Rroma, Monte Carlo, Paris atau Geneva Swiss. Ketika melihat peta, sistem transportasi dan duit yang saya punya, akhirnya saya memilih Monte Carlo, Monaco. Ini adalah kota dimana F1 kerap digelar. Negara yang konon katanya terkecil di dunia. Mungkin luasnya hanya lima kali Jababeka. Sebuah kota indah dan berada di tepi Laut Karibia. Siapapun akan betah berlama-lama disana.

Dan ternyata benar. Perjalanan ke Monte Carlo adalah perjalanan yang luar biasa. Menyusuri Laut Karibia yang tenang dan biru. Sementara di kejauhan sana, ada pegunungan yang tinggi menjulang. Kombinasi yang luar biasa.

Jalan tol yang menghubungkan antar negara membuat ini, membuat jarak 250 km tak terasa. Kami memerlukan waktu tempuh 4 jam untuk bisa berada di kota yang penuh pesona ini.

Lagi-lagi penuh dengan bagunan tua yang luar biasa. Mobil-mobil sport mewah berseliweran: Ferari, Porsche, Rolls Royce, Lamborgini. Saya hampir tidak pernah melihat mobil Jepang. Sekelas Toyota Camry, sekalipun. Bahkan disini, tukang souvenir keliling menggunakan Motor Ducati ! Yang lebih luar biasa, helikopter berseliweran di udara. Ternyata itu adalah taxi, untuk mengangkut turis dari bandara. Mereka bilang, jika melalui darat, dari bandara ke kota butuh waktu 45 menit. Sedangkan jika naik helikopter hanya butuh waktu 8 menit (hadeuh dasar orang kaya waktu 45 menit berbanding 8 menit pakai helikopter).

Banyak orang kaya tinggal di kota ini. Karena negara membebaskan pajak penghasilan. Pantas!

Biaya hidup disini lumayan tinggi. Saya sampai tak berani membeli makanan disini. Rangsel dengan makanan yang saya bawa dari sisa sarapan dihotel, seperti roti, buah dan air mineral sudah lumayan untuk menahan lapar. Puas di Monte Caro, perjalanan berlanjut ke Nice. Kota pantai yang masuk dalam wilayah Prancis .

* * *

1003446_10200809469553418_1439518975_nBesok kami harus berpisah.

Masih ada materi untuk besok. Tetapi akan berakhir jam 3 sore. Sehingga masih cukup bagi saya untuk packing dan mempersiapkan diri untuk pulang dengan pesawat jam 10 malam.

Hari ini kami berdiskusi tentang tindak lanjut dari kegiatan ini dan membuat jaringan informasi solidaritas.

Bagi saya, organisasi, melalui DPP sudah membiayai. Meski hanya uang saku, yang tentunya untuk ukuran buruh. Saya sebutkan saja, biar kalian tidak penasaran. Biaya perjalanan dinas, sesuai keputusan hasil Raker adalah sebesar $15 x 15 hari x Rp 10.000. Ini setara dengan Rp 2.250.000,00. Buat saya itu sudah cukup, karena selama kegiatan, makan dan penginapan ditanggung ILO.

Uang tersebut tidak boleh diabaikan. Apalagi menjadi sia-sia. Untuk itu harus ada kontribusi balik untuk organisasi. Sayang jika perjalanan jauh ini tidak dimanfaatkan. Apalagi dari materi yang ada, bisa langsung diaplikasikan. Misalnya tentang training untuk trainer yang mudah-mudahan dalam bulan ini bisa dijalankan. Terutama untuk kawan-kawan SPAI  FSPMI.

Pengalaman tentang menyinergikan media internal juga pengalaman baru yang bisa diterapkan di Koran Perjdoeangan. Dan yang terpenting, menyinergikan sistem komunikasi dan informasi yang ada di organisasi. Meskipun terlihat spele, itu penting banget. Sinergi antara SMS centre, email group, website, BBM, Facebook, orang yang memiliki otoritas untuk share, juga kontrol jaringan dan masih banyak hal lain.

Tentu saja, kepergian saya ke Turin bukan semata-mata untuk diri saya. Ini adalah untuk organisasi, dan tentu, menjadi tanggungjawab moral bagi saya untuk berbagi dengan kawan-kawan. Sebab tanpa FSPMI, rasanya mustahil bagi saya untuk bisa berangkat ke kota yang memberikan pengalaman sangat berharga ini.

* * *

1040635_10200830384819628_1364959365_oBesok kami harus pulang.

Oleh-oleh sudah cukup.

Janji untuk membelikan mobil-mobilan untuk anak sudah di dapat. Tiga buah mobil kecil. Meskipun ternyata, itu hanyalah made-in China. Kalau tahu gitu, mending saya beli di Jatinegara.

Saya juga akan membawa coklat dengan jumlah yang lumayan banyak. Setengah rangsel. Ini saya dapat dari mengumpulkan sisa kupon makan yang tak habis terpakai. Lumayan juga, satu hari bisa ngumpulin 5 batang coklat ukuran Silver Queen, dikalikan lima belas hari, sudah cukup untuk jualan.

Parfum pesanan Amir juga sudah didapat. Memang, bukan parfum sekelas Bulgary atau United Beneton. Apalagi Channel. Hanya sabun mandi + shampo jatah hotel yang tidak terpakai dan selalu saya kumpulin. Nggak apa-apa, Mir, yang penting made-in Italy. Oke Bro?

 

*) Catatan perjalanan ini ditulis di Turin, 11 Juli 2013. Diedit kembali oleh Kahar S. Cahyono, tanpa merubah substansi/isi tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *