Ketua Umum HKTI, Oesman Sapta
Ketua Umum HKTI, Oesman Sapta

Saya bangga bahwa hari ini ada perkawinan massal. Perkawinan antara gerakan buruh, petani, kaum guru dan nelayan. Lama sekali kita berjalan sendiri-sendiri, padahal jika kekuatan itu disatukan akan dahsyat sekali.

Saya mengikrarkan ini hari. HKTI, guru dan buruh bersatu. Ingatlah, ditengah-tengah antara kaun buruh, nelayan, dan guru ada petani.

Ayo, bangkitlah kaum tani. Bangkitlah kaum buruh dan nelayan.

Dalam pandangan saya, setiap petani di Jawa membutuhkan dua hektar lahan. Sedangkan diluar Jawa, membutuhkan sedikitnya lima hektar. Itu agar mereka layak disebut petani. Bukan seperti saat ini, tanah untuk petani semakin menyempit, kehidupan mereka pun semakin terimpit. Miskin. Justru di tanah air yang subur ini.

Kita mengimpor beras. Kita mengimpor gandum. Kedelai saja kuta mengimpor. Bahkan garam kita juga impor.

Padahal kita mampu memenuhi semua itu. Negeri ini memiliki petani yang siap bekerja dengan keras untuk mewujudkan swasembada pangan. Namun sayang, kebijakan politik pemerintahan kita tak berpihak kepada kaum tani.

Saya tak perlu banyak ngomong hari ini. Sebagai pemimpin para petani, saya tak perlu populer. Sebab yang harus populer adalah petaninya. Pemimpin-pemimpin organisasi jangan banyak ngomong. Yang harus banyak ngomong itu rakyatnya: “Sudah ditolong atau belum sama organisasinya?” (Kascey)

==========
Apa kabar Indonesia baru?

Tulisan diatas adalah intisari dari apa yang disampaikan oleh Ketua Umum HKTI Oesman Sapta dalam Dialog Kebangsaan di Istora Senayan, pada tanggal 21 Oktober 2013. Dialog Kebangsaan ini berjalan sukses dengan dihadiri kurang lebih 20 ribu peserta. Semoga spirit dari dialog ini menyebar. Untuk Indonesia yang lebih baik. Indoensia baru, yang sejahtera dan bermartabat..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *