819193_437686249636447_741436815_oSaya belum mengenalnya secara dekat, karena terlanjur diracun. Tetapi kenangan bersamanya yang sekejap, membuat saya tak bisa melupakan sosok pemberani yang satu ini.

Ketika itu bulan Jui 2000. Dua puluh satu orang petani Pagilaran ditangkap Polres Batang karena melakukan reclaming tanah yang dipersengketakan.

Suasana semakin memanas karena isuenya polisi akan menangkap seluruh pengurus organisasi seluruhnya. Maka saya bersama-sama dengan LBH Semarang mengevakuasi para pengurus kemana-mana. Salah satunya dengan mengadu ke KontraS.

Di Kontras, cak Munir angkat telpon dan diterima oleh Kapolres Batang, AKBP Abdul Kholiq. Cak Munir meminta supaya tidak terjadi pelanggaran hak asasi manusia dalam proses penyidikan. Dan memang, polisi tidak melakukan kekerasan fisik dalam pemeriksaan. Bahkan kata merka yang ditahan, mencubitpun tidak. Mereka dihormati sesuai dengan ketentuan KUHAP. Sel penahanan mereka dipisah dari pelaku kriminal. Keluarganya pun dibebaskan melakukan bezoek. Sedangkan penangkapan lainnya berhenti pada issue.

Cak Munir melakukan ‘sesuatu banget’ kepada petani miskin yang sedang ketakutan. Ia hanya angkat telpon, selesai persoalan ancaman pelanggaran hak asasi manusia. Munir sadar benar akan kekuatan namanya dan dia segera ambil langkah awal untuk penyelamatan para tersangka: sebelum akhirnya kami merancang sebuah proses pembebasan yang panjang.

Akhirnya, selamatlah seluruh rangkaian agenda perjoeangan petani di Batang hingga sampai saat ini, ketika anggota Omahtani sudah hampir mencapai 15.000 kepala keluarga . Berkat beberapa detik telpon dan sekian rupiah yang terbuang dengan suara diseberang sana: “Saya Munir, dari Kontas…”

Tanpa kata-kata itu, mungkin sejarah organisasi akan bergeser jauh kebelakang.

Ketika kami dengar beliau diracun, saya segera menyadari, bahwa sesungguhnya Munir tidak pernah mati dalam history kami.(*)

Categories: Opini

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *