DSCN0021Tak bisa dipungkiri, pandangan negatif terhadap keberadaan serikat masih begitu kuat. Tidak saja dilakukan oleh mereka yang bukan berstatus sebagai karyawan, pekerja pun masih ada yang memiliki pemahaman demikian. Satu contoh, misalnya, masih banyak yang beranggapan dengan menjadi anggota serikat kariernya akan terhambat. Tidak hanya itu, bahkan dalam kasus lain bisa jadi akan dipecat.

Kekhawatiran itu semakin menjadi, akibat adanya serikat pekerja yang tidak melakukan pembelaan terhadap anggotanya. Akibat ulah serikat pekerja ‘gadungan’ yang justru mengabdi untuk kepentingan pengusaha, bukan membela kepentingan anggotanya.

Meskipun, sebenarnya secara tidak langsung, mereka juga mengakui bahwa kehadiran serikat pekerja sangat diperlukan. Hal ini terlihat dari adanya pekerja/buruh yang berbondong-bondong menjadi anggota serikat pekerja, manakala terdapat permasalahan ketenagakerjaan yang mereka hadapi. Serikat pekerja hanya menjadi pemadam kebakaran. Ironisnya, seringkali mereka terlambat menyadari.

Terkait dengan serikat hanya membuat karir terhambat, saya kira itu adalah pemahaman yang kurang tepat. Tanpa serikat, bahkan lebih banyak buruh yang hanya diperas tenaganya. Kasus ‘kontrak seumur hidup’, outsourcing, upah dibawah ketentuan, adalah bukti yang mereka alami ketika mereka tidak berserikat. Memang, dengan adanya serikat tidak serta merta permasalahan itu selesai. Tetapi setidaknya, akan ada pembelaan untuknya.

Tentu saja, adanya serikat pekerja yang tidak menjalankan tugas dan fungsinya, bukanlah alasan untuk tidak menjadi anggota serikat pekerja. Serikat adalah alat. Anggotanya lah nyawa yang akan menjadikan alat itu memiliki makna.

Menurut saya, ada tiga hal yang harus dilakukan jika kita ingin meningkatkan partisipasi pekerja terhadap serikatnya. Pertama, menyelenggarakan pendidikan tentang serikat pekerja secara rutin. Kedua, edukasi dalam pergerakan tidak boleh monoton sehingga orang tidak cepat bosa. Dan ketiga, meningkatkan kemandirian dari segi pendanaan.

Bagi saya pribadi, berserikat itu menyenangkan. Dengan berserikat, kita memiliki harapan. Memiliki cita-cita untuk diperjuangkan. Menjadikan kaum buruh bermartabat, karena mereka sadar bahwa dirinya adalah manusia yang harus diperhatikan kemanusiaannya.

Saya akan menceritakan pengalaman paling mengesankan dalam serikat. Pengalaman itu, pada saat saya ikut Latsar Garda Metal di Batam. Waktu itu, yang ada dalam pikiran saya, Latsar sama dengan pendidikan outdor yang lain. Apalagi saat saya melihat rondouwn acara yang di kirim ke KC FSPMI Batam pun tidak ada yang aneh. Saya ikut Latsar sebenernya hanya ingin memberi semangat dan contoh  kepada anggota PUK saya agar bersedia ikut Latsar.

Di hari pertama Latsar, saya baru merasakan perbedaan 180 derajat dari yang saya bayangkan semula. Apalagi setelah kawan-kawan panitia dari Bekasi tahu kalau saya perangkat PC Batam Dan duduk di Dewan Pengupahan. Akhirnya saya dikerjain habis-habisan

Di hari pertama itulah batin saya berperang antara meneruskan atau keluar dari Latsar

Kawan Bekasi yang bikin aku gemes waktu itu Ozi, Ali, dan Edo. Hehe, saya kira inilah indahnya berteman dalam serikat. Kemarahan itu, jika pun ada, hanya sesaat. Karena selanjutnya kita bersahabat, bahu membahu dalam memperjuangkan cita-cita bersama.  (Kascey)


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *