DPW FSPMI Aceh, saat membuka membership meeting

DPW FSPMI Aceh, saat membuka membership meeting

Pukul 23.00, kami tiba di Meulaboh. Sudah hampir tengah malam. Lelah itu semakin terasa.

Sejak meninggalkan Rumah Makan Ujung Batee, tempat kami menikmati makan malam dan mendengarkan banyak cerita tentang tsunami, saya tertidur di kendaraan. Mata sudah tak bisa ditahan, ngantuk sekali rasanya. Apalagi paginya saya harus bangun pagi-pagi agar bisa sampai di bandara Soeta.

Lagi pula hari sudah gelap. Dari dalam kendaraan, yang bisa kami lihat hanya hitam pekat. Tak terlihat lagi keindahan sebagaimana yang terlihat sore tadi.

Kami menginap di Hotel Tiara, yang sekaligus menjadi tempat pelaksanaan membership meeting dan training advokasi. Meskipun akhir pekan, hotel yang memiliki banyak kamar ini terlihat sepi. Sehingga saya merasa seperti berada ditempat sendiri. Satu hal yang membuat istimewa, di hotel ini tersedia wifi gratis. Bagi pengguna sosial media aktif seperti saya, berada disatu tempat tanpa jaringan Internet terasa hampa.

***

Suasana membership meeting

Suasana membership meeting

Sabtu, 12 Oktober 2013.

Agenda di Meulaboh ini diawali dengan membership meeting. Ini semacam rapat akbar yang melibatkan banyak anggota. Tujiannya agar mereka memiliki kepedulian dan tergugah untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan organisasi.

Puluhan peserta dari berbagai Perusahaan hadir dalam kegiatan ini. Menandakan bahwa FSPMI Aceh terus tumbuh. Memang belum sebesar kota-kota lain yang terlebih dahulu bergabung dengan FSPMI, namun sebagai daerah baru, kondisi ini sungguh menyerahkan.

Kami terlebih dahulu melakukan identifikasi masalah ditiap-tiap unit kerja. Rata-rata permasalahan mereka adalah tidak adanya skala upah (pekerja yang sudah sepuluh tahun bekerja upahnya sama dengan mereka yang baru masuk bekerja) dan pembuatan PKB. Oh ya, ada satu lagi. Seorang peserta yang hendak bergabung dengan FSPMI  mengeluhkan besarnya iuran yang dirasa terlalu tinggi.

Kami membahas setiap permasalahan tersebut satu persatu. Memberikan penjelasan secara detail, bahwa memang tugas serikat buruh adalah untuk menyelesaikan semua permasalahan yang mereka keluhkan itu.

Dengan adanya keluhan, itu pertanda serikat pekerja ada. Karena memang untuk itulah serikat dibuat, guna menyelesaikan permasalahan yang ada. (Kascey)

 

=============================

Tulisan ini adalah catatan perjalanan kami berempat (Obon Tabroni, Prihanani, Nani Kusmaeni, dan Kahar S. Cahyono) ketika bertugas ke Aceh untuk menghadiri membership meeting dan Training Advokasi pada tanggal 11 – 14 Oktober 2013. Sengaja kami menuliskan kembali secara detail, sebagai bentuk laporan dari kami. Dengan maksud agar kawan-kawan didaerah lain bisa lebih memahami bagaimana perkembangan FSPMI di bumi Serambi Mekah dan sekaligus menyadari betapa Indonesia yang kita cintai adalah sebuah negeri yang kaya raya.o

Categories: Kabar Anggota

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *