Setelah berdiskusi dengan kawan-kawan Aliansi SP/SB di kantor TUCC, Banda Aceh, kami melanjutkan perjalanan ke Meulaboh. Meulaboh merupakan sebuah kota di Kabupaten Aceh Barat. Tempat pahlawan nasional, Teuku Umar, dilahirkan.

Mendengar nama Meulaboh, sontak ingatan saya melayang pada beberapa tahun silam. Perjuangan rakyat Aceh terhadap penjajah, yang kemudian melahirkan nama-nama besar seperti Teuku Umar dan Cut Nyak Dien sudah pernah saya dengar dibangku sekolah dasar. Saya menangkap ada gelora perjuangan disini. Semangat yang omeluap.

Saat senja di Aceh Jaya

Saat senja di Aceh Jaya

Sekitar pukul 17.00, rombongan kami mulai bergerak meninggalkan kantor TUCC.

Sepanjang jalan menuju Meulaboh, kami disuguhi pemandangan yang indah. Jalanan yang sepi, perpaduan antara perbukitan dan pesisir pantai nan asri, sungguh membuat kami takjub akan kebesaran Sang Illahi. Tak berlebihan jika negeri ini disebut-sebut laksana zamrud di khatulistiwa, karena memang, keindahannya tiada tara.

Menjelang Aceh Jaya, kami berhenti sebentar disebuah pantai. Hari sudah sore. Kami berharap bisa melihat sunset, yang kemudian tak berhasil kami temui, karena gumpalan awan menghalangi sinar matahari.

Meski gagal melihat sunset, kami sempat mengabadikan suasana senja dengan berfoto ria dipinggir pantai. Kenangan memang harus diabadikan. Sebagai pengingat, bahwa kami pun pernah menginjakkan kaki di tanah rencong ini.

Puas menikmati panorama senja di pesisir, kami melanjutkan perjalanan.

Jalanan berkelok di perbukitan dengan jurang dikanan kiri membuat perjalanan kami tidaklah membosankan. Apalagi samar-samar, dikejauhan sana, bisa kami saksikan lautan luas yang menghampar.

“Sebelum tsunami, pemandangannya jauh lebih indah. Dulu, ketika hendak ke Meulaboh, kita melewati persis di pinggiran pantai. Jalan yang kita lalui saat ini baru dibuat setelah tsunami. Jalan yang lama sudah hancur dan terendam air laut, sekitar 100 – 200 meter dari bibir pantai,” ujar Habiby.

Di sebuah tempat, Habiby menunjukkan kepada kami puing-puing jembatan yang berada ditengah laut. “Itu adalah bekas jembatan yang lama. Tinggal puingnya dan terendam ditengah laut,” ujarnya.

Cerita seorang kawan tentang tsunami disela-sela makan malam, memberikan banyak pelajaran.

Cerita seorang kawan tentang tsunami disela-sela makan malam, memberikan banyak pelajaran.

Disini, tsunami lebih dari sekedar legenda. Ia hidup diantara masyarakat. Beragam cerita ada disana. Apalagi terhadap mereka yang mengalaminya secara langsung.

Bersama kami juga ada seorang kawan yang saat tsunami datang juga menjadi korban. Malam itu, saat kami beristirahat di warung untuk makan malam ia bercerita detik-detik ketika tsunami meluluhlantakkan Aceh. Akibat kejadian itu, istri dan anak-anaknya sampai saat ini belum diketemukan.

Ombak besar di pagi hari tanggal 26 Desember 2004 itu, ketika tiba di pangai, tingginya melebihi pohon kelapa. Menerjang apa saja yang dilaluinya. Dia sempat menyaksikan aspal di jalan terkelupas saat air laut itu datang. Habislah sudah, semua bangunan hancur, semua orang panik dan tak bisa lagi berbuat apa-apa. Dunia seperti sedang kiamat.

Sekian detik kemudian, giliran tsunami menghantam tubuhnya. Dia terpental dan terseret air bah itu. Sempat ia menyaksikan manusia yang terpotong tubuhnya terkena seng. Ada satu lagi yang terputus pada bagian leher, hingga kepala terpisah dengan tubuhnya. Kepala yang terpisah itu masih sempat berteriak-teriak meminta pertolongan. Tanpa suara, timbul tenggelam dibawa gelombang.

Ia selamat. Tersangkut di pohon jambu.

“Kalau ada yang bilang bisa selamat dari tsunami karena berhasil lari ketempat yang lebih tinggi, itu bohong. Kami selamat karena ditolong Tuhan. Kalau Tuhan tidak menolong kita, tak mungkin kita selamat,” ujarnya.

Sepanjang ia bercerita, kami terdiam. Memperhatikan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, seolah tak ingin ketinggalan barang sepatah kata pun.

Malam itu kami mendapatkan pelajaran yang sungguh luar biasa. Sosok yang kehilangan semua harta benda dan keluarga, namun kemudian bisa bangkit dan tegar hingga sekarang. Jika bukan karena kehebatannya, sulit rasanya nestapa ini bisa dilalui.

Begitulah kehidupan. Tak selamanya keindahan yang akan kita temui. Sore tadi, kami menikmati keindahan pesisir pantai, berfoto bersama dan tertawa-tawa. Akan tetapi,malam ini, kami sudah disajikan cerita pilu yang mengiris hati. (Kascey)

.

=============================

Tulisan ini adalah catatan perjalanan kami berempat (Obon Tabroni, Prihanani, Nani Kusmaeni, dan Kahar S. Cahyono) ketika bertugas ke Aceh untuk menghadiri membership meeting dan Training Advokasi pada tanggal 11 – 14 Oktober 2013. Sengaja kami menuliskan kembali secara detail, sebagai bentuk laporan dari kami. Dengan maksud agar kawan-kawan didaerah lain bisa lebih memahami bagaimana perkembangan FSPMI di bumi Serambi Mekah dan sekaligus menyadari betapa Indonesia yang kita cintai adalah sebuah negeri yang kaya raya.

Categories: Kabar Anggota

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *