“Semua saya kembalikan kepada kawan-kawan disini. Ingin berubah atau tidak? Jika Anda berjuang dan kemudian berhasil, Anda adalah orang yang akan menikmati keberhasilan itu. Sebaliknya, jika Anda hanya diam dan oleh karenanya tetap di upah murah, Anda juga yang akan merasakannya.”

Obon Tabroni, saat berdiskusi dengan kawan-kawan Aliansi SP/SB di Banda Aceh.

Obon Tabroni (tengah), saat berdiskusi dengan kawan-kawan Aliansi SP/SB di Banda Aceh.

Kalimat Obon Tabroni di atas terkesan sederhana. Nyaris seperti statement biasa.

Akan tetapi bagi mereka yang mendengarnya secara langsung, kalimat itu sesungguhnya berupa tantangan. Mirip sebuah teriakan: “hidup atau mati?” Atau yang ini, “ikut berjuang atau hanya diam?”

Jawaban selanjutnya sudah bisa ditebak, semua yang hadir akan menjawab dengan serempak: “Kami akan ikut berjuang!”

Tak terkecuali dengan suasana diskusi sore itu di Kantor TUCC, Banda Aceh. Kawan-kawan disini, dengan tegas menyatakan menjadi bagian dari buruh Indonesia yang akan melakukan mogok nasional pada tanggal 28 s.d 30 Oktober 2013 nanti.

Mereka menolak diam, dan akan melawan jika buruh Aceh hanya dijadikan sapi perah.

“Saat ini waktu penetapan UMK sudah dekat. Tak banyak waktu kita untuk berdiskusi. Akan lebih baik jika pertemuan kita hari ini difokuskan untuk berbicara teknis. Apa yang harus kita lakukan agar upah tahun depan bisa naik secara signifikan,” ujar salah seorang peserta dengan semangat.

“Kita harus mengawal dewan pengupahan saat mereka rapat menetapkan UMK,” yang lain menimpali.

“Benar, kita harus memastikan anggota dewan pengupahan dari buruh berpihak pada aspirasi buruh. Mereka adalah wakil buruh, maka dalam memutuskan angka UMK harus sesuai dengan apa yang telah direkomendasikan kaum buruh.” Kata yang lainnya.

Tidak hanya laki-laki, buruh perempuan pun terlihat dalam perjuangan ini

Tidak hanya laki-laki, buruh perempuan pun terlibat dalam perjuangan ini

Diskusi mengalir hangat.

Kemudian Obon menceritakan, di Bekasi, Jakarta dan daerah-daerah lain, ratusan orang datang mengawal saat dewan pengupahan menggelar rapat pleno penetapan UMK. Selama ini cara itu terbukti efektif. Dan oleh karenanya, cara ini bisa ditiru di Aceh.

“Hasil rapat dewan pengupahan, kita yang akan merasakan dampaknya secara langsung. Oleh karena itu jangan biarkan mereka malakukan rapat sendiri tanpa kita hadir untukmenemani dan menyemangati,” kata Obon.

Saya menambahkan, bahwa faktanya, kenaikan UMK lebih dominan ditentukan oleh hal-hal diluar data-data. Hal-hal diluar data-data itu adalah kekuatan kaum buruh yang terorganisir. Dimana gerakan yang masif dari buruh dalam memperjuangkan upahminimum, disana bisa dipastikan upahnya akan lebih baik.

Sayang sekali, waktu yang terbatas membuat kami harus segera mengakhiri diskusi ini. Padahal masih banyak kawan yang ingin bertanya secara lebih detail tentang bagaimana serikat pekerja bisa menjawab persoalan mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30, sementara kami harus melanjutkan perjalanan ke Meulaboh yang berjarak kurang lebih 5 jam perjalanan dari sini.

Mudah-mudahan satu saat nanti masih ada kesempatan untuk kembali kesini, guna meneruskan diskusi yang belum selesai ini. (Kascey)

.

=============================

Tulisan ini adalah catatan perjalanan kami berempat (Obon Tabroni, Prihanani, Nani Kusmaeni, dan Kahar S. Cahyono) ketika bertugas ke Aceh untuk menghadiri membership meeting dan Training Advokasi pada tanggal 11 – 14 Oktober 2013. Sengaja kami menuliskan kembali secara detail, sebagai bentuk laporan dari kami. Dengan maksud agar kawan-kawan didaerah lain bisa lebih memahami bagaimana perkembangan FSPMI di bumi Serambi Mekah dan sekaligus menyadari betapa Indonesia yang kita cintai adalah sebuah negeri yang kaya raya.

Categories: Kabar Anggota

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *