Di kantor Trade Union Care Center (TUCC) terdapat banyak foto hasil dokumentasi dari berbagai kegiatan yang pernah mereka selenggarakan. Sambil beristirahat, saya mengamati satu persatu gambar-gambar itu. Betapa kawan-kawan disini memiliki semangat yang luar biasa untuk maju. Semangat itu terpancar dari berbagai gambar yang ditempel hampir diseluruh dinding ruangan.

IMG_00001052_edit
Salah satu sudut ruangan di TUCC

Kami tak sempat beristirahat terlalu lama. Karena beberapa saat kemudian sudah berdatangan kawan-kawan dari berbagai serikat pekerja untuk berdiskusi tentang upah dan rencana mogok nasional yang direncanakan akan berlangsung pada tanggal 28 – 30 Oktober 2013.

“Selagi bung Obon dan kawan-kawan dari Jakarta datang kemarin, kita sempatkan untuk berdiskusi,” ujar bung Habiby.

Boleh dibilang diskusi dengan serikat buruh di Banda Aceh ini mendadak dan diluar jadwal kami. Sebelumnya, dari Banda Aceh kami berencana langsung ke Meulaboh (Aceh Barat), namun bung Rusdi (Sekjen KSPI) menyarankan agar TUCC mengambil inisiatif mengumpulkan kawan-kawan di Banda Aceh untuk berdiskusi dengan bung Obon yang dalam beberapa minggu ini sudah blusukan diberbagai daerah untuk mensosialisasikan mogok nasional.

Memang, hanya berselang beberapa hari sebelum kami tiba, bung Rusdi sempat datang ke Aceh. Kedatangan beliau ke tanah rencong ini dalam rangka sosialisasi jaminan sosial nasional yang diselenggarakan oleh TUCC.

Kami sempat bercanda,  dimana pun Obon Tabroni datang kesebuah daerah, segera setelah itu disana kaum buruh melakukan aksi besar menolak upah murah.

IMG_00001066_editDiskusi singkat sore itu memberikan gambaran yang jelas, betapa buruh Aceh pun sudah lelah diupah murah. Mereka bertekad untuk berjuang, agar setidaknya, upah minimum tahun 2014 nanti setidaknya naik 50 persen.

“Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke Bogor dan membeli soto disana. Betapa kagetnya mengetahui harga-harga disana lebih murah dari harga di Aceh. Lebih kaget lagi, ternyata upah minimum Bogor jauh lebih tinggi dari upah minimum di Aceh,” ujar seorang peserta perempuan bernama Kartini.

Tahun 2013 ini, upah minimum di Aceh sebesar Rp. 1.550.000,- Padahal beberapa tahun yang lalu upah minimum disini termasuk yang tertinggi di Indonesia.

Melihat fakta itu, tak berlebihan jika buruh Di Aceh pun menyatakan kesiapannya untuk melakukan aksi agar Aceh tidak lagi tertinggal dengan daerah lain. (Kascey)

 

=============================

Tulisan ini adalah catatan perjalanan kami berempat (Obon Tabroni, Prihanani, Nani Kusmaeni, dan Kahar S. Cahyono) ketika bertugas ke Aceh untuk menghadiri membership meeting dan Training Advokasi pada tanggal 11 – 14 Oktober 2013. Sengaja kami menuliskan kembali secara detail, sebagai bentuk laporan dari kami. Dengan maksud agar kawan-kawan didaerah lain bisa lebih memahami bagaimana perkembangan FSPMI di bumi Serambi Mekah dan sekaligus menyadari betapa Indonesia yang kita cintai adalah sebuah negeri yang kaya raya.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *