Saya tidak tahu harus memulai tulisan ini dari mana. Semua berloncatan untuk didahulukan dalam penulisan. Situasi seperti ini sering saya alami ketika hendak menuliskan sebuah cerita. Paragraf pertama selalu menjadi lebih sulit dibandingkan dengan selanjutnya. Apalagi perjalanan kami ke Aceh pada tanggal 11 – 14 Oktober 2013 yang lalu memberikan banyak sekali pengalaman dan kenangan yang tak terlupakan.

Ketua DPW FSPMI Aceh, Habiby, saat memberikan cinderamata kepada mbak Nani Kusmaeni.
Ketua DPW FSPMI Aceh, Habiby, saat memberikan cinderamata kepada mbak Nani Kusmaeni.

Baiklah, saya akan memulai tulisan ini dengan mengucapkan terima kasih kepada bung Habiby Inseun, S.E. Pria yang menjabat sebagai Ketua DPW FSPMI Provinsi Aceh ini telah dengan sabar menemani kami selama 4 (empat) hari berada disini. Kami diajaknya mengunjungi tempat-tempat nan indah dan bersejarah. Dilayani dengan sepenuh hati seperti keluarga sendiri.

“Bagi orang Aceh tamu itu raja. Menjadi kewajiban kami untuk menjamunya dengan istimewa,” ujarnya kepada saya disela-sela acara.

Saya hanya tersenyum.

Lelaki ini memang bersahaja. Saya bisa merasakan upayanya yang luar biasa untuk membuat kami bahagia. Dalam hati saya bersyukur, Tuhan mempertemukan orang-orang yang baik hati di FSPMI.

Saat itu hari Jum`at, 11 Oktober 2013. Jarum jam kurang lebih menunjukkan pukul 11.00, ketika burung besi yang kami tumpangi mendarat di Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh.

Tak perlu waktu lama untuk menemukan bung Habiby, yang sudah sedari tadi menunggu kami. Setelah bersalaman dan berbincang sebentar, bung Habiby mengeluarkan cinderamata berupa gantungan kunci. “Ini sambutan selamat datang dari kami,” ujarnya.

Sambutan selamat datang ala Habiby: "Welcome To Atjeh"
Sambutan selamat datang ala Habiby: “Welcome To Atjeh”

Saya memilih gantungan kunci yang bertuliskan: “KOPI ATJEH – Welcome To Atjeh”.

Kebetulan, saya adalah penikmat kopi, jadi itu mewakili pribadi saya. Oh ya, Aceh adalah sebuah daerah yang juga menjadi surga bagi para pencinta kopi. Dalam kesempatan lain saya akan bercerita tentang betapa eratnya hubungan masyarakat Aceh dan kopi.

Dari bandara, kami segera menuju pusat kota Banda Aceh.

Kami memilih makan siang terlebih dahulu sebelum shalat Jum`at. Kebetulan disini waktu shalat Jum`at masuk menjelang pukul 13.00. Setidaknya masih ada waktu bagi kami untuk makan siang terlebih dahulu.

Berbeda dengan di Jakarta, di Aceh, banyak toko yang tutup menjelang shalat Jum`at. Jalanan pun nampak sepi. Tidak ada laki-laki di jalan, mereka semua berada di masjid-masjid untuk sembahyang. Situasi seperti ini tidak hanya menjelang shalat Jum`at. Tetapi juga ketika memasuki waktu shalat magrib tiba.Tak berlebihan, jika siang itu, beberapa tempat makan yang kami datangi sudah tutup.

Akhirnya kami menemukan tempat makan yang masih buka didekat kantor Trade Union Care Center (TUCC). Menikmati masakan khas Aceh dengan berbicang santai membuat kami lupa akan waktu. Ketika warung mulai ditutup, baru kami sadar, harus segera meninggalkan tempat ini.

Tujuan kami selanjutnya adalah Kantor TUCC, mengantarkan mbak Nani Kumaeni dan mbak Prihanani untuk beristirahat. Sementara mereka beristirahat, kami berangkat ke Masjid untuk menunaikan shalat Jum`at.

Tentu saja, ada nuansa berbeda bisa menunaikan shalat Jum`at disini. Apalagi untuk yang pertamakali. Ya, diantara kami berempat, hanya bung Obon yang sebelumnya pernah menginjakkan kaki di tanah rencong. Sehingga dia sesekali menjadi guide selama kami berada disini.

Panas. Saya kira inilah kesan pertama tentang Aceh. Maklum hampir semua tempat yang kami kunjungi, dari Banda Aceh hingga Aceh Barat (Meulaboh), semuanya adalah daerah pesisir pantai yang pernah rata diterjang tsunami. Namun kesan itu akan segera berakhir, ketika kita sudah berinteraksi dengan kehangatan masyarakat dan keindahan alamnya.  (Kascey)

=============================

Tulisan ini adalah catatan perjalanan kami berempat (Obon Tabroni, Prihanani, Nani Kusmaeni, dan Kahar S. Cahyono) ketika bertugas ke Aceh untuk menghadiri membership meeting dan Training Advokasi pada tanggal 11 – 14 Oktober 2013. Sengaja kami menuliskan kembali secara detail, sebagai bentuk laporan dari kami. Dengan maksud agar kawan-kawan didaerah lain bisa lebih memahami bagaimana perkembangan FSPMI di bumi Serambi Mekah dan sekaligus menyadari betapa Indonesia yang kita cintai adalah sebuah negeri yang kaya raya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *