IMG_00000673_editKetika mamah saya bangkrut dan beberapa kawan bisnisnya melaporkan ke polisi dengan tuduhan penipuan, saya sebagai si sulung baru saja lulus Fakultas Hukum UKSW. Umur saya sekitar 22 tahun.

Di usia yang masih relative muda itu, saya harus menghadapi mereka yang marah karena uangnya tidak bisa kembali. Kejadian ini berawal dari bisnis cengkeh mamah yang mismanagement.

Salah satu ‘korban’ yang merasa ‘ditipu’ oleh mamah melaporkan ke Polres Pekalongan. Kemudian mamah saya ditahan 13 hari, dan dikeluarkan dari tahanan oleh PN. Pekalongan. Dalam persidangan diputus, mamah saya terbukti bersalah: bukan kejahatan tetapi hutang piutang/keperdataan.

Jaksa melakukan kasasi dan keluarga saya panik. Kemudian diutuslah saya yang masih ‘ijo’ untuk menemui jaksa.

Saya membawa uang titipan dari papah. Nilainya cukup banyak untuk menyuap hakim agung lewat jaksa itu.

Saat itu saya diterima di apartemen rumah dinas Hakim Agung. Dengan ramah dia menanyakan kesehatan papah dan mamah, karena beliau kenal lama dengan keluarga kami. Kami mengawali pertemuan itu dengan cerita yang ringan-ringan. Berkali-kali saya mencoba ‘masuk’ pada materi utama, berkali-kali pula gagal.

Beliau bercerita tentang cita-citanya ketika masa pensiun sudah tiba. Sisa usianya, akan digunakan untuk sosial. Dari situ saya gelisah, karena sudah terlalu lama saya bertamu, tetapi belum bisa masuk pada tujuan saya menghadap beliau: minta beliau menjadi perantara suap dari keluarga kami kepada hakim agung atas kasus mamah.

Terus saja dia berceritera macam-macam. Malahan beliaunya bangkit dari duduk, lalu mengajak saya ke ruang lain. Ada banyak lukisan hasil karya beliau, yang ternyata memiliki hoby melukis. Tiba-tiba beliau menepuk punggung saya: “Jangan gelisah, saya tahu kamu bawa uang banyak. Pulanglah, Handoko. Bawa uang itu ke papahmu. Bilang uang itu buat modal usaha baru saja, jangan putus asa soal kabangkrutan mamahmu.”

Ternyata dari tadi dia paham benar akan kegelisahan saya.

Kemudian beliau menurunkan lukisan kuda kepang dan menjelaskan bahwa, “Buat kamu yang masih muda saya pesan, jadilah kuda kepang. Dia selalu dibawah, diduduki sang pemain untuk menyenangkan sang penonton. Dia tidak mendapatkan penghargaan apapun karena tepuk tangan dan honor diambil sang penari. Walaupun trademark dari tarian itu adalah tarian kuda kepang. Mustinya sang kuda ditaruh pada tempat terhormat kan?”

Saya pulang dari perumahan Hakim Agung dengan wajah seperti ‘udang rebus’.

Saya kehilangan kontak dengan beliau, yang di Semarang dikenal sebagai ketua hakim yang jujur dan bersahaja. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *