Salah satu hal yang paling berkesan dalam Dialog Kebangsaan di Istora Senayan, 21 Oktober 2013, adalah saat Bung Ozy dan Bunda Ika membacakan puisi Ws Rendra yang berjudul Kesaksian Akhir Abad. Puisi yang dibawakan dengan apik oleh dua orang ini seakan menjadi inspirasi bagi semua yang hadir untuk menjadi saksi, bahwa sesungguhnya negeri ini belum merdeka. Oleh karenanya perlu ada partisipasi untuk memerdekannya.

 

Bunda Ika dan bung Ozy saat membacakan Puisi berjudul Kesaksian Akhir Abad, di Istora Senayan | Foto: Kahar C. Cahyono

Bunda Ika dan bung Ozy saat membacakan Puisi berjudul Kesaksian Akhir Abad, di Istora Senayan | Foto: Kahar C. Cahyono

KESAKSIAN AKHIR ABAD

Karya: WS Rendra

 

Ratap tangis menerpa pintu kalbuku. Bau anyir darah mengganggu tidur malamku.

O, tikar tafakur! O, bau sungai tohor yang kotor! Bagaimana aku akan bisa membaca keadaan ini?

ODi atas atap kesepian nalar pikiran yang digalaukan oleh lampu-lampu kota yang bertengkar dengan malam, aku menyerukan namamu:

Wahai, para leluhur Nusantara! O, Sanjaya! Leluhur dari kebudayaan tanah! O, Purnawarman! Leluhur dari kebudayaan air! Kedua wangsamu telah mampu mempersekutukan budaya tanah dan air!

O, Resi Kuturan! O, Resi Nirarta! Empu-empu tampan yang penuh kedamaian! Telah kamu ajarkan tatanan hidup yang aneka dan sejahtera, yang dijaga oleh dewan hukum adat. O, bagaimana mesti aku mengerti bahasa bising dari bangsaku kini?

O, Kajao Laliddo! Bintang cemerlang Tana Ugi! Negarawan yang pintar dan bijaksana! Telah kamu ajarkan aturan permainan di dalam benturan-benturan keinginan yang berbagai ragam di dalam kehidupan: ade, bicara, rapang, dan wari.

O, lihatlah wajah-wajah berdarah dan rahim yang diperkosa muncul dari puing-puing tatanan hidup yang porak-poranda.

Kejahatan kasat mata tertawa tanpa pengadilan. Kekuasaan kekerasan berak  dan berdahak di atas bendera kebangsaan.

O, anak cucuku di jaman cybernetic! Bagaimana akan kalian baca prasasti  dari jaman kami? Apakah kami akan mampu menjadi ilham kesimpulan ataukah kami justru menjadi sumber masalah di dalam kehidupan?

Bunda Ika dan putrinya | Foto: Kahar S. Cahyono

Bunda Ika dan putrinya | Foto: Kahar S. Cahyono

Dengan puisi ini aku bersaksi. Bahwa rakyat Indonesia belum merdeka. Rakyat yang tanpa hak hukum bukanlah rakyat merdeka. Hak hukum yang tidak dilindungi oleh lembaga pengadilan yang mandiri adalah hukum yang ditulis di atas air!

Bagaimana rakyat bisa merdeka bila polisi menjadi aparat pemerintah. Dan tidak menjadi aparat hukum yang melindungi hak warga negara?

Bagaimana rakyat bisa merdeka bila birokrasi negara tidak menjadi abdi rakyat, melainkan menjadi abdi pemerintah yang berkuasa?

Bagaimana rakyat bisa merdeka bila  hak pilih mereka dipasung tidak boleh memilih secara langsung wakil-wakil mereka di dewan perwakilan, dan juga tidak boleh memilih secara langsung camat mereka, bupati, walikota, gubernur, dan presiden mereka?

Dan partai-partai politik menganggap rakyat hanya abdi partai yang dinamakan masa politik partai! Atau kawula partai!

Bagaiman rakyat bisa merdeka bila  pemerintah melecehkan perdagangan antardaerah dan mengembangkan merkantilisme Daendels sehingga rela menekan kesejahteraan buruh, petani, nelayan, guru dan serdadu berpangkat rendah?

Bagaimana rakyat bisa merdeka bila  propinsi-propinsi sekedar menjadi tanah jajahan pemerintah pusat?

Tidak boleh mengatur ekonominya sendiri, tatanan  hidupnya sendiri, dan juga keamanannya sendiri?

Ayam, serigala, macan, ataupun gajah, semuanya peka pada wilayahnya. Setiap orang juga ingin berdaulat di dalam rumahtangganya.

Setiap penduduk ingin berdaulat di dalam kampungnya. Dan kehidupan berbangsa. Tidak perlu merusak daulat kedaerahan.

Hasrat berbangsa dan naluri rakyat untuk  menjalin ikatan dayacipta antarsuku, yang penuh keanekaan kehidupan, dan memaklumkan wilayah pergaulan yang lebih luas untuk merdeka bersama.

Tetapi lihatlah selubung kabut saait ini! Penjajahan tatanan uang penjajahan modal, penjajahan kekeraan senjata, dan penjajahan oleh partai-partai politik, masih merajalela di dalam negara!

Dengan puisi ini aku bersaksi bahwa sampai saat puisi ini aku tandatangani para elit politik yang berkedudukan ataupun yang masih berjalan, tidak pernah memperjuangkan sarana-sarana kemerdekaan rakyat.

Mereka hanya rusuh dan gaduh memperjuangkan kedaulatan golongan dan partainya sendiri.

Mereka hanya bergulat untuk posisi sendiri. Mereka tidak peduli kepada posisi hukum, posisi polisi, ataupun posisi birokrasi.

Dengan picik mereka  akan mendaur-ulang malapetaka bangsa dan negara yang telah terjadi!

O, Indonesia! Ah, Indonesia! Negara yang kehilangan makna! Rakyat sudah dirusak tatanan hidupnya. Berarti sudah dirusak dasar peradabannya. Dan akibatnyaa dirusak pula kemanusiaannya.

Maka sekarang negara tinggal menjadi peta. Itupun peta yang lusuh dan  hampir sobek pula. Pendangkalan kehidupan bangsa telah terjadi. Tata nilai rancu. Dusta, pencurian, penjarahan, dan kekerasan halal.

Penampilan yang luar biasa dari buruh Indonesia | Foto: Kahar S. Cahyono

Penampilan yang luar biasa dari buruh Indonesia | Foto: Kahar S. Cahyono

Manusia sekedar semak belukar yang  gampang dikacau dan dibakar. Paket-paket pikiran mudah dijajakan. Penalaran amanah yang salah mendorong  rakyat terpecah belah.

Negara tak mungkin kembali diutuhkan tanpa  rakyatnya dimanusiakan. Dan manusia tak mungkin menjadi manusia. Tanpa dihidupkan hatinuraninya.

Hati nurani adalah hakim adil untuk diri kita sendiri. Hatinurani adalah sendi dari kesadaran akan kemerdekaan pribadi.

Dengan puisi ini aku bersaksi bahwa  hatinurani itu meski dibakar tidak bisa menjadi abu. Hatinurani senantiasa bisa bersemi meski  sudah ditebang putus di batang.

Begitulah fitrah manusia ciptaan  Tuhan Yang maha Esa.

Categories: Puisi dan Fiksi

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *