Preman bertebaran dikawasan industri

Preman bertebaran dikawasan industri

:: Muspida Kabupaten Bekasi adakan pertemuan mengantisipasi mogok nasional.

Spanduk bertuliskan “Mengantisipasi Mogok Nasional” itu terpasang didepan. Ia seperti hendak memberitahukan. Bahwa disini adalah tempat untuk mendiskusikan agar mogok nasional tidak akan terjadi

Tulisan didalam spanduk itu cukup mengejutkan. Lagi pula, didalam undangan, pertemuan di Hotel Grand Zurry tanggal 26 Oktober 2013 itu adalah untuk menciptakan kondusifitas di Kabupaten Bekasi. Mengapa bisa berubah menjadi diskusi tentang mogok nasional?

Dalam acara tersebut dihadiri oleh Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin, Kapolres Kab. Bekasi, Danrem, Pengelola Kawasan, Aspelindo, tokoh masyarakat dan sekelompok orang dari etnis tertentu.

Nah, ini yang menarik. Apa maksudnya melibatkan Aspelindo dan sekelompok orang dari etnis tertentu dalam pertemuan seperti ini?

Sebagai asosiasi pengusaha limbah, Aspelindo tak ada kaitan secara langsung didalam hubungan industrial. Apalagi orang-orang dari kelompok etnis tertentu.

Pertemuan yang aneh. Sangat aneh, bahkan. Wajarlah jika kemudian motif pertemuan itu dipertanyakan.

Tentu saja, kami merasa ditipu ketika hadir dalam pertemuan itu. Sebab kenyataannya, pertemuan tersebut berbeda dengan tema dalam surat undangan. Pertemuan tersebut lebih terkesan sebagai sebuah agenda tersistem untuk menghalang-halangi Mogok Nasional buruh. Spanduk tadi, yang terpasang didepan, menjadi bukti terhadap maksud yang sesungguhnya dalam pertemuan ini.

Tak sekedar spanduk. Dalam pertemuan itu juga ada penandatanganan kesepakatan bersama antara Muspida, Pengelola Kawasan, Aspelindo, Serikat Pekerja, dan beberapa elemen lain yang pada intinya tidak mendukung dan berpartisipasi dalam mogok nasional.

Hari itu, sebuah rencana besar tengah dipersiapkan. (Kascey)

Categories: Opini

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *