431239_3119729526546_193226425_nOleh: Obon Tabroni *)

Saat menuliskan perbedaan antara saya dan Iqbal, yang terfikir oleh saya adalah agar kita semua bisa memetik pelajaran darinya. Bahwa dalam perbedaan itu, yang terpenting adalah mencari jalan keluar untuk mendapatkan penyelesaian. Bukannya lantas membuat jarak dan menjadikan masing-masing dari kita yang tadinya berdekatan, menjadi pihak yang saling bermusuhan.

Ingin saya tegaskan kembali, disini. Saya tidak sedang menulis sejarah FSPMI. Catatan ini tidak lebih sebagai kado ulang tahu untuk sahabat saya, Said Iqbal, yang tak lain adalah Presiden FSPMI dan KSPI. Saya menuliskannya dari kejauhan. Di sebuah kota yang indah, Turin. Italia.

Tulisan ini bukan untuk menunjukkan, bahwa hanya saya dan Iqbal  yang paling berjasa di organisasi ini. Sama sekali, bukan. Masih banyak orang lain, di FSPMI, yang peran dan sumbangsihnya terhadap organisasi sungguh luar biasa besarnya.

Dalam tulisan sebelumnya, Kado Untuk Iqbal (3), saya sudah menjelaskan bagaimana konflik itu harus diatasi. Dan kali ini, saya akan menceritakan betapa saya dan Iqbal, pernah terlibat dalam perbedaan pandangan yang sangat tajam.

Hal itu terjadi saat penentuan UMK Tahun 2013 kemarin.

Awalnya, Iqbal meminta saya untuk menahan dalam beberapa hari kedepan, agar Bekasi jangan memutuskan upah terlebih dahulu. Saat itu saya berpikir sederhana. Di wilayah Jabodetabek belum ada satu pun yang berani memutuskan upah. Termasuk DKI Jakarta, yang menurut aturan harus lebih dahulu memutuskan, dibandingkan dengan kota/kabupaten.

Semua menunggu Bekasi. Saya kira ini bisa dimaklumi. Tanpa bermaksud menyombongkan diri, saat ini Bekasi menjadi barometer gerakan buruh di Indonesia.

Dalam rapat KC sudah diputuskan, target UMK Bekasi diatas 2 juta dan harus ada sektor baru bagi SPAI. Nah, dalam lobby saya dengan pemerintah, angka tersebut sudah didapat.

Saya kontak kawan DKI. Tidak ada kejelasan dari mereka.

Lalu harus menunggu apa lagi?

Jam 3 malam, saya diskusi dengan ketua PC lain di Bekasi. Mereka bilang: Go!

Sebagai pemimpin, saya ambil tanggungjawab itu. Saya kontak Nurdin dan Aji. Meminta  mereka untuk putusin upah segera.

Tak pernah saya duga sebelumnya, Iqbal memprotes keras keputusan saya. Dia menganggap keputusan saya telah melemahkan gerakan kawan-kawan daerah lain. Saya pun tak kalah kerasnya bereaksi. Apalagi dalam kondisi ngantuk, semalam nggak  tidur, ditambah kepala pusing.  Dalam situasi seperti itu, saya bilang ke Nurdin, Aji dan para Ketua PC, bahwa saya bertanggungjawab atas ini semua. “Besok akan saya jelaskan,” saya menegaskan.

Setelah sarapan di Pemda, saya pulang ke rumah. Matiin HP, dan tidur.

Siang hari, begitu HP di buka, SMS yang datang lebih banyak: Oke, saya siap. Kalau keputusan itu mau dianulir, silahkan.

Belakangan, saya pun sadar. Saat mengambil keputusan itu, saya hanya memandang dari satu sisi. Yaitu kepentingan Bekasi dan kawan-kawan SPAI Bekasi, untuk mendapatkan upah sektoral. Sementara Iqbal memandang dari sisi yang lebih luas, yaitu daerah lain.

* * *

Saya, Rieke dan Ikbal dalam sebuah kegiatan serikat pekerja

Saya, Rieke dan Ikbal dalam sebuah kegiatan serikat pekerja

Persoalan Politik, juga pernah membuat kami berdebat panjang. Terutama terkait dengan pemilihan Gubernur Jabar. Sampai-sampai, membuat saya mengajukan surat pengunduran diri dari FSPMI.

Bermula dari dicalonkannya diri saya untuk mendampingi Rieke. Padahal sejak awal saya katakan, bahwa saya keberatan. Setelah saya tidak terpilih sebagai pendamping Rieke – maksudnya mendampingi dia sebagai Cawagub dalam pemilihan Gurbernur Jabar – kini berlanjut dengan pemberian dukungan.

Bagi saya, Rieke adalah seorang kawan yang pernah bersama-sama berjuang di KAJS. Dia banyak membantu ketika ada kasus. Sedikit banyak saya juga sudah tahu latar belakangnya.

Satu ketika, saya ngobrol berdua dengannya di Lippo. Saat itu Rieke mengutarakan niatnya untuk berjuang di Jawa Barat dan menyampaikan bahwa proses di partai sedang berjalan. Rieke menyampaikan kepada saya, tidak  punya uang untuk maju. Saya bilang ke dia: “Oke, Teteh lanjut terus. Nu penting wani, apapun saya bantu teteh. Ulah mikiran duit.”

Bagi saya, terhadap orang yang pernah membantu, wajib bagi saya untuk juga membantu.

Waktu berlalu. Setelah melalui perdebatan yang sengit dalam rapat, akhirnya DPP memutuskan bahwa FSPMI tidak mendukung satupun Cagub Jawa Barat, dan melarang semua fasilitas, bendera, untuk mendukung. Termasuk semua pengurus.

Walah, kacau.

Sementara saya sudah komitment sama Rieke, yang tidak mungkin saya cabut kembali. Pilihannya hanya lanjut atau mundur.

Pusing upah dianggap gagal. Politik dipermasalahkan. Tidak ada pilihan. Saya bilang ke kawan-kawan. Saya gagal diupah. Saya beda pandangan dipolitik. Saya mundur dari FSPMI: SMS saya kirim kesemua Ketua PC di Bekasi, termasuk ke Iqbal.

Setelahnya ganti kartu.

HP OFF.

Service motor.

Siapin Rangsel.

Dan, jalan….

Nggak ada tempat yang dituju. Yang penting jalan.

Tidak ada beban ketika saya mennyatakan mundur dari organisasi yang saya cintai ini. Apalagi kader sudah banyak. Struktur sudah jalan. Anggaran tidak susah lagi. Sistem pengupahan sudah dibuat. Garmet sudah eksis. Saya hanya masih memiliki hutang kerjaan dengan keberadaan Aneka Industri.

Ketika itu saya berfikir, usaha yang selama ini dikelola orang lain, akan saya handle sendiri. Saya akan pulang ke Pebayuran atau ngurus kebun di Jonggol.

Biarlah FSPMI menjadi kenangan yang selalu melekat dalam hidup saya. Pahit manisnya. Suka dukanya.

Lagi-lagi, diluar dugaan saya. Kawan-kawan Bekasi bereaksi. Semua Ketua PC membuat surat pengunduran diri ke DPP. Kawan-kawan PC SPAI lebih sadis lagi. Bersama-sama dengan Garmet sejumlah kurang lebih 300 orang, malam itu ramai-ramai mendemo rumah dan menyatakan semuanya mundur.

Nah, lho…

Saya tidak jelaskan adanya konflik dengan Iqbal. Saya hanya menjelaskan bahwa saya gagal. Bahwa saya punya anak yang akan beranjak dewasa, yang pasti kedepan butuh materi yang lebih besar lagi. Bahwa usaha saya resis kalau orang lain yang pegang. Bahwa sekarang sudah banyak kader yang bisa menggantikan saya.

Semua alasan di tolak.

Saya berada pada pilihan yang dilematis. Apa jadinya kalau Kamto dan semua pengurus SPEE, Furqon dengan AMK-nya, Masrul dengan Logamnya, dan si bungsu Husni dengan kawan-kawan AI-nya, Isnaini dengan Garmetnya, semua memilih mundur karena saya?

Pada titik itulah saya sadar, bahwa dalam membangun organisasi dan gerakan, tidak boleh semata-mata didasarkan pada egoisme pribadi. Kita harus melihat dari kerangka yang lebih besar. Dan dalam hal itu, saya kira pendapat Iqbal ada benarnya.

 

Tulisan Sebelumnya:

Kado Untuk Iqbal (1)

Kado Untuk Iqbal (2)

Kado Untuk Iqbal (3)

Kado Untuk Iqbal (4)

 

*) Tulisan ini diedit kembali oleh Kahar S. Cahyono, tanpa merubah substansi/isi

Categories: Tokoh

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *