431239_3119729526546_193226425_nOleh: Obon Tabroni *)

Hingga hari ini, saya tidak pernah bisa melupakan masa-masa itu. Satu masa, ketika saya mulai berinteraksi dengan Said Iqbal. Sosok bersahaja yang kini menjadi Presiden FSPMI dan kemudian menjelma sebagai tokoh buruh berkelas dunia. Penghargaan De Febe Elizabeth Velasquez Trade Union Award yang baru saja diterimanya, adalah bukti nyata bahwa ia telah menorehkan karya nyata sebagai pembebas buruh yang tertindas.

Saat itu awal tahun 90-an, ketika kawan-kawan PT. Kotobuki Elektronics Indonesia (sekarang PT. PHCI) melakukan aksinya yang pertama. Dan dalam aksi yang pertama itulah, awal saya melihat kepemimpinan Iqbal.

Aksi memang tidak berlanjut. Tetapi interaksi saya dengan Iqbal terus terajut. Apalagi setelah Iqbal dan Vony akan di PHK.

Ketika itu, jumlah pekerja di PT. Kotobuki Elektronics Indonesia kurang lebih sebanyak 700 orang. Iqbal menjadi leader di Final Departemen. Sementara saya adalah maintenance di Painting & Molding. Komitment Iqbal terhadap kesejahteraan kaum buruh sudah terlihat sejak dulu. Nyatanya, meski sudah menjadi leader, Iqbal berani berdiri di garis terdepan memimpin aksi.

Saya mulai aktif dalam serikat.

Tanggung jawab saya yang pertama adalah membantu pengurus di bidang pendidikan sebagai biro. Kondisinya belum  seperti yang kita lihat sekarang. Jangankan sekretariat. Lemari arsip pun belum kami miliki. Meskipun begitu, tidak sedikitpun mengurangi semangat kami untuk melakukan kerja-kerja organisasi.

Kami sudah terbiasa melakukan meeting di sela-sela tumpukan kardus spare part Matrial Departement. Itu pun kami lakukan pada saat istirahat sore atau sepulang kerja. Perusahaan belum mengijinkan kami menggunakan jam kerja untuk menjalankan aktifitas serikat pekerja.

Konsep PKB yang pertama, juga kami rumuskan dari balik tumpukan kardus di sela jam istirahat. Lama kami menjalani masa-masa sulit itu. Tetapi tanpa saya sadari, justru kesulitan-kesulitan itulah yang membuat kami semakin kuat dalam melangkah. Tidak membuat kami menjadi cengeng dan mudah menyerah  ketika menghadapi masalah.

471002_491312814221449_1577616051_oHingga satu ketika, perusahaan memberikan kami sekretariat. Jangan kira itu ruangan mewah yang dilengkapi alat pendingin. Apa yang kami sebut sebagai sekretariat itu, tidak lain adalah bekas bedeng project yang sudah ditinggalkan. Di tempat yang baru ini,  kami bukan hanya meeting tentang serikat pekerja. Kami juga berdiskusi agar perusahaan tetap eksis, produktifitas tinggi, karyawan yang tidak disiplin dan absensi tinggi kami ingatkan, program perusahaan yang bertujuan meningkatkan produktifitas kami dukung, kami selalu diingatkan jika perusahaan adalah ladang kami yang harus kami jaga. Tentu saja, kami pun sering mengingatkan perusahaan kalau mereka keluar dari aturan dan kebiasaan

Waktu berjalan.

Pasca MUSNIK, posisi saya bukan lagi sebagai biro, tetapi menjadi pengurus . Tanggung jawab pun bertambah. Tanggung jawab pertama saya di pengurus adalah sebagai Team Perundingan Kalender Kerja. Kemudian berlanjut untuk perundingan bonus, kenaikan upah dan Asuransi Kesehatan.

Oh, ya. Kali ini saya akan menceritakan sesuatu yang paling saya ingat ketika pertamakali harus mengabil keputusan tentang bonus. Sehari sebelumnya, team sudah menyepakati beberapa hal terkait konsep, strategi dan personal yang akan ikut dalam perundingan. Jadwal perundingan pun sudah disepakati dengan pihak perusahaan. Sehabis istirahat sore, jam 16:00 WIB.

Dari jam 13:00 kami sudah siap.

Akan tetapi, hingga jam 14.00 Iqbal belum datang.

Akhirnya dengan menggunakan pager (saat itu belum ada HP) kami mengontak Iqbal. Lega. Saat mendapat jawaban jika Iqbal sedang  OTW.

Jam 15:30. Belum datang!

Jam 16:00. Ini waktu yang telah disepakati, bahwa perundingan akan segera dimulai. Tetapi Iqbal belum datang juga.

Saat itulah kami sangat gelisah. Panik. Tanpa kehadiran Iqbal, kami tidak cukup memiliki kepercayaan diri untuk berargumentasi dengan pihak perusahaan. Apalagi perundingan kali ini akan mengambil keputusan penting untuk 7000-an anggota kami.

Jam 16:30, terdengar panggilan di  speaker dari personalia. Bahwa kami semua di tunggu di Meeting Room.

Saya mengupat. Hati berdebar tak karuan. Panas dingin. Tapi okelah, show must go on.

Siapa sangka, itu menjadi pengalaman pertama berunding dengan Presdir. Memutuskan sesuatu yang berat tanpa Iqbal, yang sebelumnya memang sudah terbiasa melakukan hal-hal seperti ini. Meski suasana perundingan sempat memanas, akhirnya kami bisa menyelesaikan itu dengan baik.

374217_2167804803155_1431565387_n

Wajah tanpa dosa itu. Saya tidak akan pernah bisa melupakannya. Betapa tidak, Iqbal hanya tertawa ketika bertemu kami, selepas perundingan yang menegangkan itu terjadi.

Namun dari situ, saya mendapatkan pelajaran yang berharga. Akhirnya saya memahami, terkadang untuk mengkader seseorang, harus terlebih dahulu dijerumuskan.

Setelah itu kami mulai berani berjalan sendiri. Meskipun tanpa Iqbal. Saya pikir, itulah sebabnya mengapa kita berorganisasi. Kita harus mulai terbiasa untuk tidak hanya bergantung pada seseorang. Siapa pun boleh keluar-masuk organisasi ini, tetapi cita-cita perjuangan harus tetap dilanjutkan.

Banyak keputusan strategis yang kami buat setalah itu. Termasuk Asuransi Kesehatan. Berbekal pengalaman kelahiran anak pertama saya yang bermasalah di Rumah Sakit, saya bertekad cukup saya yang mengalami. Kami berjuang. Hingga akhirnya, pada tahun 1997 di tempat kami bekerja, wanita punya hak menanggung suami dan anak. Meskipun suami masih bekerja. Semua biaya ditanggung. Tanpa limit.

 

Bersambung…

*) Tulisan ini diedit kembali oleh Kahar S. Cahyono, tanpa merubah substansi/isi


3 Comments

Kado Untuk Iqbal (2) · July 8, 2013 at 4:42 pm

[…] Kado Untuk Iqbal (1) […]

Kado Untuk Iqbal (3) · July 9, 2013 at 2:08 pm

[…] Kado Untuk Iqbal (1) […]

Kado Untuk Iqbal (5 – Habis) · July 13, 2013 at 12:12 pm

[…] Kado Untuk Iqbal (1) […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *