1Meskipun peristiwa ini terjadi beberapa bulan yang lalu, tetapi saya tak akan pernah bisa melupakannya. Wajah polosnya. Juga tatap matanya yang sendu, ketika memegang bendera Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) di siang yang terik itu.

Bocah kecil itu ikut ibunya, buruh PT. Jaba Garmindo (dalam pailit) dalam sebuah aksi yang dilakukan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di KPKNL Cirebon. Sehari sebelumnya ikut dalam aksi di KPKNL Jakarta 1, kemudian dari sana berangkat ke Purwakarta. Menginap di tempat ini, kemudian pagi-pagi sekali melanjutkan perjalanan ke Cirebon.

Orang tuanya terpaksa mengajak bocah itu. Sebab di rumah tidak ada yang mengasuh. Sedangkan sebagai bagian dari tanggungjawab, ia harus ikut serta dalam aksi ke Cirebon yang jika dihitung pulang – pergi memakan waktu dua hari.

Begitulah, perselisihan hubungan industrial tidak hanya berdampak pada pekerja. Tetapi juga keluarganya. Bahkan dalam dimensi yang lebih luas, masalah perburuhan juga terkait erat dengan masyarakat. Bahkan anak-anak yang tidak tahu apa-apa perihal hubungan kerja itu juga terkena dampak.

Melihat kembali foto ini, kita akan diingatkan pada satu hal. Bahwa kewajiban serikat pekerja itu adalah melunasi janji: janji untuk membela, memperjuangkan, dan melindungi pekerja dan keluarganya.

Bukan hanya pekerja yang dibela. Bukan untuk kepentingan pekerja saja kita berjuang. Perlindungan yang diberikan serikat pekerja, juga harus mencakup keluarga dari para pekerja. Dalam konteks ini, berbicara pekerja sama halnya membicarakan masyarakat secara luas.

Maka setiap pekerja tidak perlu malu dan ragu untuk bergabung dalam serikat pekerja. Menjadi anggota serikat bukanlah kesalahan. Itu justru sebuah kemuliaan. Bahkan serikat pekerja merupakan organisasi yang sah dan mendapat keistimewaan karena keberadaannya diatur tersendiri dalam Undang-undang. Perjuangannya bukan untuk kepentingan pribadi. Tetapi, juga, memperjuangkan agar setiap generasi di Negeri ini memiliki masa depan. (*)