Upah 3,7 Juta Sangat Wajar

Koran Perdjoeangan  Edisi terbaru

Koran Perdjoeangan Edisi terbaru

Beberapa hari terakhir, tuntutan kenaikan upah minimum sebesar 50 persen dan 3,7 juta rupiah untuk DKI Jakarta pada tahun 2014 disuarakan kaum buruh diberbagai pelosok tanah air. Aksi besar yang melibatkan ribuan buruh berlangsung secara bergelombang diberbagai daerah. Tuntutan buruh masih terbilang wajar, mengingat kenaikan harga BBM baru-baru waktu yang lalu mengakibatkan kenaikan harga bahan-bahan pokok lainnya.

Kenaikan harga BBM menyebabkan buruh dan masyarakat secara umum kehilangan daya beli sekitar 30% hingga 40%. Maka sudah semestinya, jika kenaikan upah minimum tahun 2014 harus bisa menutupi nilai upah yang tereduksi akibat kenaikan harga BBM.

Katakanlah, jika daya beli yang hilang 40% maka kenaikan upah tahun 2014 adalah 40% ditambah nilai inflasi 8% ditambah kenaikan upah minimum 20%, maka total kenaikan upah tahun 2014 adalah 58%. Sebagai contoh upah minimum DKI Jakarta tahun 2013 sebesar 2,2 juta rupiah, maka 68% dari 2,2 juta rupiah adalah 1,6 juta rupiah. Artinya upah minimum tahun 2014 adalah 2,2 juta rupiah ditambah 1,6 juta rupiah adalah 3,7 juta rupiah.

Dengan hitung-hitungan diatas jelas tuntutan upah minimum 3,7 juta rupiah untuk tahun 2014 merupakan hal yang wajar. Apalagi mengingat Indonesia saat ini sudah menjadi pelaku ekonomi besar dunia, ditandai sejak tahun 1999 sudah menjadi anggota G20, dengan target pendapatan $5000 per kapita tahun 2014.

Sebuah ironi memang, sebagai satu-satunya Negara ASEAN yang menjadi anggota G20 ternyata upah minimum Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan upah minimum Malaysia, Thailand, Singapura, Philipina, bahkan Brunai. Kondisi ini menjelaskan kepada kita, pesatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia ternyata hanya dinikmati oleh segelintir orang.

Oleh karena itu, pemerintah tidak boleh hanya memikirkan bagaimana meningkatkan investasi di Indonesia, namun Pemerintah juga harus memikirkan bagaimana masuknya investasi harus dibarengi dengan peningkatan taraf kesejahteraan rakyat, dan satu-satunya cara yang efektis adalah meningkatkan nilai upah minimum minimal setara dengan upah minimum Singapura.

Indonesia merupakan Negara raksasa, baik dari sisi besar wilayah maupun dari sisi jumlah penduduk, upah minimum setara Singapura jelas bukanlah mimpi. Sebuah keanehan jika Negara seperti Indonesia, besar upah minimumnya hanya mampu bersaing denga Negara-negara sekelas Laos dan Kambodja.

Selain meningkatkan nilai upah minimum untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, pemerintah harus segera merealisasikan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang mampu melindungi seluruh anak bangsanya. Apalagi perintah UU SJSN dan UU BPJS sudah cukup jelas, per 1 Januari 2014 seluruh rakyat Indonesia harus terjamin kesehatannya.

Satu lagi yang tak kalah penting, untuk menjamin harmonisasi dunia usaha, maka pemerintah harus mampu memberantas pungutan liar yang selama ini sangat membebani dunia usaha. Jika ini bisa diwujudkan, dunia usaha tidak akan terbebani oleh kenaikan upah menjadi 3,7 juta rupiah dan pada akhirnya kesejahteraan untuk seluruh rakyat Indonesia tidak hanya sebatas hapalan anak-anak Sekolah Dasar. *Red*


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *