sayaTidak ada lelaki hebat, tanpa perempuan luar biasa yang berdiri tegak dibelakangnya.

Saya salah satu orang yang mempercayai kebenaran akan kalimat itu. Maka ketika dulu kawan-kawan meminta saya untuk menjadi ketua serikat pekerja, orang yang pertama saya ajak bicara adalah si belahan hati: istri.

Mami Nursafitri, sebut saja begitu. Perempuan luar biasa, yang saat ini menjadi ibu dari dua orang anak saya: Farahdiba Nurazizah dan Ahmad Reza Pahlevi. Tanpa dukungan dan keikhlasan yang diberikan untuk saya, tidak mungkin saya menjadi seperti yang sekarang. Kami sekeluarga tinggal di Perumahan Citra Pandawa Asri Blok A1 No. 33. Batuaji – Batam.

Kepada keluarga, saya selalu mengajarkan falsafah kehidupan untuk tidak segan-segan memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan. Agar hidup dimudahkan Tuhan, maka perbanyaklah membantu orang lain yang kesusahan.  Hakikatnya, ketika kita banyak memberi, maka kita akan lebih banyak menerima. Seringkali dalam bentuk yang tidak kita sadari.

Filosofi itu juga yang saya jalani selama ini. Karena itu, untuk tugas-tugas organisasi, tak pernah sekalipun saya menghitung untuk rugi. Pengabdian yang tulus memang menjadi keharusan bagi mereka yang memilih jalan hidup untuk menjadi aktivis di serikat buruh. Jika bukan karena itu, niscaya kita akan berkhianat. Lupa bahwa tujuan kita untuk mensejahterakan kaum pekerja, bukan menjadi stempel penguasaha untuk menindas buruh-buruhnya.

Oleh karena itu, saya selalu berusaha untuk tampil sederhana. Apapun posisi saya nantinya.  Sering kita temui, ketika kesederhanaan telah luntur maka tinggal menunggu waktu lunturnya idealisme yang selama ini kita banggakan.

Meskipun pada saatnya nanti saya harus duduk di parlemen, kesederhanaan itu akan tetap saya jaga. Sikap melayani anggota tidak boleh sedikitpun berkurang, bahkan ditingkatkan. Apalagi dengan menjadi anggota dewan, sudah memiliki kewenangan yang jauh lebih besar.

Saya paham, politik di Indonesia sangat mahal. Rasanya hampir mustahil bagi kita untuk melawan politik berbiaya mahal itu. Karena itu, para caleg dari aktivis buruh harus membiasakan diri mempromosikan dirinya lewat karya nyata dan tidak perlu memberikan janji-janji pragmatis yang bersifat materi. Bila para caleg buruh yang sekian banyaknya tetap menjaga idealismenya, pada saanya nanti rakyat mengerti mana yang harus dipilih dan mana yang tidak boleh dipilih.

Saya kira ini juga akan menjadi bagian dari pendidikan politik: sebuah modal sosial yang sangat berharga. (kascey)

 

 

Baca Juga:

Darmo Juwono: Yang Berani Mengambil Resiko

Darmo Juwono: Berjuang Untuk Upah Layak Dengan Tanpa Basa-Basi

Darmo Juwono: Inginkan Buruh Cerdas dan Bermartabat

Darmo Juwono: Menjaga Sikap Sederhana

Darmo Juwono: Permasalahan – Jalan Keluar – Harapan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *