Pemanasan mogok nasional yang dilakukan KSPI di DPR RI beberapa waktu lalu. | Sumber Foto: Kahar S. Cahyono
Pemanasan mogok nasional yang dilakukan KSPI di DPR RI beberapa waktu lalu. | Sumber Foto: Kahar S. Cahyono

Hal yang paling menyebalkan adalah ketika kita harus memberikan penjelasan yang sama secara berulang-ulang. Bukan karena tak penting, tetapi lebih karena si penanya sesungguhnya tak ingin mendengar jawaban kita. Percuma saja. Meskipun dalam setiap argumentasi yang kau sampaikan tersaji banyak data, mereka tetap tak akan mau menerima.

Ketika semua orang bisa mengatakan apapun kepada siapapun, kata-kata menjadi kehilangan makna. Tapi apa boleh buat, inilah era kebebasan dalam menyampaikan pendapat. Maka, mari kita nikmati dan rayakan. Tetapi jika argumentasi kami yang lebih rasional dan masuk akal, terimalah dengan damai.

“Jadi kalian masih akan melakukan mogok nasional?” Katamu tadi pagi, saat kita duduk santai di kedai kopi. Asap mengepul dari sebatang rokok yang kau hisap.

Meski hanya satu kalimat, aku tahu kemana pembicaraan akan berlanjut. “Seperti yang banyak diberitakan diberbagai media, besok kami akan melakukan mogok nasional,” jawabku.

Engkau terlihat gusar. “Sudah kau pikirkan dampaknya? Dengan upah minimum diatas 3 juta, akan banyak investasi lari keluar negeri.”

“Kau pernah keluar negeri?”

Mukamu memerah menahan amarah. Tak perlu kau jawab, itu. Sudah kuduga, kau tak lebih dari preman kampung yang hanya memiliki sedikit nyali untuk menakut-nakuti.

“Upah di negara kita bahkan masih lebih murah jika dibandingkan dengan Filipina, Singapura, dsb. Padahal pertumbuhan ekonomi kita menjadi salah satu yang terbaik. Negara ini bahkan menjadi tujuan investasi nomor wahid,” kataku. “Jadi tak mungkin mereka akan lari keluar negeri.”

“Tapi siapa yang mampu bayar dengan gaji sebesar itu?” Suaramu mulai meninggi.

Kubuka ponselku dan kutunjukkan sebuah berita yang mengutip pernyataan Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia yang mengatakan bahwa pengusaha sesungguhnya mampu membayar buruh Indonesia sebesar 13 juta per bulan. Sambil memegang pundaknya, aku berkata, “Kita hanya minta 3 juta, saja. Sisanya, yang 10 juta, kita hibahkan buat mereka. Agar para pengusaha itu tetap bisa kaya dan sejahtera.”

Kau terdiam. Matamu lekat menatap layar handphone. Sedetik kemudian, seperti mendapatkan segenggam intan permata, matamu terbuka lebar. “Nah, ini. Ini ada syaratnya. Dia mau membayar buruh 13 juta asal tak ada pungli dan infrastruktur diperbaiki,” katanya.

Ia berdiri. Jumawa.

Aku tetap tenang dikursiku. Sudah kuduga, orang ini sesungguhnya sudah terkena gejala sakit jiwa: Senang melihat orang lain menderita.

“Nah, jadi setuju kan kalau upah naik diangka sekitar 3 juta? Dan mari kita perangi korupsi, pungli, serta memperbaiki infrastruktur. Jangan upah buruh yang ditekan untuk sebuah kesalahan yang bukan disebabkan olehnya,” kataku.

“Tahu tidak, kenapa infrastruktur pada hancur dan korupsi merajalela?” Tanyaku.

Sebelum kau memberikan jawaban, sudah kujawab duluan. “Itu karena ulah penguasa dan pengusaha hitam. Perusahaan mampu, kok. Dia yang bilang sendiri.”

Seperti tersedak, matamu membelalak. Ini logika sederhana, kan? Perusahaan membayar preman saja mampu. Padahal mereka tak menghasilkan apa-apa. Kenapa kami yang menggerakkan mesin-mesin industri justru dihalang-halangi untuk mendapatkan upah yang layak?

“Kamu itu, ya. Dasar. Mental buruh. Pikirkan caranya jadi pengusaha, jangan hanya nuntut upah melulu,” kau mengalihkan pembicaraan.

“Kalau semua orang jadi pengusaha, siapa yang akan jadi buruhnya. Apakah kau pikir di Amerika dan Eropa sana tak ada buruh? Sadarlah, perjuangan upah bukan hanya untuk mereka yang saat ini bekerja. Tapi juga buat calon buruh, juga siapa saja yang akan menjadi buruh.

Kami bersyukur menjadi buruh. Tapi rasa syukur itu bukan berarti harus menghentikan langkah kami untuk memiliki upah lebih baik, kan? Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan esok hari harus lebih baik dari hari ini. Begitu agama kami mengajarkan.

Kata pengamat perburuhan Universitas Airlangga yang mengamati upah buruh sejak 1995, pada tahun 1990-an, seluruh upah buruh dalam sebulan dapat membeli
sekitar 350 kg beras, tetapi pada 2013 upah sebesar Rp2,2 juta hanya mampu membeli 200 kg beras.
“Itu berarti dalam 15 tahun nilai riil upah minimum turun hampir 50%.

Emas misalnya,
satu kali gaji pada 1990-an bisa setara dengan 15 gram sekarang mungkin hanya lima
gram saja,” kata Hadi Subhan kepada wartawan BBC Indonesia, Selasa (29/10/2013).

Mendengar penjelasanku yang panjang itu, kaum hanya terdiam. Seolah memberikan persetujuan.

“Jadi kau besok akan tetap demo,” suaramu lebih terdengar sebagai keluhan ketimbang pertanyaan.

Aku mengangguk. Sesaat kemudian, kau ulurkan tanganmu. Seolah hendak memberikan dukungan.

Aku menyambutnya, hangat. Sesaat ketika tangan kita hendak bersentuhan, tiba-tiba sebuah suara membangunkanku. “Bi, bangun. Sudah pagi….” (Kascey)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *