Seorang peserta aksi sedang mengangkat tuntutan kenaikan upah 30% tahun 2015 dalam sebuah aksi di Jawa Timur. | Foto: Kascey
Seorang peserta aksi asal FSPMI sedang mengangkat tuntutan kenaikan upah 30% tahun 2015 dalam sebuah aksi di Jawa Timur. | Foto: Kascey

Semua daerah ring I Jawa Timur sudah merekomendasikan kenaikan upah minimum 2015. Akan tetapi, sebagai ibu kota provinsi Jawa Timur, hingga saat ini Surabaya justru belum juga menyampaikan rekomendasinya. Walikota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan pihaknya masih menunggu upah minimum provinsi DKI Jakarta.

Sikap Walikota Surabaya yang tak kunjung merekomendasikan upah minimum menyisakan banyak pertanyaan. Apalagi daerah sekitar sudah merekomendasikan upah minimum tahun 2015. Rekomendasi paling tinggi adalah usulan dari Kabupaten Gresik yang mencapai Rp 2,727 juta atau mengalami kenaikan sebesar 24,24 persen atau naik Rp 532 ribu dari UMK tahun sebelumnya Rp 2,195 juta. Di bawah Gresik, ada Kabupaten Sidoarjo sebesar Rp 2,710 juta, naik Rp 520 ribu atau sebesar 23,74 persen dari UMK sebelumnya Rp 2,190 juta. Kabupaten Pasuruan Rp2,7 juta atau naik sebesar Rp510 ribu, atau 23,29 persen dari UMK sebelumnya Rp2,190. Kemudian Kabupaten Mojokerto Rp2,697 juta atau naik sebesar Rp 647 ribu atau 31,56 persen dari UMK sebelumnya Rp2,050 juta.

Oleh karena itu, Pimpinan Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal (FSPMI) Surabaya, Herry Mardyanto, mengatakan bahwa usulan UMK 2015 Surabaya harus lebih tinggi dari usulan beberapa daerah di ring I Jatim yang mencapai Rp 2,7 juta.

“Kota Surabaya sebagai ibukota provinsi harus lebih tinggi paling tidak Rp 3 juta, karena tahun ini BBM juga akan naik,” ujarnya, Jumat (7/11/2014), sebagaimana dikutip kompas.com. (*)