IMG_00001607Aku memasuki tempat engkau dirawat dengan langkah pelan. Tetap saja khawatir akan keselamatanmu, padahal disini engkau sudah berada ditempat yang aman. Ada banyak dokter yang akan mengobati luka-lukamu. Cepatlah sembuh seperti kemarin, aku mendoakanmu selalu.

Bagaimana tak khawatir. Berita dibeberapa media online mengabarkan jika ada yang meninggal dunia akibat ulah preman yang membubarkan aksi unjuk rasa. Temanmu memberikan kabar kepadaku jika engkau salah satu yang terluka dan dibawa kerumah sakit. Syukurlah, itu kabar hanya kabar angin belaka.

Melihatku memasuki ruangan, engkau tersenyum. Aku ikut-ikutan tersenyum. Entah mengapa, senyum selalu menular.

“Kau baik-baik saja?” Tanyaku.

“Seperti kau lihat sendiri. Aku nggak apa-apa, kan? Masih tetap ganteng,” jawabmu sambil mengedipkan mata.

Ach, engkau memang selalu begitu. Suka bercanda. Bagimu kepentingan bersama yang lebih penting, sehingga tak jarang urusan pribadi sering benar tak engkau perhatikan. Tak heran jika engkau memiliki banyak kawan. Seperti kali ini, diluar, banyak sekali kawan-kawanmu yang menunggu. Meski dokter hanya mengizinkan beberapa orang saja yang boleh menemanimu diruang perawatan ini, tapi mereka dengan setia menemani.

“Sakit ya,” hanya itu yang bisa terucap dari bibirku.

Engkau menggeleng. “Bukan luka ini yang membuatku sakit, Aya. Masih lebih sakit ketika aku mulai menyadari para bandit telah menguasai negeri ini. Ketika melihat dengan mata kepala sendiri, aparatur penegak hukum tak berdaya memberikan rasa aman. Preman bisa dengan leluasa membawa samurai dan pedang untuk menumpahkan darah seorang buruh yang sedang menuntut kesejahteraan. Polisi dan tentara melakukan pembiaran…”

Engkau tak juga berubah. Selalu begitu. Ketika sudah berbicara tentang keadilan, engkau selalu bersemangat. Lukamu yang sangat parah karena dikeroyok dan dibacok preman saat aksi kemarin pagi, tak juga membuatmu ciut nyali.

“Aku memang terluka, Aya. Tapi aku baik-baik saja. Karena aku tahu, diluar sana teman-temanku akan terus berjuang…”

Mendengar itu, air mata ini mengalir. Entah mengapa, tiba-tiba aku teringat kata-katamu sebelum berangkat kerja kemarin. “Hari ini aku akan ikut mogok nasional, Aya. Doakan semoga berhasil dan menang,” katamu.

“Sudahlah, bang. Jangan ikut-ikutan,” jawabku.

Engkau menatapmu. Mendekat, dan memegang pundakku dengan erat. “Tidak Aya. Aku harus ikut. Tidakkah kau malu mempunyai suami yang hanya menunggu hasil dari perjuangan orang lain?” Katamu kemudian.

Aku terdiam. Engkau benar. Jadi aku tak akan melarang.

“Kau tahu, hari ini Mogok Nasional akan kembali dilanjutkan,” kataku, setelah beberapa saat kami terdiam.

“Benarkah?”

“Ya. Benar. Aksi besar masih akan terjadi di Jakarta, Bogor, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Sukabumi, Semarang, Batam, Medan, dll. Kawan-kawanmu akan membalas, katanya.”

Kulihat engkau tersenyum. Dan seperti biasanya, senyum selalu menular. Aku ikut tersenyum. Pengorbananmu tak akan sia-sia, kawan. (Kascey)

:: Untuk kawan-kawanku, yang menjadi korban kebiadaban preman dalam mogok nasional di Bekasi, kemarin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *