Kado Untuk Iqbal (4)

431239_3119729526546_193226425_nOleh: Obon Tabroni *)

“Ya. Siap. Oke Bang…, lapan enam.” Itulah jawaban akhir ketika saya berbeda pandangan dengan Iqbal.

Saya paham, Iqbal adalah presiden yang harus saya ikuti pandangannya. Buat saya, pemimpin tidak pernah salah. Kalau dia salah, kembali ke rumus di atas.

Meskipun saya dan Iqbal sudah sangat lama bersama-sama dalam perjuangan ini, bukan berarti diantara kami tidak ada perbedaan pandangan. Terlebih lagi karakter Iqbal adalah sosok yang sangat kuat dalam memegang prinsip. Terkadang hal ini membuatnya terlihat otoriter, tetapi sesungguhnya dia sangat demokratis. Untuk sesuatu hal yang tidak prinsip, Iqbal tidak tidak banyak ikut campur.

Tentu saja, kapasitasnya  sebagai Presiden FSPMI dan sekaligus Presiden KSPI,  mengharuskannya untuk memiliki pandangan yang lebih luas ketika memutuskan sesuatu. Sementara saya hanya dalam lingkup yang lebih sempit: Ketua KC  FSPMI Bekasi dan Ketum SPAI FSPMI.

Di puluhan situasi, bahkan mungkin ratusan, kami berbeda pendapat dan pandangan. Tentu saja,  meski ada perbedaan, jauh lebih banyak lagi persamaannya. Dan, ini yang saya syukuri: Saya dan Iqbal selalu memiliki jalan keluar untuk menyelesaikan semua perbedaan tadi.

Mari kita bicara perbedaan-perbedaan itu.

Tahun 1998, saat sedang ramai-ramainya aksi untuk menurunkan Soeharto, saya meminta ijin membawa masa ke DPR. Akan tetapi Iqbal – dengan alasan keamanan – meminta kami sebelum ke DPR mendemo SPSI terlebih dahulu, di Pasar Minggu. Karena dari sekian banyak organisasi, SPSI termasuk yang lambat merespon dan berani menyuarakan agar Soeharto lengser.

416730_415650801791667_1498816438_o

Baru-baru ini, tepatnya hari jum,at di minggu yang lalu, perbedaan pandangan itu juga terjadi antara saya dan Iqbal. Bermula dari adanya sebuah PUK yang ingin bergabung dengan SPAI FSPMI. Administrasinya sudah lengkap. Keinginan anggota untuk bergabung sudah mantap. Hanya saja, sebelumnya, sudah ada Serikat Pekerja lain yang sama-sama menjadi anggota KSPI.

Oke, proses adminstrasi itu sudah dipenuhi, yaitu dengan membuat surat pernyataan mengundurkan diri. Tentu bagi saya, sebagai Ketum SPAI FSPMI memandang PUK tersebut layak untuk bergabung.

Bergantian Saya dan Jamal (Sekum SPAI FSPMI) menyampaikan argumentasi. Saya sampaikan tentang kebebasan berserikat. Tidak boleh ada satu pun yang menghalang-halangi, ketika seorang buruh menentukan pilihannya ingin bergabung dengan serikat pekerja mana yang ia suka. Tidak etis rasanya, jika kita justru menghalang-halangi kebebasan itu.

Saya sampaikan juga, jika saat ini PUK tersebut sudah mundur dari SP yang lama. Termasuk kalau toh tidak kita rekrut, mereka bisa pindah ke SP lain. Dari sisi pengembangan, dengan masuknya PUK tersebut, kemungkinan keanggotaan di DPK dan Tripartit menjadi aman.

Tetapi tidak buat Iqbal. Iqbal memandang dari sisi yang lebih luas: “Untuk mempersatukan gerakan, terkadang kita harus mengalah,” katanya.

“Keutuhan KSPI diatas segalanya,” putusnya. Tanpa kompromi.

Saya mencoba memahami pola pikirnya. Tetapi sulit nyambung, karena saya memandang dari sisi SPAI FSPMI, sementara Iqbal dari sisi yang lebih luas lagi. Akhirnya perdebatan di sore itu saya akhiri degan sebuah kalimat: “ Oke, Bang. Entar urus ama Jamal.”

Selepas Iqbal meninggalkan ruangan, tinggal saya bengong sama Jamal. Bagaimana menjelaskan ke anggota yang sangat berharap? Bagaimana menarik SK yang sudah dibuat? Gimana…, gimana…., gimana….

Bersambung…

 

Tulisan Sebelumnya:

Kado Untuk Iqbal (1)

Kado Untuk Iqbal (2)

Kado Untuk Iqbal (3)

 

*) Tulisan ini diedit kembali oleh Kahar S. Cahyono, tanpa merubah substansi/isi

Kado Untuk Iqbal (2)

431239_3119729526546_193226425_nOleh: Obon Tabroni *)

Hingga akhirnya, Said Iqbal terpilih sebagai Sekretaris  PC SPLEM SPSI Bekasi.

Tentu saja, dengan terpilihnya Iqbal sebagai Sekretrasis di Pimpinan Cabang, kesibukannya bertambah. Ia bukan lagi semata-mata milik PUK PT. Kotobuki Elektronics Indonesia (sekarang PT. PHCI). Bahkan, sebagian besar waktunya habis untuk membantu PUK-PUK lain di Bekasi.

Kami selalu protes. Mengapa harus ngurusi orang lain. Sementara di rumah sendiri banyak kekurangan. Dalam pandangan saya saat itu, jika Iqbal fokus untuk membenahi PUK, itu akan membuat kami semua menjadi lebih baik.

Ketika mengingat kembali masa-masa itu, dalam beberapa hal saya bisa memahami jika ada yang mempertanyakan: Untuk apa solidaritas ke PUK lain? Bukanlah lebih baik PUK sendiri saja yang diberesin? Bahkan sampai-sampai ada yang tidak rela jika dari pengurus PUK-nya ada yang duduk sebagai pengurus di tingkat cabang atau pusat. Khawatir jika dia lebih konsentrasi keluar, ketimbang membantu memperbaiki yang di dalam.

Saya bisa memahami perasaan-perasaan seperti itu. Hal yang sama, seperti yang kami rasakan, dulu.

Sama seperti yang pernah kami rasakan, dulu. Dalam bahasa kami: Iqbal selalu berlayar.

Kami sempat memberikan julukan kepadanya, sebagai Nabi Nuh. Tentu saja, dengan memberikan julukan itu kami tidak bermaksud menyamakan Iqbal dengan nabi. Itu hanyalah julukan yang kami sematkan kepadanya, karena ia jarang berada di tempat, dan lebih sering berkelana dari satu PUK yang satu ke PUK yang lain. Jika saya tidak salah, di sekretariat, hingga kini masih terdapat lukisan kapal laut yang sedang berlayar. Lukisan itu sengaja kami pasang, untuk menyentil Iqbal supaya ingat pulang: Jangan berlayar terus.

Tetapi Iqbal tidak bergeming.

Ia terus berlayar. Meninggalkan kami semua.

Bahkan, pelayarannya berlanjut hingga sekarang.

Hingga satu ketika, kami menjadi sadar sendiri. Bahwa keputusannya untuk berjuang membantu PUK-PUK lain diluar sana, berdampak banyak untuk kami. Rumus itulah yang kami percaya hingga sekarang: Jika kita membantu orang lain, pada hakekatnya kita sedang membantu diri sendiri.

*  * *

Saya bersama Iqbal dan Baris Silitonga. Dalam sebuah aksi di Jakarta.

“Saya bersama Iqbal dan Baris Silitonga. Dalam sebuah aksi di Jakarta.”

Saat itu tahun 1997.

Bersama-sama dengan kawan-kawan lain di SPSI, terutama di tingkat unit kerja, kami berharap adanya perubahan di organisasi. Mulailah saya, Judi (sekarang Ketua Umum PP SPEE FSPMI), Saiful dan Nasri (sekarang masih di SPSI),  berkeliling untuk mencari serikat pekerja lain sebagai pembanding. Kami datang ke SBSI dan PPMI. Sebelumnya akhirnya, kami memilih untuk mendirikan serikat pekerja yang lebih independent: Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI).

Dalam kesempatan ini saya tidak ingin menuliskan tentang alasan prinsip, mengapa kami keluar dari SPSI dan mendirikan FSPMI. Selain karena kurang etis, saya merasa hal itu sangat subjective.

* * *

Tahun 1999.

FSPMI dideklarasikan.

Said Iqbal, dalam sebuah aksi menolak RUU ORMAS dan RUU KAMNAS. Foto: Fb Maulana Alfi Syahrin

Presiden FSPMI Said Iqbal, dalam sebuah aksi menolak RUU ORMAS dan RUU KAMNAS.  Foto: Fb Maulana Alfi Syahrin

Kesibukan Iqbal semakin bertambah. Jabatan baru sebagai Sekretaris Umum SPEE FSPMI dan Pengurus DPP FSPMI, membuat kami bertambah jauh. Iqbal menugaskan saya menjadi Ketua SPEE dan berpesan agar menjadikan Bekasi sebagai basis perjuangan. Saat FSPMI dideklarasikan, modal awal untuk bergerak tidak lebih dari 30 (tiga puluh) unit kerja. Jumlah itu total dari keseluruhan dari 3 (tiga) sektor: SPEE, SPAMK, dan SPL.

Pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai. Berbagai masalah datang silih berganti. Tantangan demi tantangan menuntut penyelesaian. Dan disitulah, peran Iqbal menjadi sangat berharga. Ia mem back-up total. Termasuk  ketika kami harus berurusan untuk pertama kalinya dengan kepolisian, karena menyandera pengusaha Jepang selama 24 jam.

Berebut Sekretariat dengan SPSI juga pernah kami lakukan. Hingga akhirnya kami harus tersingkir dan terpaksa menyewa sebuah Ruko di Bekasi Plaza. Padahal, saat itu, keuangan FSPMI belum sekuat yang sekarang.

Banyak hal-hal pahit yang lain. Mungkin pada kesempatan lain, saya ingin berbagi kesulitan itu dengan Anda. Agar Anda bisa memahami, jika organisasi ini dibangun dengan keringat dan air mata. Bahwa bukan kebetulan, jika kemudian FSPMI menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini.

Masa-masa awal yang berat itu, kami isi dengan berkeliling wilayah. Tekad kami hanya satu: Menjadikan FSPMI tetap eksis, menjadi lokomotif gerakan buruh dan mempersatukan seluruh gerakan buruh .

Selain di Bekasi, Iqbal juga menugaskan saya membangun basis jaringan baru di wilayah lain.

Saat itu 8 September 1999. Saya berangkat ke Surabaya. Masih basah dalam ingatan saya, kereta api penuh sesak. Padahal bukan masa liburan. Barulah saya sadar, hari itu bertepatan dengan tanggal 9-9-1999: Tanggal yang diramalkan sebagai datangnya hari KIAMAT.

Dalam kesempatan yang berbeda, saya berangkat ke Batam dengan menggunakan Kapal Laut. Tepat 11 September 2001. Ketika berita tentang runtuhnya Gedung WTC akibat serangan Teroris itu disiarkan,  saya berada di dalam Kapal Laut, dari Tanjung Priok menuju Batam.

Kondisi saat itu, sangat berbeda jauh dengan sekarang. Saat sekarang, bila kita akan masuk ke satu wilayah, kontak person dan tujuannya sudah ada terlebih dahulu. Siapa yang dikunjungi jelas. Bermalam dimana, sudah diatur sebelumnya.

Masa-masa itu,  ketika kita memasuki wilayah lain, tidak banyak yang memberikan dukungan. Pun anggaran yang tersedia sangat minim. Saya ingin bercerita salah satunya. Saat melakukan kunjungan ke Surabaya, turun dari Kereta Api, uang yang tersisa tidak lebih sepuluh ribu. Saat itu ada 3 kebutuhan yang sama-sama penting: makan siang, rokok, sendal jepit.

Tebak, apa yang akhirnya yang saya beli? Saya memilih untuk membeli sendal jepit.

Saat ke Batam, sedikit agak beruntung. Disana ada kawan-kawan Panasonic. Meskipun kalau siang hari makan Indomie, tetapi dimalam harinya, ada yang mentraktir makan.

Saat membantu pengembangan di Karawang pada tahun 2001, tidak begitu bermasalah. Selain karena lokasinya yang dekat dengan tempat tinggal saya di Bekasi, kami masuk melalui kawan Panasonic yang bekerja di PT. Firelli.

Saya sadar, FSPMI yang sekarang, bukan semata-mata hasil kerja saya. Itu semua bisa kita capai, karena kebersamaan dan komitment yang tinggi dari kita semua. Banyak orang-orang hebat yang telah berjuang tanpa pamrih membesarkan  organisasi ini. Pada akhirnya, saya hanya ingin mengingatkan satu pepatah lama: bahwa menjaga itu jauh lebih sulit daripada ketika mendapatkanya…

Bersambung…

 

Tulisan sebelumnya:

Kado Untuk Iqbal (1)

 

*) Tulisan ini diedit kembali oleh Kahar S. Cahyono, tanpa merubah substansi/isi

Kado Untuk Iqbal (1)

431239_3119729526546_193226425_nOleh: Obon Tabroni *)

Hingga hari ini, saya tidak pernah bisa melupakan masa-masa itu. Satu masa, ketika saya mulai berinteraksi dengan Said Iqbal. Sosok bersahaja yang kini menjadi Presiden FSPMI dan kemudian menjelma sebagai tokoh buruh berkelas dunia. Penghargaan De Febe Elizabeth Velasquez Trade Union Award yang baru saja diterimanya, adalah bukti nyata bahwa ia telah menorehkan karya nyata sebagai pembebas buruh yang tertindas.

Saat itu awal tahun 90-an, ketika kawan-kawan PT. Kotobuki Elektronics Indonesia (sekarang PT. PHCI) melakukan aksinya yang pertama. Dan dalam aksi yang pertama itulah, awal saya melihat kepemimpinan Iqbal.

Aksi memang tidak berlanjut. Tetapi interaksi saya dengan Iqbal terus terajut. Apalagi setelah Iqbal dan Vony akan di PHK.

Ketika itu, jumlah pekerja di PT. Kotobuki Elektronics Indonesia kurang lebih sebanyak 700 orang. Iqbal menjadi leader di Final Departemen. Sementara saya adalah maintenance di Painting & Molding. Komitment Iqbal terhadap kesejahteraan kaum buruh sudah terlihat sejak dulu. Nyatanya, meski sudah menjadi leader, Iqbal berani berdiri di garis terdepan memimpin aksi.

Saya mulai aktif dalam serikat.

Tanggung jawab saya yang pertama adalah membantu pengurus di bidang pendidikan sebagai biro. Kondisinya belum  seperti yang kita lihat sekarang. Jangankan sekretariat. Lemari arsip pun belum kami miliki. Meskipun begitu, tidak sedikitpun mengurangi semangat kami untuk melakukan kerja-kerja organisasi.

Kami sudah terbiasa melakukan meeting di sela-sela tumpukan kardus spare part Matrial Departement. Itu pun kami lakukan pada saat istirahat sore atau sepulang kerja. Perusahaan belum mengijinkan kami menggunakan jam kerja untuk menjalankan aktifitas serikat pekerja.

Konsep PKB yang pertama, juga kami rumuskan dari balik tumpukan kardus di sela jam istirahat. Lama kami menjalani masa-masa sulit itu. Tetapi tanpa saya sadari, justru kesulitan-kesulitan itulah yang membuat kami semakin kuat dalam melangkah. Tidak membuat kami menjadi cengeng dan mudah menyerah  ketika menghadapi masalah.

471002_491312814221449_1577616051_oHingga satu ketika, perusahaan memberikan kami sekretariat. Jangan kira itu ruangan mewah yang dilengkapi alat pendingin. Apa yang kami sebut sebagai sekretariat itu, tidak lain adalah bekas bedeng project yang sudah ditinggalkan. Di tempat yang baru ini,  kami bukan hanya meeting tentang serikat pekerja. Kami juga berdiskusi agar perusahaan tetap eksis, produktifitas tinggi, karyawan yang tidak disiplin dan absensi tinggi kami ingatkan, program perusahaan yang bertujuan meningkatkan produktifitas kami dukung, kami selalu diingatkan jika perusahaan adalah ladang kami yang harus kami jaga. Tentu saja, kami pun sering mengingatkan perusahaan kalau mereka keluar dari aturan dan kebiasaan

Waktu berjalan.

Pasca MUSNIK, posisi saya bukan lagi sebagai biro, tetapi menjadi pengurus . Tanggung jawab pun bertambah. Tanggung jawab pertama saya di pengurus adalah sebagai Team Perundingan Kalender Kerja. Kemudian berlanjut untuk perundingan bonus, kenaikan upah dan Asuransi Kesehatan.

Oh, ya. Kali ini saya akan menceritakan sesuatu yang paling saya ingat ketika pertamakali harus mengabil keputusan tentang bonus. Sehari sebelumnya, team sudah menyepakati beberapa hal terkait konsep, strategi dan personal yang akan ikut dalam perundingan. Jadwal perundingan pun sudah disepakati dengan pihak perusahaan. Sehabis istirahat sore, jam 16:00 WIB.

Dari jam 13:00 kami sudah siap.

Akan tetapi, hingga jam 14.00 Iqbal belum datang.

Akhirnya dengan menggunakan pager (saat itu belum ada HP) kami mengontak Iqbal. Lega. Saat mendapat jawaban jika Iqbal sedang  OTW.

Jam 15:30. Belum datang!

Jam 16:00. Ini waktu yang telah disepakati, bahwa perundingan akan segera dimulai. Tetapi Iqbal belum datang juga.

Saat itulah kami sangat gelisah. Panik. Tanpa kehadiran Iqbal, kami tidak cukup memiliki kepercayaan diri untuk berargumentasi dengan pihak perusahaan. Apalagi perundingan kali ini akan mengambil keputusan penting untuk 7000-an anggota kami.

Jam 16:30, terdengar panggilan di  speaker dari personalia. Bahwa kami semua di tunggu di Meeting Room.

Saya mengupat. Hati berdebar tak karuan. Panas dingin. Tapi okelah, show must go on.

Siapa sangka, itu menjadi pengalaman pertama berunding dengan Presdir. Memutuskan sesuatu yang berat tanpa Iqbal, yang sebelumnya memang sudah terbiasa melakukan hal-hal seperti ini. Meski suasana perundingan sempat memanas, akhirnya kami bisa menyelesaikan itu dengan baik.

374217_2167804803155_1431565387_n

Wajah tanpa dosa itu. Saya tidak akan pernah bisa melupakannya. Betapa tidak, Iqbal hanya tertawa ketika bertemu kami, selepas perundingan yang menegangkan itu terjadi.

Namun dari situ, saya mendapatkan pelajaran yang berharga. Akhirnya saya memahami, terkadang untuk mengkader seseorang, harus terlebih dahulu dijerumuskan.

Setelah itu kami mulai berani berjalan sendiri. Meskipun tanpa Iqbal. Saya pikir, itulah sebabnya mengapa kita berorganisasi. Kita harus mulai terbiasa untuk tidak hanya bergantung pada seseorang. Siapa pun boleh keluar-masuk organisasi ini, tetapi cita-cita perjuangan harus tetap dilanjutkan.

Banyak keputusan strategis yang kami buat setalah itu. Termasuk Asuransi Kesehatan. Berbekal pengalaman kelahiran anak pertama saya yang bermasalah di Rumah Sakit, saya bertekad cukup saya yang mengalami. Kami berjuang. Hingga akhirnya, pada tahun 1997 di tempat kami bekerja, wanita punya hak menanggung suami dan anak. Meskipun suami masih bekerja. Semua biaya ditanggung. Tanpa limit.

 

Bersambung…

*) Tulisan ini diedit kembali oleh Kahar S. Cahyono, tanpa merubah substansi/isi

Said Iqbal Presiden FSPMI

”Berikut Ini adalah Petikan Naskah Pidato Presiden Buruh Indonesia (Presiden FSPMI & KSPI) di Kongres FNV di Belanda”.

Presiden FSPMIPertama-tama atas nama FSPMI, KSPI, dan Buruh Indonesia saya mengucapkan terimakasih kepada FNV yang telah mengundang kami dalam acara ini.
Sebuah kebahagian bagi saya membagi nilai-nilai perjuangan yang dilakukan buruh Indonesia dalam 5 tahun terakhir, Indonesia menjadi Negara penting di G20 contries. Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi No. 2 di seluruh dunia (setelah china), GDP nya no. 16 di seluruh dunia (U$ 800 bilion), Invesmentgrade AAA min, rating hutang turun, sumber alam berlimpah: minyak, gas, emas, pangan, hutan, semua ada di Indonesia.
Tapi mari kita lihat kondisi buruh nya yang bertolak belakang:
• Rata-rata upah minimum nasional 2012=U$120 perbulan, upah buruh Indonesia No. 69 dari 169 negara. Misal di Jakarta ibu kota Indonesia pada 2012 upah buruh nya US $160 per bulan (ongkos transportasi dan sewa rumah US $90, sisa US $70 per bulan untuk biaya makan, biaya pendidikan, beli baju dan lain-lain, hal ini adalah irrasional), untuk menutupi biaya hidup, maka buruh mencari tambahan dengan jadi tukang ojek, bahkan ada buruh perempuan yang menjual kue setelah pulang kerja.
• Jaminan kesehatan biayanya sangat limit dan buruh harus membayar tambahana biaya bila sakit, buruh perempuan yang melahirkan harus mencari tambahan untuk membiayai persalinan bahkan anak bayinya di tahan di RS sebelum di penuhi biaya persalinan tersebut. Masih adanya diskriminasi jaminan sosial, buruh hanya mendapat jaminan kesehatan saat bekerja saja dan itupun terbatas US $ 600 per tahun, dan kalau sudah tidak bekerja maka tidak ada jaminan kesehatan bahkan ada anak seorang buruh meninggal karena di tolak di 7 rumah sakit. Buruh tidak dapat jaminan pensiun selama puluhan tahun bekerja (hanya ada 0,05% buruh yang dapat dana pensiun).
• Ada 16 juta buruh Outsourcing melalui agen, tanpa jaminan kesehtan, tanpa jaminan pensiun, upah di bayar di bawah upah minimum dan kapan saja bisa di PHK.
Oleh karena itu gerakan buruh di pelopori FSPMI dan KSPI bersama serikat lainnya melakukan perjuangan untuk memastikan tidak boleh ada lagi istri buruh menangis menunggu suaminya pulang dari tempat kerja karena tidak ada uang untuk membeli susu anaknya, buruh diusir dari kontrakanya karena tidak cukup gajinya.
Saya selalu mengatakan kalau ada orang tidak bekerja atau menganggur menjadi miskin maka itu wajar sehingga Negara member subsidi. Tapi kalau ada orang bekerja 30-40 tahun tapi tetap miskin, bahkan membeli susu anaknya saja tidak mampu ini tidak wajar. Oleh karena itu kami melawan kebijakan upah murah. Tidak boleh ada lagi perbudakan dalam bentuk Outsurcing tanpa ada masa depan. Ini adalah persoalan tentang keadilan, kemanusiaan, dan persamaan bukan persoalan tentang kebencian kepada orang kaya atau pemilik modal, buruh punya hak mendapatkan makan dan pendidikan yang baik, buruh perempuan punya hak yang sama dalam upan dan jaminan sosial, dan tidak boelh ada lagi istri buruh yang menitikan air mata hanya karena tidak mampu untuk membeli susu untuk anaknya. Hamper 15 tahun kamu berjuang untuk itu. Lebih intensif tahun 2007 kami mulai menggalang persatuan perjuangan kaum buruh Indonesia untuk focus pada 3 isu yaitu, sotp upah murah, reformasi sistim jaminan sosial dan hapus outsourcing. Strategi yang kami pakai untuk memperjuangkan 3 isu tersebut adalah C-L-A (consep-lobby-action). Dipelopori FSPMI dan KSPI kami membuat konsep terhadap 3 isu tersebut. Kemudian konsep tersebut kami bawa untuk lobi/dialog ke parlemen, pemerintah, asosiasi pengusaha, tokoh agama, dan yang paling penting adalah saya keliling Indonesia menemui ratusan ribu buruh Indonesia untuk menjelaskan, membangun kesadaran dan berjuang bersama terhadap 3 isu tersebut. Saya temui mereka di pabrik, rumah, warung-warung makan bahkan di atas jembatan, saya berpidato dihadapan ribuan buruh. Setiap saya datang ke daerah pasti diintai oleh intelejen polisi dan intelejen Negara, bahkan beberapa preman selalu mengintai saya. Maka kami melakukan aksi-aksi di seluruh Indonesia. Bebapa contoh aksi yang kami lakukan:

• Dalam perjuangan reformasi jaminan sosial, para buruh long march jalan kaki 300 KM selama 6 hari terus menerus siang malam sambil mengumpulkan tanda tangan petisi rakyat untuk diserahkan kepada Presiden RI, hasil nya terkumpul 500.000 tanda tangan rakyat dan buruh yang setuju agar dilaksankan Social Security Reform.
• May Day setiap tahun 100 ribu buruh aksi ke Istana presiden dan parlemen, bahkan May Day 2013 diikuti 150 ribu buruh ke istana dan 1 juta buruh Rally May Day di seluruh Indonesia untuk terus menerus focus mengangkat 3 isu tersebut.
• Terkadang kami aksi menginap di parlement pusat dan daerah.
• Kami juga kampanye melalui Koran, media on line (website,fb,twiter,blog gll) bulletin buruh, debat di televise, buruh perempuan membuat acara khusus perempuan dan media massa sangat mendukung isu ini.
• Puncak nya, tanggal 03 oktober 2012 FSPMI dan KSPI sebagai pelopor bersama serikat pekerja lainya melakukan mogok nasional yang diikuti oleh 4 juta buruh di seluruh Indonesia.
Dan akhirnya kami menang, pemerintah & parlemen setuju memenuhi 3 isu tuntutan buruh tersebut yaitu:
1. Pemerintah dan parlemen sudah menandatangani Undang-Undang baru tentang reformasi jaminan sosial, yaitu seluruh rakyat Indonesia berhak mendapatkan Jaminan Kesehatan seumur hidup termasuk buruh (saat bekerja maupun tidak bekerja beserta keluarganya berhak mendapakan jaminan kesehatan seumur hidup) dengan biaya unlimited untu semua jenis penyakit (tidak ada lagi diskriminasi), pengusaha wajib membayar dana Pensiun kepada buruh dengan iuran berasal dari pengusaha & buruh.
2. Mulai tahun 2011-2012 dan seterusnya pemerintah menyatakan Stop Kebijakan Upah Murah, ini terlihat seperti tahun 2012 upah buruh naik 40%-80% (padahal inflasi = 4,6 dan pertumbuihan ekonomi = 6.4%), naik sekitar US $ 60- US $90 per bulan (padahal biasanya upah hanya naik US $ 10-$15 perbulan). Untuk tahun ini kami sedang berjuang naik upah sekitar 30-50% lagi.
3. Pemerintah mengeluarkan peraturan baru pada 2012 yaitu pengusaha dilarang menggunakan pekerja outsourcing di Indonesia kecuali untuk 5 jenis Industri (CL, Driver, Catering, Security, Jasa Penunjang Pertambangan atau Perminyakan), ini berarti ada 6 juta buruh berubah statusnya (60% buruh perempuan) menjadi pekerja tetap, dan ada 10 juta buruh kontrak langsung oleh perusahaan, tidak boleh melalui agen outsourcing. 16 juta buruh akan memiliki jaminan kesehatan, dana pensiun, upah minimum, serta punya masa depan yang jelas.
Tetapi semua hasil diatas tidak dengan mudah kami dapatkan, sejumlah pengusaha membiayai preman untuk menganiaya dan melakukan tindakan kekerasan kepada buruh, bahkan buruh perempuan diperlakukan dengan sexual harasement dijalan, rumah-rumah buruh didatangi preman dan oknum polisi untuk melakukan intimidasi. Sekelompok preman membawa pisau dan pedang mendatangi posko buruh di Bekasi, Karawang, Jakarta, Tangerang, Batam, medan dan lain-lain, sehingga buruh terluka dan oknum polisi membiarkan dan tidak ada proses hukum.
Rumah buruh didatangi para preman dengan melakukan intimidasi. Pemogokan diperusahaan diserang oleh sekolompok ornag dengan melakukan intimidasi kekerasan dan polisi membiarkan saja. Setelah mogok nasional, 4 orang buruh di penjara di Surabaya dan Bandung dan 12 buruh lainya di bogor diancam di penjara. Saya pun di ancam akan di penjara karena memimpin mogok nasional.
Sebagai Presiden Buruh, saya datangi markas pusat polisi dan markas pusat polisi daerah untuk membebaskan buruh-buruh yang di penjara tersebut. Dan bahkan saya datangi kantor Badan Intelejen Negara, akhirnya mereka dilepaskan karena aksi buruh semuanya damai dan sesuai konstitusi.
Setiap aksi besar buruh selalu berhadapan dengan polisi dan tentara dilapangan.
Sayapun dan istri selalu diancam oleh preman akan dibunuh, tapi selalu saya katakan kepada para preman tersebut ‘’anda boleh saja bertindak kekerasan kepada saya bahkan mengambil nyawa saja, tapi anda semua tidak akan bisa membeli saya dan menghentikan keadilan, kemanusian dan perdamaian yang sedang kami perjuangkan’’.
Sekarang ini pemerintah dan parlemen, sedikit demi sedikti sudah mau merubah kebijakan untuk lebih memberikan kesejahteraan jaminan sosial, upah layak, menghapus sistim kerja outsourcing dan mereka mengakui gerakan Serikat Buruh menjadi lebih kuat dalam pembangunan bangsa, walaupun Asosiasi Pengusaha masih resisten. Saya selalu mengatakan kepada kaum buruh Indonesia ‘’Tegakanlah keadilan walau langit akan runtuh hari ini’’.
‘’Sebaik-baiknya manusia di dunia adalah mereka yang bermanfaat untuk hidup orang lain’’. Terakhir saya ingin menyampaikan kepada kita semua ‘’Tuhan tidak akan mengubah nasib sekelompok orang, kecuali sekelompok orang itu mau berusaha untuk mengubahnya sendiri’’.
Terimakasih. Tuhan bersama Kita.
Special Thanks:
Terimakasih Presiden FNV & selamat kepada pengurus FNV yang baru terpilih, terimakasih Jyrki Raina & Industri All, Sharan Barrow & ITUC serta ITUC AP, Ruth Vermeuleun & FNV Mondial.
Dan terimakasih Buruh Indonesia, FSPMI, KSPI & Keluarga Saya..

Suparno B Sekretaris Jenderal FSPMI

KATA PENGANTAR DPP FSPMI

Bismillahirrohmanirrohim,
Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat dan KaruniaNya sehingga bisa diterbitkannya buku panduan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia yang berisikan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga , Plat Form yang didalamnya terdapat 9 Program Kerja Utama ,5 Pilar Pendukung , 10 Strategi Perjuangan , 6 Issu Prioritas Perburuhan dan Rekomendasi sebagai hasil dari permusyawarahkan dan keputusan dalam Kongres IV Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia pada bulan Pebruari 2011 di Bandung.

Buku panduan ini diharapkan selalu dibaca, dipahami dan dijadikan pedoman konstitusi, program kerja dan rekomendasi organisasi bagi seluruh Pengurus dan seluruh anggota Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia dalam menjalankan hak dan kewajibannya sesuai dengan fungsi, tugas dan kewenangannya masing-masing demi terbangunnya organisasi Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia yang lebih Dinamis ,Demokratis dan Solid agar bisa memberikan pelayanan yang optimal pada seluruh anggotannya .

Kita semua menyadari tantangan organisasi kedepan makin berat baik karena faktor luar maupun dari dalam organisasi karenanya sebagai organisasi yang modern akan terus berupaya mengikuti perkembangan dinamika industri dan ketenagakerjaan.Permasalahan Kebebasan Berserikat ,Upah Murah ,Pekerjaan yang tidak jelas ( Precarious Works ), lemahnya pengawas ketenagakerjaan dan juga Jaminan Sosial jadi tantangan bagi para aktivis organisasi dalam rangka memberikan Jaminan Kepastian Pekerjaan ,Jaminan Perlindungan Upah dan Jaminan Sosial bagi para anggota FSPMI .Ketaatan anggota pada organisasi khususnya terkait iuran anggota yang selama ini sudah cukup baik harus juga ditingkatkan agar bisa dibangun organisasi yang Dinamis ,Demokratis dan Independen Organisasi yang maju haruslah taat pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Pengurus dan Fungsionaris yang amanah juga harus didukung oleh pendanaan yang kuat .Pilihan untuk terus bergerak di pabrik dan dipublik tentu membutuhkan semangat Solidaritas dan terus berjuang tanpa kenal lelah karenanya dengan adanya 5 pilar pendukung diharapkan 9 program kerja utama dan 6 issu perburuhan dapat diperjuangkan dengan 10 strategi perjuangan .
Dewan Pimpinan Pusat Federsi Serikat Pekerja Metal Indonesia menghaturkan terima kasih kepada semua pihak,baik fungsionaris organisasi dan anggota yang banyak memberikan saran ,ide dan gagasan saat Kongres IV FSPMI juga semua yang telah berperan aktif sejak penyusunan sampai buku ini dapat diterbitkan.
SELAMAT BERJUANG !!! SALAM SOLIDARITAS SELALU

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Jakarta, 1 Juni 2011

DEWAN PIMPINAN PUSAT
FEDERASI SERIKAT PEKERJA METAL INDONESIA

SUPARNO B
Sekretaris Jenderal