Upah murah… Kalau kelak anak-anak bertanya mengapa dan aku jarang pulang. Katakan. Ayahmu tak ingin jadi pahlawan. Tapi dipaksa menjadi penjahat oleh penguasa yang sewenang-wenang.

Kalau mereka bertanya, “apa yang dicari?” Jawab dan katakan, dia pergi untuk merampok haknya yang dirampas dan dicuri. (Wiji Thukul)

 

Nak, hari ini untuk yang kesekian kalinya bapakmu ini pulang hingga larut malam. Engkau sudah lelap ketika bapak datang. Lampu ruang tamu sudah dimatikan oleh ibumu.

Bapak mencium pipimu, dan dirimu tak bergeming. Entah apa yang sedang kau impikan saat ini. Barangkali tentang robot dan mobil-mobilan, yang dirimu minta beberapa hari lalu dan hingga saat ini belum sempat bapak belikan. Engkau menangis, meraung-raung, hampir saban hari, menagih janji bapakmu ini kapan akan merealisasikan janji. Bukannya bapak tak sayang padamu, Nak. Tetapi memang tak ada uang untuk membelikan mainan itu.

“Bapak mau kemana?” Tanyamu tadi pagi sebelum berangkat.

“Bapak mau demo ke Istana Negara. Meminta Presiden SBY menaikkan upah buruh 50 persen,” jawab bapak.

“Kalau upah naik bisa beli mobil-mobilan, ya, Pak?”

“Iya, kalau gaji naik buat beliin adik mobil-mobilan.” Suaraku tergetar.

“Bapak bohong. Tiap berangkat demo bilangnya agar upah naik. Tapi kenyataannya tak pernah membawa uang setiap kali pulang.”

Aku terdiam. Kalimat anakku menjadi tamparan keras. Membuatku limbung dan tak mampu berkata apa-apa. Dia tak salah, memang. Karena seperti itulah kenyataan yang sebenarnya. “Bapakmu tak pernah dirumah. Pasti tiap gajian uangnya sekarung,” pernah ia mengadu. Ada tetangga yang berkata demikian.

Nak, kelak engkau akan mengerti apa yang bapakmu ini perbuat. Bapak ikut demo bukan karena dibayar. Tidak untuk mendapatkan uang. Bahkan harus urunan untuk membayar bus. Sering ditempat aksi tidak makan, karena hanya membawa uang pas-pasan. Terkadang bahkan memakai uang belanja ibumu, agar bapak bisa ikut berjuang.

Bapak ingin memastikan, engkau tak lagi mewarisi situasi ini. Dimana pengusaha membayar buruh-buruhnya dengan harga yang sangat murah. Jangan hiraukan mereka, Nak.

Kuceritakan kepadamu tentang ini. Mungkin bukan saat ini engkau akan mengerti. Barangkali sepuluh atau dua puluh tahun lagi. Tetapi ingatlah baik-baik, apa yang bapak katakan hari ini.

Pernah ada yang mengejek bapak, juga teman-teman bapak, ketika kami memperjuangkan agar kenaikan upah di tahun 2013 kemarin melebihi angka 2 juta. Mereka bilang, tidak mungkin upah buruh lebih dari 2 juta. Mimpi.

Dan ketika upah tembus 2,2 juta, tidak ada tuh yang bilang: Hei serikat buruh. Upah saya cukup 1,7 juta saja. Sisanya buat Anda…

Mereka selalu begitu, Nak.

Sedari dulu.

Satu contoh lagi, misalnya, ketika kami berjuang agar 1 Mei menjadi hari libur nasional. Mereka juga mencibir. Dan ketika saat ini 1 Mei sudah ditetapkan sebagai hari libur, dengan tak tahu malu mereka ikut-ikutan  ‘merayakannya’. Justru olok-olok mereka semakin membuat kami bersemangat untuk membuktikannya. Mereka lupa, bisa bekerja 8 jam sehari atau 40 jam seminggu, adalah juga kerena perjuangan serikat pekerja.

Jadi jangan lagi bertanya, apakah Bapak membawa uang atau tidak malam ini. Karena bapak pergi untuk merampok haknya yang dirampas dan dicuri. (*)

 

Categories: Puisi dan Fiksi

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *