Aji 2Mari kita bicara tentang diri saya sebagai caleg yang direkomendasikan oleh FSPMI.

Sejujurnya saya katakan, pada mulanya saya tidak tertarik dengan politik. Bahkan cenderung anti. Seperti kebanyakan orang yang menjauh dari politik, saya menganggap politik itu kotor, politik itu jahat, politik itu curang dan lain sebagainya.

Akan tetapi, semua pemikiran negative terhadap segala hal yang berlabel politik itu hilang setelah saya belajar ke Omah Tani, Batang. Apalagi disana, bersama kawan-kawan petani, saya mendapatkan pemahaman yang utuh tentang politik. Politik itu memang akan menjadi kotor, jahat, curang, jika berada di tangan orang-orang yang tidak memiliki kepedulian pada manusia dan kemanusiaan. Tetapi jangan lupa pada satu hal, bahwa segala kebijakan yang menyangkut hajat hidup masyarakat, ditentukan oleh proses politik itu sendiri.

Bagaimana mungkin kita bisa berperan maksimal untuk membuat kebijakan yang pro rakyat jika kita tidak bersedia bersinggungan dengan politik?

Bukankan ketika kita memperjuangkan lahirnya UU BPJS, itu adalah kegiatan politik? Bukankah perjuangan hapus outsourcing, tolak upah murah, dan penetapan UMK adalah perjuangan politik?

Jelas sekali, semua itu adalah bagian dari kerja-kerja politik. Kalau begitu, yang sebenarnya terjadi adalah kurangnya pemahaman terhadap politik. Oleh karena itu, ketika FSPMI memutuskan untuk “Go Politik”, harus dimaknai sebagai kesadaran bersama, bahwa organisasi ini juga aktif memperjuangkan kebijakan ditingkat publik yang berpihak kepada rakyat. Bukan semata-mata untuk bisa menempatkan wakil-wakilnya untuk duduk di lembaga-lembaga politik.

Kita tidak mau selamanya menjadi penonton, bukan?

Sejak saat itulah, saya menemukan jawabannya. Berpolitik itu sebuah keniscayaan. Ia harus menjadi keharusan. Dan oleh karenanya, kita tidak boleh hanya menjadi penonton saat ‘pertarungan’ politik digelar.

Karena itulah, ketika FSPMI meminta saya untuk maju sebagai caleg, saya tidak menolak. Saat ini saya tercatat sebagai Caleg DPRD II Kabupaten Bekasi untuk dapil 3 (Tambun Selatan). Saya menjadi caleg dari Partai nomor 8, Partai Amanat Nasional. Caleg nomor urut 8.

“Jangan lupakan angka 388”. Karena itu adalah angka keramat, untuk bisa mengingat saya dengan cepat.

Ketika seseorang menjadi anggota legislative, dia dapat terlibat – bahkan menginiasi – pembuatan Undang-undang/Perda dibidang ketenagakerjaan yang berpihak kepada kaum buruh. Ini jangan dibaca untuk ‘menghancurkan pengusaha’, sama sekali tidak ada maksud kesana. Jika buruh sejahtera, toh yang akan diuntungkan adalah pengusaha. Karena ia akan mendapatkan tenaga kerja yang terampil dan penuh dedikasi, disamping masyarakat akan memiliki daya beli yang tinggi.

Saya adalah salah satu orang yang percaya, ketika kaum buruh mendapatkan perlindungan atas hak-haknya dan bisa meraih kesejahteraan, maka perekonomian bangsa ini dapat lebih baik dari yang sekarang. Ketika daya beli masyarakat, maka dengan sendirinya akan mempercepat gerak roda perekonomian.

Tersedianya jaminan bagi masyarakat pekerja diluar hubungan kerja, seperti pendidikan dan kesehatan, saya kira juga bagian dari produk politik. Seorang caleg yang berasal dari aktivis buruh, saya kira akan lebih mengerti dan menjiwai permasalahan pekerja. Apalagi, selain menjadi buruh, ia juga bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat. Setidaknya mereka lebih mengetahui apa dan bagaimana solusi atas permasalahan yang ada karena ikut merasakannya.

Politik juga berarti pertarungan atas berbagai kepentingan. Jika mayoritas yang duduk sebagai anggota dewan adalah pengusaha, jangan salahkan jika orientasi kebijakannya adalah yang menguntungkan pengusaha. Jangan salahkan wakil rakyat yang tak pernah mau peduli terhadap isu-isu perburuhan yang selama ini kita hadapi. Bagaimana mereka mau peduli, jika memang tidak mengerti? Apalagi jika kita yang mengerti pun, tidak juga mau ambil peduli.

Hal kedepan yang ingin saya lakukan adalah memberikan perlindungan hukum kepada mereka yang membutuhkan. Dalam bayangan saya, wujud konkret untuk memberikan perlindungan hukum tersebut adalah dengan membentuk Lembaga Bantuan Hukum. Tidak hanya untuk membantu kaum buruh yang sedang menghadapi perselisihan hubungan industrial, tetapi juga mengadvokasi masyarakat umum dalam  hal mendapatkan fasilitas kesehatan, pendidikan, perumahan, dsb.

Saya kira harapan itu tidak berlebihan. Semua hal yang saat ini bisa kita capai berawal dari sebuah cita-cita, bukan? Itulah cita-cita saya. Semoga pada saatnya nanti, hal ini bisa saya wujudkan. (kascey)

 

Berita Terkait:

Aji: “Karena Hidup Harus Bermakna”

Aji: “Kita Memang Harus Berpolitik?”

Aji: “Berserikat Bukan Sekedar Menghitung Untung dan Rugi”

One Thought on “Aji: “Kita Memang Harus Berpolitik?””

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *