Gambar

Gambar diambil dari SINI

Anda kenal dengan Hadji Oemar Said Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa?

Jika Anda belum mengenalnya, HOS Tjokroaminoto adalah sosok yang memiliki pemikiran dan pengaruh sangat besar. Begitu besarnya, ia bahkan  dijuluki sebagai “Raja Tanpa Mahkota”. Pun dari tangan dinginnya lahir tokoh-tokoh perjuangan yang kemudian dicatat dalam sejarah: Soekarno, Musso, Kartosoewiryo, dan Hamka.

Soekarno adalah bapak proklamator sekaligus presiden pertama Indonesia, Musso adalah tokoh pendiri Partai Komunis Indonesia, Kartosoewiryo adalah tokoh pendiri Negara Islam Indonesia, dan Hamka adalah ulama besar, politikus, serta sastrawan. Terlepas dari ketokohan mereka, ini yang terpenting: mereka semua adalah penulis!

Tjokroaminoto menulis di beberapa media seperti Sendjata Pemoeda, Oetoesan Hindia, dan Fadjar Asia. Isinya kebanyakan membahas masalah tauhid, terkadang ada juga kritik terhadap karakter bangsa. Gaya tulisannya – juga pidatonya – banyak ditiru oleh Soekarno.

Soekarno pun mengikuti jejak gurunya, menulis di Oetoesan Hindia. Ia menulis kritik terhadap penjajah Belanda dan menceritakan kondisi bangsa yang terjajah. Kata-katanya lugas dan terkadang tajam. Cenderung berapi-api seperti halnya ketika ia berpidato.

Berbeda dengan Soekarno, Musso menuliskan ide-ide komunisnya melalu media Belanda, yaitu Handelsblad. Media itu ia dirikan bersama salah seorang sahabatnya yang bernama Franciscus Sneevliet, seorang tokoh sosialis radikal asal Belanda.

Bagaimana dengan Kartosoewiryo? Ia juga menulis di media Fadjar Asia. Tema yang diusung adalah Islam dalam sudut pandang yang tegas, bahkan cenderung radikal. Selain penulis, ia pun menjadi redaktur media tersebut.

Mohammad Natsir pun menulis. Ia banyak menuangkan pemikiran-pemikirannya di media Pembela Islam. Isinya bertemakan Islam, mulai dari urusan fiqih, politik, sampai masalah kebangsaan.

Tan Malaka juga demikian. Ia menuliskan pemikiran-pemikiran sosialisnya di media Soeara Rakjat. Bahkan, ia pun menulis sebuah buku dengan judul “Sovjet dan Parlement”. Di situlah ia banyak mempengaruhi orang-orang dengan ide sosialisme-nya.

Hamka? Jangan ditanya. Sebagai seorang sastrawan besar Indonesia, tentunya sangat banyak tulisan-tulisannya. Meskipun ada beberapa novel yang bersifat umum, seperti “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” dan “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, kebanyakan tulisannya mengusung tema Islam.

Mereka adalah tokoh pergerakan yang menggunakan tulisan sebagai alat perjuangan. Mereka tidak hanya sekedar “berbicara” lewat tulisan, tapi juga diwujudkan dengan aksi nyata melalui organisasi pergerakan. Tulisan mereka murni lahir dari hati dan pikiran. Terkadang mereka mengkritik, tapi membangun. Jauh dari caci maki, jauh dari menjelek-jelekkan lawan politik, dan jauh dari kesan angkuh. (Tulisan ini bersumber dari artikel Andri Saleh yang berjudul Mereka Yang Berjuang Lewat Tulisan)

UNDANGAN MENULIS

Menyadari bahwa tulisan bisa menjadi alat perjuangan, dengan ini Tim Media FSPMI mengundang kawan-kawan untuk menuliskan gagasan, pengalaman pribadi atau orang-orang terdekat seputar dunia ketenagakerjaan. Bisa juga laporan kegiatan serikat pekerja. Tulisan bisa berbentuk curah pendapat, surat terbuka, artikel, cerpen, bahkan bisa juga dalam bentuk puisi. Tulisan ini nantinya akan kami terbitkan di Website FSPMI:  fspmi.or.id

Tulisan dikirimkan ke alamat e-mail berikut: infokomburuh@gmail.com

Tulisan anda, akan menjadi catatan berharga. Sumbangsih kaum buruh untuk Indonesia yang lebih baik. Kami tunggu partisipasinya. (*)

 


1 Comment

nhanha · November 1, 2016 at 11:16 am

Boss sya nana sya mau curhat tntng pbrk sya yg g jelass mslh byarannya ini harus gmna y.?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *