IMG-20131028-WA015Beberapa jam kemudian, sekian ribu detik kemudian, lelaki itu nampak murung. Ia duduk lesu di sudut kamar kontrakannya yang sempit. Di luar sunyi. Sepi. Hujan sore tadi mampu menghipnotis banyak orang dan membuat mereka tertidur pulas.

Namun mata lelaki ini tak bisa terpejam. Ia lelah. Seharian kehujanan. Tapi hati dan fikirannya tak bersedia diistirahatkan.

“Akhirnya Jokowi menandatangani UMP DKI Jakarta sebesar Rp. 2.441.301,” bisiknya dalam hati.

Tentu saja, upah yang telah diputuskan masih jauh panggang dari api. Mengejutkan, bahkan. Apalagi penandatanganan itu dilakukan bersamaan dengan aksi buruh melumpuhkan kawasan industri.

Tak mengherankan jika kemudian buruh bergerak serentak dari kawasan-kawasan industri menuju Walikota DKI Jakarta. Memang seperti inilah hukum alam kehidupan: Cita-cita harus diperjuangkan, harapan harus diwujudkan.

Kecewa, jangan ditanya, itu pasti. Tetapi kekecewaan itu tak sampai membuatnya bersikap apatis dan putus asa.

“Jokowi harus merevisi besarnya UMP DKI Jakarta,” suara dalam hatinya terdengar kembali. Tetapi ia tak bisa jika melakukannya sendiri.

“Ayo teman-teman, sekarang kita berkumpul lagi untuk kemudian kita atur barisan lagi memperjuangkan semua hak-hak kita!” Masih terekam dalam ingatannya, ketika Koordinator aksi Muhammad Toha memberikan instruksi di Balaikota, Jakarta Pusat, semalam.

Setelah mendengar komando tersebut, bersama-sama, para buruh mulai meninggalkan lokasi unjuk rasa dengan menggunakan sepeda motor dan bus. Seperti yang lain, lelaki itu ikut meninggalkan Balaikota dengan satu keyakinan, dalam waktu dekat ini akan kembali lagi.

“Kami mundur karena kami ingin mengatur strategi yang lebih baik lagi, supaya kami bisa memperjuangkan dan memenangkan tuntutan kami pada akhirnya,” ujar Toha.

Lelaki itu percaya, matahari masih akan terbit hari ini. Seperti halnya hari-hari yang akan terus melaju, perjuangan memang harus dilanjutkan. Kerja belum selesai. Perjalanan belum sampai. Dan cerita perjuangan kaum buruh yang bergerak ke jalan-jalan masih akan terus terjadi. Sampai kapan? Sampai nanti, ketika Tuhan memutuskan tak akan lagi terbit matahari. (Kascey)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *