Di Kompas edisi 6 September 2008 Mohamad Sobary menulis, kepalsuan demi kepalsuan perilaku para tokoh mendominasi kita setiap detik, setiap menit, setiap jam dalam hari-hari yang terpolusi iklan yang mengumbar kata-kata normatif, klise, bohong, disertai foto orang-orang narsistik yang dipajang dimana-mana tetapi tak memberi inspirasi apa-apa… Selembar daun apakah yang kini sedang menutup nalar kritis seluruh bangsa sehingga kita begitu nrimo dinistakan seperti ini?

Mengikuti Seminar di Jakarta

Mengikuti Seminar di Jakarta

… Dalam hidup modern, yang gugup, tergesa-gesa, dan serba instan, seluruh kesadaran kita terbelenggu oleh “citra” buatan itu… Haruskah kita mempercayai kesimpulan yang tampak logis bahwa kini perkembangan kesadaran politik bangsa kita baru sampai tahap mengagumi foto, kata-kata, dan tampilan “rapi jali” buatan salon, tetapi sama sekali – dan dengan sendirinya – tak memiliki otentisitas tentang pemimpin dan kepemimpinan?

Tidak. Nalar politik bangsa kita tidak senaif itu…

Pendeknya kita tahu, politik pencitraan itu barang palsu, sepalsu permainan panggung drama modern dan lenong atau ketoprak. Tampilan “rapi jali” bedak dan gincu itu bukan identitas sejati mereka…

Saya kira, aktivis buruh yang masuk ke gelanggang politik tidak memiliki cukup uang untuk melakukan pencitraan seperti itu. Pun tidak terfikir untuk membeli suara. Mereka adalah orang-orang yang selama ini fokus pada kerja-kerja nyata. Orang-orang yang percaya bahwa perubahan itu bisa diwujudkan jika kita memang bersedia ikut berpartisipasi untuk merubahnya. Bukan sekedar janji-janji.

Bagi saya, politik adalah untuk perubahan. Bukan sekedar merebut kursi agar disebut “wakil rakyat yang terhormat.”

Mari kita lihat apa yang saat ini terjadi. Dalam setiap aksi yang kita lakukan, boleh dikatakan itu adalah aksi yang besar karena banyaknya massa yang ikut dalam aksi tersebut. Akan tetapi disaat penentuan kebijakan, seringkali aspirasi kaum buruh ditelikung. Mengapa hal ini terjadi? Salah satunya adalah karena tidak adanya wakil dari kaum buruh yang ada didalam parlement.

Sepulang dari mengawal kenaikan UMK Kab. Bintan

Sepulang dari mengawal kenaikan UMK Kab. Bintan

Jika saja ada wakil buruh yang menjadi anggota legislatif dan eksekutif, niscaya mereka akan berada digarda terdepan untuk memperjuangkan kepentingan buruh. Itulah yang saya maksud, bahwa politik adalah untuk perubahan. Bukan untuk gagah-gagahan.

Peran yang bisa dilakukan seorang anggota legislatif salah satunya adalah fungsi budgeting.  Tentu saja, berbicara tentang budgeting adalah berbicara tentang keberpihakan. Berbicara tentang hal apa yang aka didanai oleh kas APBN/APBD. Seorang aktifis buruh yang kemudian menjadi anggota dewan, saya kira akan memperjuangkan agar anggaran yang ada bisa peruntukan dengan tepat untuk kesejahteraan rakyat. Bebicara Batam, misalnya, karena daerah ini adalah mayoritas buruh, bisa dibaca untuk meningkatkan kesejahteraan kaum buruh dengan jalan memperjuangkan alokasi anggaran yang memadai untuk kepentingan kaum buruh,.

Pengawasan juga bisa dilakukan dengan lebih maksimal jika ada wakil rakyat yang peduli pada rakyat. Disamping harus ada upaya yang sungguh-sungguh agar pembuatan Undang-undang (DPR)  atau Perda (DPRD) mencerminkan kepentingan umum. Bukan elit tertentu.

So, kita tidak boleh berhenti hanya sebatas pada wacana. Apa yang selama ini kita perjuangan, baik di tingkat pabrik maupun publik, sangat terkait erat dengan kebijakan yang dibuat penguasa.Oleh karena itu, jika kita ingin melakukan perubahan secara komperhensif, pilihannya adalah dengan merebut kekuasaan itu secara konstitusional.

Diakhir tulisan ini, izinkan saya mengutip kalimat Aristoteles yang terkenal itu. “Anda, para penulis retorika, terutama penggelora emosi. Ini memang baik. Tetapi ucapan-ucapan Anda lalu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tujuan retorika yang sebenarnya adalah membuktikan maksud pembicaraan dan menampakkan pembuktiannya. Ini terdapat pada logika. Karena retorika hanya menimbulkan perasaan.”

Saya kira, saya tidak sedang memberikan janji manis untuk pencitraan diri. Saya hanya menceritakan kembali apa yang saya kerjakan selama ini. Kemarin saya buruh. Saat ini pun sebagai buruh. Esok atau lusa, saya akan tetap berjuang bersama buruh. Inilah komitment saya. (kascey)

 

Berita Terkait:

Suprapto: “Bekerja Adalah Kerhormatan, Jangan Mau Direndahkan.”

Suprapto: “Jangan Mau Remehkan Serikat Pekerja Sebab Kita Akan Membutuhkannya”

Suprapto: “Politik Itu Untuk Perubahan”


1 Comment

Suprapto: “Jangan Remehkan Serikat Pekerja Sebab Kita Akan Membutuhkannya” · August 2, 2013 at 2:28 pm

[…] Suprapto: “Politik Itu Untuk Perubahan” […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *