Mengulas tentang kehidupan saya sebagai aktivis serikat buruh yang juga menjadi calon anggota legislative dalam Pemilu 2014, tidak bisa tidak, ingatan saya akan melayang pada suatu masa 10 tahun silam. Saat itulah, untuk pertamakalinya saya mendapatkan kesempatan istimewa dengan menjadi pekerja.

Memberikan semangat kepada kawan-kawan PUK FSPMI PT. Sumitomo

Memberikan semangat kepada kawan-kawan PUK FSPMI PT. Sumitomo

Bagi saya, bekerja adalah kesempatan yang istimewa. Bekerja membuat keberadaan kita memiliki harga. Pekerjaan juga yang membuat hari-hari kita menjadi bermakna. Maka tak salah jika kemudian ada orang yang bilang, lebih baik capek karena bekerja ketimbang capek karena menjadi pengangguran.

Pekerjaan adalah kehormatan.

Didalam pekerjaan yang kita lakukan itulah kita memberikan konstribusi. Ingat, perusahaan mempekerjakan karyawan bukan karena belas kasihan melihat banyaknya pengangguran. Perusahaan mempekerjakan karyawan, karena memang mereka membutuhkan tenaga untuk menggerakkan mesin-mesin yang ada di pabrik mereka. Oleh karena itu, tidak boleh ada seorang pun yang merendahkan. Termasuk majikan.

Saya memasuki dunia kerja sejak bulan Februari 2003, dengan menjadi karyawan outsourcing PT. Indomobil Suzuki International (PT. ISI), Plant Sepeda Motor, Tambun – Bekasi. Di perusahaan ini, saya hanya bertahan 10 (sepuluh) bulan, hingga bulan Desember 2003. Tetapi dalam kurun waktu 10 bulan itulah, banyak kenangan yang tak terlupakan.

Jadi saya tahu betul suka duka menjadi karyawan outsourcing. Bukan hanya dari cerita, karena saya sendiri pernah mengalaminya.

Disanalah saya merasakan sendiri duka lara menjadi karyawan outsourching atau sering di sebut karyawan yayasan yang tidak mempunyai jaminan masa depan. Pengalaman ini juga yang kemudian menjadikan saya bersemangat ketika Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) mengangkat isu “hapuskan outsourcing”.

Di PT. ISI juga, untuk pertamakalinya saya mengenal FSPMI. Hanya sebatas kenal. Karena status saya sebagai karyawan outsourcing, saya tidak ikut menjadi anggota serikat. Ketika itu, memang tidak pernah terfikirkan buruh outsourcing akan menjadi anggota serikat pekerja. Mereka hanya berfikir kerja sebaik-baiknya agar dalam kontrak yang akan datang diperpanjang.

Sesederhana itu. Jika dipecat, cari kerja lagi. Sehingga boleh dikata, pekerjaan utama kami adalah mencari pekerjaan. Menjadi karyawan tetap bagi buruh outsourcing hanyalah sebatas mimpi. Setidaknya saat itu, sebelum gerakam “Hostum” menjadi populer dinegeri ini.

Latsar Garda Metal Batam 1

Latsar Garda Metal Batam 1

Maka ketika mendapat tawaran untuk bekerja di PT. Hantong Precision Manufacturing (PT. HPM) Batam, tanpa berfikir panjang langi, langsung saya terima. Kebetulan gaji yang ditawarkan lebih tinggi jika dibandingkan dengan gaji yang saya terima di PT. ISI. Dan yang terpenting, status saya bukan lagi sebagai karyawan outsourcing.

Meskipun demikian, saya menyebut periode 2003 s/d 2008 di PT. HPM Batam merupakan masa-masa sulit. Banyak kesusahan yang kami alami. Banyak kebijakan yang dibuat secara sepihak oleh perusahaan. Sementara untuk menegosiasikan apa yang menjadi aspirasi karyawan tidak ada yang memiliki keberanian. Ketika itu di perusahaan ini belum memiliki serikat pekerja.

April 2009, barulah kami memutuskan untuk membentuk serikat pekerja. Bersama dengan temen-temen, saya mendatangi kantor Sekber FSPMI Batam yang terletak di Ruko Panbill. Ketika itu yang menemui saya adalah Bung Agus Sriyono.

Dikarenakan perusahaan kami memproduksi Metal Stamping, maka kami di arahkan bergabung dengan FSPMI di sektor Serikat Pekerja Logam (SPL FSPMI). Dalam Musnik I  sebenarnya saya tidak bisa hadir, kerena harus mengikuti kegiatan lain yang tidak bisa ditinggalkan. Dikarenakan saat itu tidak ada yang bersedia menjadi ketua PUK, akhirnya saya dipilih menjadi Ketua PUK pertama di PT. HPM Batam dengan cara ditelepon. Posisi sebagai Ketua PUK SPL FSPMI PT. HPM itu masih saya embam hingga sekarang.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya juga dipercaya oleh organisasi untuk duduk sebagai Sekretaris Konsulat Cabang FSPMI Kota Batam dan sekaligus Panglima Koordinator Daerah (Pangkorda) Garda Metal Kota Batam. Bagi saya jabatan itu adalah amanah yang harus saya jaga. Prinsip saya, “Hidup hanyalah menunggu giliran mati maka gunakanlah yang berarti”.

Apalagi pada dasarnya saya adalah orang yang senang berorganisaisi. Saat masih berseragam putih abu-abu, saya adalah seorang Ketua OSIS SMUN 1 Gondang, Sragen (1995 s/d 1996). Selanjutnya menjadi anggota Senat Mahsiswa Universitas Diponegoro (1998) dan Ketua Forum Mahasiswa Sragen (1998 s/d 2000). Ketika masih di Sragen, saya juga menjabat sebagai Sekretaris Cabang Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia Kera Sakti (IKS PI KS) Sragen (2000 s/d 2002) yang kemudian dilanjutkan hingga saat ini, sebagai Sekretaris Cabang Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia Kera Sakti (IKS PI KS) Kota Batam (Tahun 2009 s/d Sekarang).

Apa yang saya capai sekarang, tidak lepas dari dukungan keluarga. Terutama istri saya Siti Fatimah. Dari pernikahan kami, saya dikarunia seorang buah hati, Cahaya Fajar Alifiandra Putra. Kami menempati sebuah rumah di Puri Agung 3 Blok B3 No 61. Kelurahan Mangsang, Kecamatan Sei Beduk – Kota Batam.

Hari-hari saya disibukkan dengan kegiatan serikat pekerja. Pun saya sendiri adalah seorang pekerja. Jika boleh saya menyampaikan harapan. Harapan itu adalah adanya perubahan dalam pengambilan kebijakan dan adanya pengawasan yang optimal terhadap Pemeritah Kota Batam. Tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan bagi saya, daripada terwujudnya cita-cita kaum pekerja untuk mendapatkan kesejahteraannya. Hal itu hanya bisa diwujud, jika kaum buruh berpolitik dan memiliki kesadaran politik. (kascey)

 

Biodata Singkat:

Nama Lengkap: Suprapto

Nama Panggilan: Bung Prapto

Tempat Tanggal Lahir: Sragen, 28 April 1979

Alamat Rumah: Puri Agung 3 Blok B3 No 61. Kel. Mangsang, Kec. Sei Beduk Kota Batam.

Istri: Siti Fatimah

Anak: Cahaya Fajar Alifiandra Putra

Hoby: Survival & Naik Gunung

Semboyan hidup: “Hidup Hanya Menunggu Giliran Mati Maka Gunakanlah Untuk Yang Berarti”

 

Berita Terkait:

Suprapto: “Bekerja Adalah Kerhormatan, Jangan Mau Direndahkan.”

Suprapto: “Jangan Mau Remehkan Serikat Pekerja Sebab Kita Akan Membutuhkannya”

Suprapto: “Politik Itu Untuk Perubahan”


3 Comments

DEVI SUSANTI · January 12, 2019 at 8:22 pm

Terimakasih sharing nya.
Kaum buruh berpolitik gimana ya maksudnya?

Suprapto: “Jangan Remehkan Serikat Pekerja Sebab Kita Akan Membutuhkannya” · August 2, 2013 at 2:28 pm

[…] Suprapto: “Bekerja Adalah Kerhormatan, Jangan Mau Direndahkan.” […]

Suprapto: “Politik Untuk Perubahan” · August 2, 2013 at 2:34 pm

[…] Suprapto: “Bekerja Adalah Kerhormatan, Jangan Mau Direndahkan.” […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *