Hari ini buruh kembali turun ke jalan. Mereka akan melakukan aksi unjuk rasa ke Istana Negara dan Mabes Polri. Terdapat 7 (tujuh) tuntutan yang disampaikan, salah satunya adalah meminta kepolisian untuk menangkap dan memenjarakan aktor intelektual serta pelaku kekerasan dalam mogok nasional pada tanggal 31 Oktober 2013 yang lalu.

Federasi Serisuratkat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), menduga, aktor intelektual dibalik penyerangan, penganiayaan, dan dugaan percobaan pembunuhan adalah Ketua Umum dan Sekretaris Umum ASPELINDO, Hartono dan Budiyanto.

Tentu saja, dugaan ini bukannya tanpa beralasan. Berikut beberapa data yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Media, yang kemudian mengarah adanya dugaan bahwa otak intelektual penyerangan buruh yang sedang melakukan mogok kerja adalah Ketua Umum dan Sekretaris Umum ASPELINDO:

1. Adanya gerakan terorganisir dari ASPELINDO untuk menolak rencana mogok nasional, salah satunya dengan melakukan unjuk rasa ke Rumah Buruh pada tanggal 24 Oktober 2013. Sebelumnya beredar SMS yang diduga berasal dari Budiyanto, yang pada intinya pergerakan tanggal 24 Oktober 2013 adalah tanggungjawab bersama, “berat sama dipikul ringan sama dijinjing”. Dimana gerakan itu membutuhkan pembiayaan pencetakan bender, stiker, dll.

2. Adanya pertemuan antara Muspida, SP/SB, Ormas, LSM, dan Masyarakat untuk mengantisipasi mogok nasional di Kabupaten Bekasi  yang diselenggarakan di Hotel Grand Zurry pada tanggal 26 Oktober 2013. ASPELINDO adalah salah satu Ormas yang ikut hadir dalam pertemuan tersebu.

3. Terdapat surat yang diduga berasal dari ASPELINDO kepada Pimpinan Perusahaan di Bekasi, yang isinya antara lain: “Agar memanggil pengelola limbah yang ditunjuk perusahaan saudara agar mengerahkan massa sebanyak minimal 20 orang untuk menjaga asset perusahaan saudara dari gangguan pihak manapun baik gangguan pekerja didalam perusahaan saudara maupun gangguan provokasi dari pihak luar.”

bantai“Dengan adanya lebih dari 3.500 perusahaan/pabrik dan sedikitnya 500 orang Pengusaha Limbah di Kabuapaten Bekasi, maka jika kita kompak menghadirkan 20 orang per perusahaan tenaga pengamanan pam swakarsa yang disiapkan pengusaha limbah untuk masing-masing pabrik yang mereka kelola, maka akan ada tenaga pengamanan tambahan sekitar 10.000 s/d 70.000 orang yang secara siap siaga menghalau siapapun yang akan melakukan tindakan-tindakan yang berpotensi merusak asset perusahaan kita masing-masing,” tulisnya didalam surat tersebut. Surat yang diduga berasal dari ASPELINDO ini ditandatangani oleh Ketua Umum ASPELINDO Hartono, MF Sekretaris Umum ASPELINDO Budiyanto, S.Pi dan diketahui HM. Kunang sebagai Pembina ASPELINDO.

4. Terdapat spanduk yang bertuliskan, “ASPELINDO. Anda Sweeping, Kami Bantai.” Kata ‘bantai’ dalam kamus besar bahasa indonesia artinya adalah daging (binatang yang disembelih). Kalimat itu bisa juga diartikan sebagai akan adanya pembataian, yaitu pembunuhan secara kejam dengan korban lebih dari seorang. Maka tak berlebihan, jika kalangan buruh menduga percobaan pembunuhan terhadap buruh memang sudah direncanakan.

5. Beberapa orang yang terlibat dalam penganiayaan, misalnya penganiayaan di PT. EJIP, juga terlihat saat ASPELINDO melakukan aksi unjuk rasa ke Rumah Buruh.

6. Dalam pemberitaan dimedia online beritabekasi.co tanggal 7 November 2013 disebutkan jika Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin mengaku kecewa dengan Asosiasi Pengusaha Limbah Indonesia (Aspelindo). Kepada wartawan, Bupati mengatakan, “Saya sudah bertemu dengan Hartono waktu itu di Hotel President Club (PEC), Jababeka. Ditempat itu, Hartono yang merupakan ketua Aspelindo sepakat berjanji tidak akan anarkis saat aksi itu, tapi pada kenyataan justru berbeda,” jelasnya (*)


1 Comment

Evaluasi dan Bergerak Kembali · November 30, 2013 at 6:29 am

[…] penjara. Aktor intelektualnya pun, juga harus dimintai pertanggungjawaban. “Dugaan kita, aktor intelektual dibalik peristiwa perusakan, pengeroyokan dan penganiayaan buruh di Bekasi pada saat berlangsungnya mogok nasional adalah Ketua […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *