Massa aksi KSPI sehabis melakukan aksi di DPR RI bergerak menuju Istora Senayan untuk mengikuti Dialog Kebangsaan (Senin, 21 Oktober 2013). Foto: Kascey

Massa aksi KSPI sehabis melakukan aksi di DPR RI bergerak menuju Istora Senayan untuk mengikuti Dialog Kebangsaan (Senin, 21 Oktober 2013). Foto: Kascey

Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke Bekasi. Kunjungan saya ke kota seribu industri ini dalam rangka melakukan diskusi mendalam terkait dengan rencana penulisan buku memorial gerakan serikat buruh. Sebuah buku yang nantinya akan kita dedikasikan kepada orang-orang yang telah mengikhlaskan dirinya berjuang untuk meningkatkan harkat dan martabat kaum pekerja.

Mereka menjadi korban. Pukulan balok besi hingga tebasan parang telah membuatnya roboh bersimbah darah. Mereka bahkan harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit selama beberapa hari. Namun ini yang menjadikannya istimewa: mereka tidak memposisikan dirinya sebagai korban.

Mereka tidak mengiba. Tidak pula meratapi nasibnya.

Mereka adalah korban yang melawan.

Selama dua hari di Bekasi, saya menanyakan kepada beberapa orang yang saya temui. Apakah peristiwa kekerasan terhadap buruh membuat nyali mereka runtuh? Jawaban inilah yang kemudian membuat saya terharu. “Bukan ancaman preman yang kami takuti. Tetapi eksploitasi terhadap buruh oleh pemilik modal lah yang membuat kami tak takut mati,” ujar seseorang, yang tak sempat saya tanyakan namanya.

Saya tidak tahu, kalimat itu dikutip dari mana. Tetapi saya tahu kalimat itu tulus. Apalagi faktanya, mereka — buruh Bekasi itu — hingga hari ini masih terus bergerak. Dari Bekasi, saya  sempat mengikuti rapat di Sekretariat DPP bersama-sama dengan kawan-kawan PP SPAI FSPMI dan PC SPAI FSPMI Bekasi terkait dengan agenda tindak lanjut penyelesaian kasus Indofarma dan Kalbe Farma. Dalam rapat itu, mereka bahkan merencanakan aksi dan perlawanan yang simultan. Dengan katan lain, kekerasan tidak bisa menghentikan langkah mereka: semakin ditekan, ia akan semakin bangkit dan melawan.

Presiden FSPMI Said Iqbal pun sudah menyatakan dengan tegas, bahwa isu perburuhan 2014 ini salah satunya adalah terkait dengan tuntutan agar aktor intelektual pelaku penganiayaan buruh saat mogok nasional (31 Oktober 2013) segera diadili. Meskipun peristiwa kekerasan itu terjadi beberapa bulan yang lalu, namun kita tak akan pernah menganggapnya basi. Dalam setiap saat, dalam setiap kesempatan, kita akan terus menyampaikan tututan itu. Suara ini, barangkali, akan terus menghantui mereka. Kapanpun dan dimanapun mereka berada.

Saya tahu, perjuangan kita tidak akan mudah.

Seperti yang disampaikan bung Oji, musuh kita bukan sekedar Aspelindo. Pun bukan sekedar pihak kepolisian yang saat ini terkesan melakukan pembiaran terhadap kekerasan yang menyebabkan jatuhnya banyak korban. Bisa jadi, ini adalah “permainan” Negara. Negara yang tidak lagi mencintai rakyatnya. Negara yang memilih berkolusi dengan para pemodal untuk melanggengkan kekuasaan.

Pada akhirnya, memasuki tahun 2014 ini, saya ingin mengingatkan kembali. Bahwa kita memiliki momentum. Kita memiliki kesempatan untuk melakukan pergantian rezim. Kita memiliki kekuatan untuk menjadi penentu. Itulah sebabnya, buruh tidak boleh lagi buta terhadap politik. Sekarang. Dan selamanya. (Kascey)

 

Categories: Opini

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *