Konsolidasi Nasional Gerakan Buruh ( foto : Budi Wardoyo )

Konsolidasi Nasional Gerakan Buruh ( foto : Budi Wardoyo )

Konsolidasi Nasional Aktivis Buruh yang diselenggarakan di Gedung Joeang memang sudah berlalu. Meskipun begitu, pertemuan itu tidak akan berhenti sampai disitu. Semangatnya tentu akan terus menyebar dan melekat dalam ingatan banyak orang. Tidak saja bagi mereka yang datang secara langsung, tetapi juga bagi mereka yang mendengar dan mengetahui adanya pertemuan bersejarah itu.

Saya termasuk yang optimis, spirit dari pertemuan itu akan terus meluas. Ibarat bebijian, dia akan menyebar kemana angin membawanya. Ditempat baru itu ia akan tumbuh dan dengan cepat menghasilkan bibit yang baru. Menghasilkan tunas yang baru, dan akan terus tumbuh di daerah-daerah yang selama ini sunyi dan sepi.

Tak bisa dicegah. Karena apa yang disebut semangat itu, sesungguhnya kasat mata. Kehadirannya bisa dirasakan, tetapi wujudnya tak bisa diraba. Anda bisa lihat, segera setelah deklarasi mogok nasional pada tanggal 28, 29, dan 30 Oktober 2013 dikumandangkan, beritanya segera menyebar. Baik melalui media massa dan jejaring sosial.

Bagaimana kau akan menghentikannya? Di 20 Provinsi dan lebih dari 200 Kabupaten/Kota, jutaan orang akan meneriakkan tuntutan yang sama: naikkan upah50 persen, jalanankan jaminan kesehatan untuk seluruh rakyat per 1 Januari 2014 dan hapuskan outsourcing.

Dan, ini yang penting. Bukan hanya sehari, tetapi akan dilakukan dalam beberapa hari secara berturut-turut.

Terima Kasih Pak Sofjan, Engkau Sudah Memberikan Semangat Bagi Kami Untuk Membuktikan Mogok Nasional Ini Bukan Sekedar Gertak Sambal. Dan Kami Akan Membuktikannya, Dengan Sebaik-baiknya, Sehormat-hormatnya.

Lepas dari itu semua, saya pikir, kita juga harus berterima kasih pada Ketua Apindo Sofjan Wanandi. Sebab dia telah menyiram bensin didalam “Api Perlawanan” yang mulai membesar ini, sehingga nyalanya semakin berkobar. Seperti dikutip detikFinance, Sofjan meremehkan ancaman mogok nasional ini. Dari kalimatnya, Sofjan bahkan terkesan memprovokasi.

“Kalau dia mau mogok, kita nggak bisa apa-apa. Nggak banyak Said Iqbal punya buruh. Mereka paling banyak mobil dan elektronika. Kita sudah tanya ke buruh kita, selama ini juga rencana mogok nggak ada yang jadi, silahkan saja mogok produksi, tapi siapa yang mau bayar buruh nanti,” ujar Sofjan Wanandi dengan santai kepada detikFinance, Senin (30/9/2013).

Dalam kesempatan yang sama, Sofjan juga berkata, “Dia (maksudnya Said Iqbal) punya serikat kerja kecil, cuma ngomongnya doang gede,” ucap Sofjan.

Ketua Apindo itu lupa, jika seruan mogok nasional itu tidak hanya disampaikan oleh serikat buruh yang dipimpin oleh Said Iqbal.

Sekali lagi, kita berterima kasih atas hal ini. Sebab “Tantangan” Sofjan membuat buruh semakin serius dalam menyiapkan mogok nasional. Di media sosial banyak orang yang ramai membicarakan hal ini. Salah satunya mengatakan, “Sofjan Wanandi akan menuai badai atas ucapannya itu. Siapa menanam angin, dia akan menuai badai.” Sementara yang lain menimpali, “lo jual gua borong.”

Seharusnya yang dilakukan penguasa dan pengusaha atas deklarasi mogok nasional itu adalah segera memanggil pemimpin buruh untuk berdiskusi guna membahas tuntutan yang disampaikan. Bukannya menantang dan mempersilakan mogok nasional dilakukan. Apalagi, tuntutan kenaikan upah 50 persen itu juga bukannya tanpa dasar.

Jika pola pikir itu yang dipakai, saya kira bukannya melemah, buruh akan semakin bersemangat untuk membuktikan janjinya. (Kascey)

 

Categories: Opini

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *