Said Iqbal

Saya rasa kita semua sepakat, bahwa partai buruh yang kelak akan didirikan oleh kaum buruh, harus lahir dari kepentingan dan keinginan buruh itu sendiri. Buruh harus ditanya – semacam jajak pendapat – apakah kaum buruh membutuhkan partai politik?

Menurut saya, partai politik adalah keniscayaan. Tetapi prosesnya harus melibatkan buruh.

Itu pun tidak bisa dengan serta-merta buruhnya dilibatkan dalam proses itu. Sebelum serikat buruh memutuskan untuk masuk dalam konstelasi politik, tiga tahapan berikut ini harus dilalui terlebih dahulu: pengorganisasian, pengidiologisasian, dan kontestansi. Pada titik inilah pendirian partai politik kemudian dilakukan.

Pertama. Pengorganisasian

Kalau Anda tidak pernah berbicara tentang upah, jaminan sosial, transportasi murah, lalu tiba-tiba Anda tawarkan partai politik kepada kaum buruh, saya sangat yakin buruh akan menolak. Mereka tidak memandang partai politik sebagai satu hal yang harus dibutuhkan dalam perjuangan mereka.

Ajak mereka dalam proses perjuangan upah. Libatkan dalam mengorganisir aksi-aksi yang didanai dari iuran sendiri.

Serikat buruhnya didik jangan sampai terbeli.

Karena itu, serikat buruh harus punya iuran sendiri. Saya membayangkan, kalaupun kita mendirikan partai politik, maka partai yang kita dirikan itu juga memiliki iuran dari anggotanya. Sehingga agenda perjuangan mereka tidak ada yang bisa menghadang karena buruhnya bergerak diatas kakinya sendiri.

Kedua. Pengidiologisasian

Setelah pengorganisasian, baru kita masuk pada pengidiologisasian. Disini buruh mulai diajarkan tentang idiologi, teori-teori tentang klas dari berbagai aliran. Kesadaran bahwa buruh adalah sebuah klas yang tersendiri harus dibangun.

Organisasinya serikat buruhnya harus kuat terlebih dahulu.

Bayar iuran saja belum, mengorganisasi buruhnya juga belum, lalu mau bikin partai?

Darimana partai itu akan menghidupi dirinya sendiri?

Akhirnya yang terjadi adalah transaksional.

Kita harus membuat serikat pekerja kuat terlebih dahulu. Memiliki iuran, punya program, kader yang cukup, baru kemudian mereka akan mengatakan, bahwa buruh perlu partai politik untuk melindungi dan memperkuat perjuangan mereka secara politik.

Ketiga. Kontestansi 

Kalau organisasi sudah rapi, pendanaan cukup, ada kader yang cukup, memiliki program dan kemudian idiologinya jalan, barulah kita masuk kontestansi. Kontestansi adalah titik terakhir, ketika program pengorganisasian dan program pengidiologisasian selesai.

Kontestansi ini haruslah dimaknai sebagai partai politik. Agar kaum buruh bisa masuk kedalam proses electoral. Menjadi peserta dalam pemilu untuk memasukkan kader-kadernya kedalam ruang pengambilan keputusan dan ikut menentukan arah bangsa.

Slogannya adalah, independent but not neutral.

Serikat buruh harus tetap independent. Dia bukan underbow partai politik. Kalaulauh akhirnya serikat buruh melahirkan partai politik, maka setelah itu serikat buruhnya kembali independent. Dia tidak boleh menjadi kepanjangan tangan dari partai yang didirikannya itu.

Meskipun demikin, serikat buruhnya tidak boleh netral. Ketika pemilu, serikat buruh harus ikut mengorganisir suara kaum buruh untuk memenangkan partai yang mereka dirikan itu. (Kascey)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *